Home Destinasi Mewujudkan Ekonomi Sirkular di Desa Wisata Kertawangi

Mewujudkan Ekonomi Sirkular di Desa Wisata Kertawangi

by Bowo
0 comment

Bandung Barat (Paradiso) – Upaya mewujudkan destinasi pariwisata yang berkualitas dna berdaya saing, melalui penguatan ekonomi masyarakat sekaligus pengelolaan limbah berkelanjutan terus didorong melalui inovasi berbasis lingkungan. Isu global terkait sampah menjadi perhatian Kampus Poltekpar NHI Bandung sebagai kampus berdampak langsung di masyarakat. Hal ini diwujudkan oleh mahasiswa Program Studi Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung yang menggelar kegiatan *Diseminasi Pelatihan Pertanian Sirkular Berbasis Maggot* di Desa Wisata Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Ini adalah wujud nyata materi perkuliah Pemberdayaan Masyarakat dan UMKM yang langsung diterapkan di masyarakat bersama komunitas dan masyarakat desa.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Serbaguna Desa Kertawangi ini diinisiasi oleh tim mahasiswa Pascasarjana yang terdiri dari Dede Rusnadi, Minati Putri Larasati, M. Rizki Fauzy, dan Rian Andani. Mereka didampingi dosen pengampu mata kuliah Pemberdayaan Masyarakat dan UMKM, Dr. Wawan Gunawan, S,Sn.,MM., dan Dr. Sukmadi SE.,MM. Program ini menjadi bentuk kontribusi akademisi dalam mendukung pengembangan desa wisata berbasis keberlanjutan melalui pendekatan ekonomi sirkular yang aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat.

Pelaksanaan kegiatan ini turut mendapat dukungan sponsorship dari *PT. Biru Inovasi Teknologi* dan *CV. Samudra Jala Sandjaya* sebagai mitra pendukung dalam mendorong terselenggaranya program pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan tersebut.

Pelatihan tersebut menghadirkan narasumber *Bapak Eduard* sekaligus dihadiri oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, *drg. Chanifah Listyarini, M.H.M.*, yang memberikan pemaparan mengenai pengelolaan limbah organik secara inovatif melalui budidaya maggot. Dalam paparannya dijelaskan bahwa metode ini merupakan salah satu solusi efektif untuk mengurangi volume sampah rumah tangga dan limbah organik, sekaligus menghasilkan nilai ekonomi baru berupa pakan ternak berprotein tinggi dan pupuk organik.

Baca Juga:   BBTF 2022 Resmi Dibuka, Saatnya Pariwisata Bangkit

Kegiatan ini juga turut dihadiri oleh Kepala Desa Kertawangi, *Yanto Bin Surya*, yang menyambut positif inisiatif kolaboratif antara dunia akademik, pemerintah, dan sektor swasta tersebut. Menurutnya, program pelatihan pertanian sirkular berbasis maggot sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat Desa Kertawangi, khususnya dalam menjawab persoalan lingkungan sekaligus membuka peluang usaha produktif di tingkat rumah tangga.

“Pelatihan ini menjadi langkah nyata dalam mendorong masyarakat agar lebih mandiri secara ekonomi, kreatif dalam memanfaatkan potensi limbah, serta semakin peduli terhadap kelestarian lingkungan desa,” ungkap Yanto Bin Surya.

Selain mendapat dukungan dari pihak desa dan mitra sponsor, kegiatan ini juga memperoleh evaluasi serta pendampingan akademik dari dua dosen Politeknik Pariwisata NHI Bandung, yaitu *Dr. Sukmadi, S.E., M.M.* dan *Dr. Wawan Gunawan, M.M.* Keduanya memberikan sejumlah masukan strategis guna memastikan bahwa program tidak berhenti pada tahap pelatihan semata, namun dapat dikembangkan menjadi model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan serta mendukung positioning Desa Wisata Kertawangi sebagai desa wisata berbasis edukasi lingkungan.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami konsep pertanian sirkular secara teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Budidaya maggot dinilai menjadi salah satu solusi konkret yang mampu menciptakan sistem pengelolaan limbah terpadu, menekan pencemaran lingkungan, dan pada saat yang sama menghadirkan manfaat ekonomi bagi warga.

Baca Juga:   Wow... Menginap di Hotel Dafam Hanya Rp 10 Ribu

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara akademisi, pemerintah, masyarakat, komunitas, media dan dunia usaha mampu melahirkan inovasi yang berdampak nyata dalam pembangunan desa wisata berkelanjutan, mandiri, dan berdaya saing.

Berita Terkait