Bandung (Paradiso) – Suasana malam yang sejuk di kawasan perbukitan kaki Gunung Manglayang menjadi saksi kemeriahan perayaan Alkasyaf Universe: Milad ke-13 Pesantren Yatim dan Dhuafa Al Kasyaf yang berlokasi di Blok Sukamaju, Cimekar, Cileunyi, Kabupaten Bandung.
Pesantren yang berdiri megah di atas hamparan perbukitan hijau dengan panorama alam yang asri itu tampak dipadati para santri, masyarakat, tamu undangan, dan pemerhati budaya. Berbagai seni pertunjukan santri ditampilkan sebagai bagian dari perayaan milad. Namun, puncak perhatian publik tertuju pada penampilan istimewa seorang dalang cilik berbakat, Aden Azka Asstroberi Putra, atau yang akrab disapa Aden Azka Ajen, binaan Maestro Wayang Ajen, Ki Dalang Wawan Ajen.
Malam itu, aula serbaguna pesantren berubah menjadi ruang perjumpaan antara seni, budaya, pendidikan, dan dakwah yang menyatu dalam sebuah pertunjukan wayang golek yang memukau.
Dalang Cilik Aden Azka Ajen
Acara diawali dengan sesi edukatif bertajuk Ngoprek Wayang Golek, yang menampilkan dua dalang cilik, yakni Aden Azlan Ajen (5 tahun) dan Icen Ajen (9 tahun), dengan pendampingan Dalang Aming Ajen.
Melalui bahasa Sunda dan Indonesia yang komunikatif, para dalang cilik memperkenalkan berbagai aspek dasar dunia pewayangan kepada para santri. Mereka memperagakan teknik memainkan wayang, mengenalkan karakter tokoh, hingga memperlihatkan bagaimana sebuah cerita dapat dihidupkan melalui gerak, suara, dan ekspresi.
Antusiasme para santri begitu tinggi. Gelak tawa, tepuk tangan, dan rasa penasaran terlihat sepanjang sesi berlangsung. Tidak sedikit santri yang berkesempatan mencoba memainkan wayang secara langsung.
Kegiatan ini menjadi bentuk edukasi budaya yang efektif sekaligus upaya mengenalkan warisan budaya Nusantara kepada generasi muda sejak dini.
Cepot Masantren dalam Lakon Prabu Kalamurka
Memasuki pukul 20.00 WIB, suasana aula semakin khidmat ketika Dalang Cilik Aden Azka Asstroberi Putra tampil membawakan pertunjukan wayang golek garap padat berjudul:
“Cepot Masantren dalam Lakon Prabu Kalamurka”. Naskah dan penyutradaraan pertunjukan tersebut digarap langsung oleh Ki Dalang Wawan Ajen.
Sebagai pembuka pertunjukan, Aden Azka melantunkan Murwasuci, doa pembuka dalam tradisi sanggit pedalangan Wayang Ajen yang dipanjatkan sebagai bentuk permohonan kepada Alloh SWT agar pertunjukan berjalan lancar dan membawa keberkahan.
Sejak kemunculan pertamanya di panggung, perhatian penonton langsung tertuju pada sosok dalang cilik tersebut. Dengan penuh percaya diri, Aden Azka menghidupkan tokoh-tokoh wayang melalui gerak yang lincah, ibing yang dinamis, sabetan perang yang cekatan, suluk yang sesuai laras, serta antawacana yang jelas dan komunikatif.
Penonton berkali-kali memberikan tepuk tangan meriah sebagai bentuk apresiasi atas kemampuan luar biasa yang ditunjukkan oleh dalang cilik tersebut.Terutama saat adegan tokoh panakawan muncul seperti Cepot, Dawala, dan Gareng.
Penampilan Aden Azka mendapatkan apresiasi luas dari pengasuh pesantren, pengelola, pengajar, santri, hingga masyarakat yang hadir. Pengasuh Pesantren Yatim dan Dhuafa Al Kasyaf, Prof.Dr. KH. Geovani Van Rega atau yang akrab disapa Mang Geo, mengaku sangat terharu dan bangga.
“Saya sangat kagum. Di usia yang masih sangat muda, Aden Azka mampu menampilkan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan menginspirasi. Wayang golek yang dibawakannya sarat nilai akhlak, dakwah, dan pendidikan karakter. Ini menjadi bukti bahwa seni budaya dapat menjadi media pembelajaran yang sangat efektif bagi generasi muda.”
Menurut Mang Geo, pertunjukan tersebut menunjukkan bahwa budaya dan pendidikan Islam dapat berjalan beriringan dalam membangun peradaban yang berkarakter.
Sementara itu, Pengelola Pesantren, Bunda Hj. Christiyanti Nour MA, menyampaikan rasa bangga atas suksesnya kegiatan tersebut.
“Luar biasa. Anak-anak terlihat sangat bahagia, belajar sambil menikmati pertunjukan. Aden Azka bukan hanya memainkan wayang, tetapi juga menyampaikan pesan kehidupan yang sangat bermakna. Ini menjadi pengalaman berharga bagi para santri.”
Hal senada disampaikan oleh pengajar pesantren, Mis Dini Destari, “Saya melihat para santri begitu fokus menyimak. Mereka belajar tentang akhlak, kepemimpinan, keberanian, dan nilai-nilai kebaikan melalui cerita yang dibawakan. Metode seperti ini sangat efektif dalam pendidikan karakter.”
Salah seorang pengunjung, Dedi, mengaku terkejut melihat kemampuan dalang cilik tersebut.
“Awalnya saya mengira ini hanya pertunjukan anak-anak biasa. Tetapi setelah menyaksikan langsung, saya benar-benar kagum. Gerakan wayangnya hidup, dialognya jelas, dan pembawaannya sangat percaya diri, ini benar-benar pertunjukan wayangnya sangat hidup dan punya greget padahal dalangnya masih anak usia 9 tahun”
Kekaguman serupa disampaikan oleh Dewi Yanti. “Saya merinding ketika mendengar Murwasuci dibawakan oleh Aden Azka. Penampilannya sangat matang. Sulit dipercaya bahwa yang tampil adalah anak seusianya. Ini bakat luar biasa yang harus terus dikembangkan.”
Di kalangan santri sendiri, pertunjukan tersebut memberikan kesan mendalam. Avicenna Caesar Zeroun Rega, salah seorang santri Al Kasyaf, mengaku semakin tertarik mempelajari seni pewayangan. “Saya baru pertama kali melihat wayang golek secara langsung. Ternyata sangat seru. Saya jadi ingin belajar memainkan wayang.”
Sedangkan Hasan Ismail menilai cerita yang dibawakan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Pesan tentang kebaikan, menghormati orang tua, belajar agama, dan tidak sombong sangat mudah dipahami. Saya senang bisa belajar sambil menikmati pertunjukan.”
Keberhasilan penyelenggaraan acara ini tidak terlepas dari visi besar Pesantren Yatim dan Dhuafa Al Kasyaf yang terus berkembang sebagai model pendidikan pesantren inovatif, kreatif, adaptif, dan implementatif.
Di bawah kepemimpinan visioner Prof. Dr. KH. Geovani Van Rega, pesantren ini tidak hanya fokus pada pendidikan keagamaan, tetapi juga mengembangkan pendidikan sosial, budaya, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
Pesantren Al Kasyaf memandang seni budaya sebagai bagian penting dalam proses pendidikan dan dakwah. Budaya tidak hanya dipahami sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter dan identitas bangsa.”Saya bersyukur dipertemukan dengan Dr. Wawan gunawan dosen Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung, beliau sangat responsif dalam mengimplementasikan program kampus berdampak dengan melakukan permberdayaan para santri sebagai pengabdian masyarakat dengan melakukan kegiatan seni budaya menjadi atraksi wisata, nah ini kan Pesantren jadi nanginya akan menjadi destinasi wisata religi dengan menghadirkan berbagai aktifitas seni budaya, ekraf, edukasi menjadi atraksi wisata budaya, edukasi dan ekraf, ujar Geovani Van Rega.
Melalui berbagai aktivitas seni dan budaya, para santri diajak memahami akar budaya Nusantara, mencintai tradisi bangsa, serta mengembangkan kreativitas yang berlandaskan nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.
Ramah Lingkungan dan Pusat Pemberdayaan Umat
Sebagai pesantren yatim dan dhuafa, Al Kasyaf juga memiliki komitmen kuat terhadap kepedulian sosial dan keberlanjutan lingkungan. Konsep eco-pesantren yang dikembangkan menanamkan kesadaran bahwa menjaga alam merupakan bagian dari ibadah dan amanah sebagai khalifah fil ardh.
Para santri didorong untuk memiliki karakter peduli lingkungan, mencintai alam, hemat sumber daya, dan berpartisipasi dalam berbagai program keberlanjutan.
Selain itu, Al Kasyaf terus memperkuat fungsi sosialnya sebagai rumah pendidikan, rumah harapan, dan pusat pemberdayaan masyarakat bagi anak-anak yatim dan dhuafa.
Perayaan Milad ke-13 Pesantren Yatim dan Dhuafa Al Kasyaf membuktikan bahwa pesantren mampu menjadi pusat peradaban yang mengintegrasikan spiritualitas, pendidikan, budaya, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu ekosistem yang utuh.
Penampilan memukau Dalang Cilik Aden Azka Asstroberi Putra menjadi simbol keberhasilan pendidikan budaya yang diwariskan Ki Dalang Wawan Ajen dari Sanggar Wayang Ajen Kota Bekasi kepada generasi muda. Di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi, kehadiran anak-anak yang mencintai budaya bangsa menjadi harapan besar bagi keberlanjutan peradaban Indonesia.
Dari kaki Gunung Manglayang, Al Kasyaf menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar agama, melainkan pusat inovasi sosial, pusat pelestarian budaya, pusat pendidikan lingkungan, dan pusat pemberdayaan umat yang terus menebarkan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
