Home Pendidikan WORKSHOP : IMPLEMENTASI MENENTUKAN KKM TIAP MATA PELAJARAN DI SEKOLAH BINAAN KECAMATAN ADONARA TENGAH KABUPATEN FLORES TIMUR

WORKSHOP : IMPLEMENTASI MENENTUKAN KKM TIAP MATA PELAJARAN DI SEKOLAH BINAAN KECAMATAN ADONARA TENGAH KABUPATEN FLORES TIMUR

by Igo Kleden
0 comment

NO.09/THN.XV/APRIL/2022

YOHANES BOLI,S.Pd.SD

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Peranan dunia pendidikan dalam mempersiapkan siswa agar optimal dalam kehidupan bermasyarakat, maka proses dan model pembelajaran perlu terus diperbaharui. Upaya pembaharuan proses tersebut, terletak pada tanggung jawab guru, bagaimana pembelajaran yang disampaikan dapat dipahami oleh siswa secara benar. Dengan demikian, proses pembelajaran ditentukan sampai sejauh guru dapat menggunakan metode dan model pembelajaran. Salah satu faktor keberhasilan dalam proses pembelajaran adalah faktor kemampuan dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Pembelajaran yang berhasil dan kondusif biasanya diukur dengan tingkat menguasaan pembelajaran melalui tes dan partisipasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

Pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematik yang meliputi banyak komponen. Komponenen tersebut diantaranya sumber belajar. Sumber belajar merupakan suatu unsur yang memiliki peranan penting dalam menentukan proses belajar agar pembelajaran menjadi efektif dan efesien dalam pencapaian tujuan. Sebuah kegiatan belajar mengajar akan lebih efektif dan efesien dalam usaha pencapaian tujuan instruksional jika melibatkan komponen proses belajar secara terencana, sebab sumber belajar sebagai komponen penting dan sangat besar manfaatnya.

Peningkatan kualitas layanan pendidikan merupakan salah satu agenda prioritas pembangunan pendidikan nasional tahun sebagaimana telah diamanatkan di dalam Peraturan Presiden Nomor 2 tahun 2015 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Disamping tersedianya kurikulum yang handal, salah satu aspek terpenting dalam upaya menjamin kualitas layananan pendidikan adalah menyediakan sistem penilaian yang komprehensif sesuai dengan standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan. Untuk itu Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Pusat Penilaian Pendidikan dan Pusat Kurikulum dan Perbukuan) telah menyusun Panduan Penilaian pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Salah satu komponen dalam proses pembelajaran menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Berdasarkan pengalaman peneliti sebagai pengawas di sekolah binaan Kecamatan Adonara Tengah Kabupaten Flores Timur, masih banyak guru belum menunjukkan KKM sesuai dengan SK dan KD pembelajaran. Sekolah cenderung bertanya kepada kepala sekolah atau guru lain di sekolah lain untuk menyamakan penetapan KKM. Masih banyak guru belum mengerti tentang cara penetapan KKM dan rambu-rambu penentapan KKM.

Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) merupakan tahapan awal pelaksanaan penilaian hasil belajar sebagai bagian dari langkah pengembangan Kurikulum 13. Kurikulum berbasis kompetensi yang menggunakan acuan kriteria dalam penilaian, mengharuskan pendidik dan satuan pendidikan menetapkan KKM dengan analisis dan memperhatikan mekanisme, yaitu prinsip dan langkah-langkah penetapan. Kenyataan dilapangan guru dalam menetapkan KKM tidak berdasarkan analisis dan tidak memperhatikan prinsip serta langkah-langkah penetapan, oleh karena itu perlu ada kegiatan pada awal tahun pelajaran yang dapat memberikan informasi kepada guru yang dijadikan pedoman dalam penetapan KKM.

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti melakukan penelitian dengan judul “Workshop : Implementasi Menentukan KKM Tiap Mata Pelajaran Di Sekolah Binaan Kecamatan Adonara Tengah Kabupaten Flores Timur”.

Rumusan Masalah

Yang menjadi masalah dalam penmelitian ini adalah : “Bagaimana upaya meningkatkan kemampuan guru di sekolah binaan Kecamatan Adonara Tengah dalam menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) melalui kegiatan workshop”?

Cara Pemecahan Masalah

Pemecahan masalah dalam penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari peneliti yang meliputi empat tahapan yaitu :

1. Tahap Perencanaan

Merupakan tahapan persiapan tentang apa yang akan dilakukan dalam penelitian ini.

2. Tahap Pelaksanaan

Tindakan pelaksanaan untuk penerapan isi rancangan mengenai tindakan sekolah.

3. Tahap Observasi

Pada tahap ini akan kegiatan yang dilakukan oleh peneliti adalah mengumpulkan data, menggali informasi-informasi yang relevan atau yang cocok.

4. Tahap Refleksi

Tahap ini peneliti akan melakukan berbagai kegiatan analisis data, evaluasi, dan informasi yang diperoleh selama melakukan penelitian.

Tujuan Penelitian

Yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan guru di sekolah binaan Kecamatan Adonara Tengah Kabupaten Flores Timur.

Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah :

  1. Melalui Workshop diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar bagi guru, karena melalui Workshop guru diberikan materi dan latihan menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di sekolah dasar.
  2. Guru di gugus Kartini memiliki kemampuan dalam menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal sehingga proses belajar mengajar lebih baik.

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Sekolah. yang dianalisis secara deskriptif kualitatif yang terdiri dari empat tahapan yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

Baca Juga:   Rumah Sakit dan Fakultas Kedokteran PTN Terima Ribuan APD dari Kemendikbud

Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah sekolah binaan Kecamatan Adonara Tengah Kabupaten Flores Timur

Waktu Penelitian : Bulan Agustus 2021.

Subjek Penelitian

Yang menjadi subjek penelitian tindakan sekolah ini adalah guru-guru di sekolah binaan – Kecamatan Adonara Tengah – Kabupaten Flores Timur, berjumlah 50 orang guru.

Prosedur Penelitian

  1. Siklus I

Siklus 1 terdiri atas beberapa tahap, yaitu: (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan dan Evaluasi, dan (4) Refleksi.

a. Perencanaan

Kegiatan yang dilakukan peneliti dalam perencanaan adalah:

(a). Menyiapkan lokasi workshop.

(b). Menghubungi sekolah sebagai tempat pelaksanaan penelitian tindakan sekolah.

(c). Menghubungi pembimbing untuk melaksanakan penelitian tindakan sekolah.

(d). Menyiapkan materi dalam melaksanakan penelitian.

(e). Mengidentifikasi pihak-pihak terkait lainnya yang terlibat dalam penyelesaian masalah/menghadapi tantangan/melakukan tindakan.

(f)  Mengidentifikasi metode pengumpulan data yang akan digunakan. Metode pengumpulan data yang diambil oleh peneliti merupakan data kualitatif melalui observasi, pengamatan guru serta wawancara kepada para guru mengenai masalah yang ditemukan di kelas.

(g) Penyusunan instrumen pengamatan dan evaluasi.

(h) Mengidentifikasi fasilitas yang diperlukan.

b. Pelaksanaan

Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain :

(a). Memaparkan materi dalam kegiatan workshop.

(b). Membagi guru dalam lima kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang.

(c). Menjelaskan tentang cara memperoleh Kriteria Ketuntasan Minimal.

(d). Guru diberi tugas mengumpulkan SK dan KD masing-masing mata pelajaran.

(e). Guru diberi tugas merumuskan Komplesitas untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan.

(f). Guru diberi tugas merumuskan Daya Dukung untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan.

(g). Guru diberi tugas merumuskan Intake untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan.

(h). Guru diberi tugas merumuskan KKM masing-masing mata pelajaran.

(i). Mempresentasekan hasil penentuan KKM masing-masing mata pelajaran dalam kelompok.

(j). Mengumumkan KKM masing-masing mata pelajaran di dalam kegiatan workshop.

c. Observasi/Pengamatan

Pengamatan atau observasi dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar observasi selama satu minggu (satu siklus), untuk semua guru yang berjumlah 50 orang. Selama pengamatan peneliti dibantu oleh guru pembimbing atau pemateri.

Pengamatan oleh peneliti meliputi:

(a). Kemampuan merumuskan Kompleksitas untuk tiap mata pelajaran.

(b). Kemampuan merumuskan Daya Dukung untuk tiap mata pelajaran.

(c). Kemampuan merumuskan Intake untuk tiap mata pelajaran.

(d). Kemampuan untuk menentukan KKM masing-msing mata pelajaran.

d. Refleksi

Setelah selesai satu siklus maka diadakan refleksi mengenai kelemahan atau kekurangan dari pelaksanaan tindakan pada siklus pertama. Refleksi dilaksanakan bersama pembimbing untuk menentukan tindakan perbaikan pada siklus berikutnya.

  1. Siklus II

Pelaksanaan pembelajaran siklus II meliputi empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Keempat tahapan tersebut dijabarkan sebagai berikut :

a. Perencanaan

Kegiatan yang dilakukan peneliti dalam perencanaan adalah:

(a). Menyiapkan tempat diselengarakan workshop.

(b). Menghubungi sekolah sebagai tempat pelaksanaan penelitian tindakan sekolah.

(c). Menghubungi pembimbing untuk meelaksanakan penelitian tindakan sekolah.

(d). Menyiapkan materi dalam melaksanakan penelitian.

(e). Mengidentifikasi pihak-pihak terkait lainnya yang terlibat dalam penyelesaian masalah/menghadapi tantangan/melakukan tindakan.

(f)  Mengidentifikasi metode pengumpulan data yang akan digunakan. Metode pengumpulan data yang diambil oleh peneliti merupakan data kualitatif melalui observasi, pengamatan guru serta wawancara kepada para guru mengenai masalah yang ditemukan di kelas.

(g)     Penyusunan instrumen pengamatan dan evaluasi.

(h)     Mengidentifikasi fasilitas yang diperlukan.

b. Pelaksanaan

Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain :

(a). Membagi guru dalam lima kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 50 orang.

(b). Menjelaskan tentang cara memperoleh Kriteria Ketuntasan Minimal.

(c). Guru diberi tugas mengumpulkan SK dan KD masing-masing mata pelajaran.

(d). Guru diberi tugas merumuskan Komplesitas untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan.

(e). Guru diberi tugas merumuskan Daya Dukung untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan.

(f). Guru diberi tugas merumuskan Intake untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan.

(g). Guru diberi tugas merumuskan KKM masing-masing mata pelajaran.

(h).Mempresentasekan hasil penentuan KKM masing-msing mata pelajaran dalam kelompok.

(i). Mengumumkan KKM masing-masing mata pelajaran di dalam kegiatan workshop.

c. Observasi/Pengamatan

Pengamatan atau observasi dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar observasi selama satu minggu (satu siklus), untuk semua guru yang berjumlah 50 orang. Selama pengamatan peneliti dibantu oleh guru pembimbing atau pemateri.

Baca Juga:   Cara Poltekpar Bali Jawab Tantangan di Era Digital

Pengamatan oleh peneliti meliputi :

a). Kemampuan merumuskan Kompleksitas untuk tiap mata pelajaran.

b). Kemampuan merumuskan Daya Dukung untuk tiap mata pelajaran.

c). Kemampuan merumuskan Intake untuk tiap mata pelajaran.

d). Kemampuan untuk menentukan KKM masing-msing mata pelajaran.

d. Refleksi

Setelah selesai pelaksanaan tindakan pada siklus kedua maka diadakan refleksi mengenai kelemahan atau kekurangan dari pelaksanaan tindakan pada siklus kedua tersebut.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dari penelitian tindakan sekolah ini adalah melalui data kualitatif yang diperoleh dari observasi, pengamatan, maupun wawancara.

  1. Wawancara.

Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data dari informan secara langsung. Dalam melakukan wawancara dipergunakan pedoman wawancara yang terbuka.

  1. Pengumpulan data

Teknik ini digunakan untuk mengumpul data sekunder melalui dokumen-dokumen tertulis yang diyakini integritasnya karena mengambil dari berbagai sumber yang relevan dengan penelitian. Pengambilan sumber yang bersifat sekunder ini dapat diperoleh dari hasil pengamatan bersama pembimbing data administrasi guru.

  1. Observasi atau Pengamatan

Observasi digunakan untuk melengkapi data dari wawancara dan pengumpulan dokumentasi, terutama dalam lingkup masalah penelitian, antara lain mengamati guru dalam menentukan KKM tiap mata pelajaran.

Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan sekolah ini antara lain adalah :

  1. Skala Penilaian
  2. Lembar Pengamatan

Teknik Analisis Data

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data kualitatif yang bersumber dari data primer maupun empiris. Melalui analisa data ini, dapat diketahui ada tidaknya peningkatan kemampuan guru dalam menyusun penulisan penelitian tindakan kelas yang merupakan fokus dari penelitian tindakan sekolah ini.

Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan penerapan tindakan ini peneliti tetapkan sebesar 85%, artinya tindakan ini dinyatakan berhasil bila 85% guru mampu menentukan KKM masing-masing mata pelajaran.

Pembahasan

Kegiatan workshop menyusun peneltian tindakan kelas terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan. Keempat tahapan tersebut adalah perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

Tahapan perencanaan siklus I meliputi menyiapkan lokasi workshop. Menghubungi sekolah sebagai tempat pelaksanaan penelitian tindakan sekolah. Menghubungi pembimbing untuk meelaksanakan penelitian tindakan sekolah. Menyiapkan materi dalam melaksanakan penelitian. Mengidentifikasi pihak-pihak terkait lainnya yang terlibat dalam penyelesaian masalah/menghadapi tantangan/melakukan tindakan.  Mengidentifikasi metode pengumpulan data yang akan digunakan. Metode pengumpulan data yang diambil oleh peneliti merupakan data kualitatif melalui observasi, pengamatan guru serta wawancara kepada para guru mengenai masalah yang ditemukan di sekolah. Penyusunan instrumen pengamatan dan evaluasi. Mengidentifikasi fasilitas yang diperlukan.

Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain : memaparkan materi dalam kegiatan workshop. Membagi guru dalam lima kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang. Menjelaskan tentang cara memperoleh Kriteria Ketuntasan Minimal. Guru diberi tugas mengumpulkan SK dan KD masing-masing mata pelajaran. Guru diberi tugas merumuskan Komplesitas untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan. Guru diberi tugas merumuskan Daya Dukung untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan. Guru diberi tugas merumuskan Intake untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan. Guru diberi tugas merumuskan KKM masing-masing mata pelajaran. Mempresentasekan hasil penentuan KKM masing-msing mata pelajaran dalam kelompok. Mengumumkan KKM masing-masing mata pelajaran di dalam kegiatan workshop.

Hasil observasi guru siklus I dalam menentukan KKM masing-masing mata pelajaran di sekolah binaan Kecamatan Adonara Tengah Kabupaten Flores Timur menunjukkan bahwa jumlah guru yang mampu merumuskan Kompleksitas untuk tiap mata pelajaran ada 20 orang guru dengan prosentase 40%. Jumlah guru yang mampu merumuskan Daya Dukung untuk tiap mata pelajaran ada 22 orang dengan prosentase 44%. Jumlah guru yang mampu merumuskan Intake untuk tiap mata pelajaran ada 23 orang dengan prosentase 46% sedangkan guru yang untuk menentukan KKM masing-msing mata pelajaran ada 20 orang dengan prosentase 40%.

Melihat hasil yang diperoleh pada siklus I belum menunjukan hasil yang memuaskan. Indikator keberhasilan penerapan tindakan ini peneliti tetapkan sebesar 85% dalam menyusun penelitian tindakan sekolah. Keempat aspek penilaian belum menunjukkan hasil yang signifikan. Artinya berdasarkan indikator jika guru sudah mencapai 85% maka guru dikatakan mampu dalam menentukan KKM. Ketiga aspek yang belum mencapai indikator tersebut adalah guru yang belum mampu merumuskan Kompleksitas untuk tiap mata pelajaran ada 30 orang guru dengan prosentase 60%. Jumlah guru yang belum mampu merumuskan Daya Dukung untuk tiap mata pelajaran ada 28 orang dengan prosentase 56%. Jumlah guru yang belum mampu merumuskan Intake untuk tiap mata pelajaran ada 27 orang dengan prosentase 54% sedangkan guru yang untuk menentukan KKM masing-msing mata pelajaran ada 30 orang dengan prosentase 60%. Setelah melalui refleksi maka perlu adanya perbaikan di siklus II.

Baca Juga:   Mendikbud: Pendidikan Milik Masyarakat Bukan Hanya Pemerintah

Tahapan perencanaan siklus II meliputi Menyiapkan tempat diselenggarakan workshop. Menghubungi sekolah sebagai tempat pelaksanaan penelitian tindakan sekolah. Menghubungi pembimbing untuk melaksanakan penelitian tindakan sekolah. Menyiapkan materi dalam melaksanakan penelitian. Mengidentifikasi pihak-pihak terkait lainnya yang terlibat dalam penyelesaian masalah / menghadapi tantangan / melakukan tindakan. Mengidentifikasi metode pengumpulan data yang akan digunakan. Metode pengumpulan data yang diambil oleh peneliti merupakan data kualitatif melalui observasi, pengamatan guru serta wawancara kepada para guru mengenai masalah yang ditemukan di sekolah.  Penyusunan instrumen pengamatan dan evaluasi. Mengidentifikasi fasilitas yang diperlukan.

Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah siklus II dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain Membagi guru dalam lima kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang.  Menjelaskan tentang cara memperoleh Kriteria Ketuntasan Minimal. Guru diberi tugas mengumpulkan SK dan KD masing-masing mata pelajaran. Guru diberi tugas merumuskan Komplesitas untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan. Guru diberi tugas merumuskan Daya Dukung untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan. Guru diberi tugas merumuskan Intake untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan.  Guru diberi tugas merumuskan KKM masing-masing mata pelajaran. Mempresentasekan hasil penentuan KKM masing-masing mata pelajaran dalam kelompok. Mengumumkan KKM masing-masing mata pelajaran di dalam kegiatan workshop.

Sedangkan hasil observasi guru siklus II dalam menentukan KKM tiap-tiap mata pelajaran di sekolah binaan Kecamatan Adonara Tengah Kabupaten Flores Timur menunjukkan bahwa jumlah guru yang mampu merumuskan Kompleksitas untuk tiap mata pelajaran ada 50 orang guru dengan prosentase 100%. Jumlah guru yang mampu merumuskan Daya Dukung untuk tiap mata pelajaran ada 50 orang dengan prosentase 100%. Jumlah guru yang mampu merumuskan Intake untuk tiap mata pelajaran ada 50 orang dengan prosentase 100% sedangkan guru yang untuk menentukan KKM masing-msing mata pelajaran ada 50 orang dengan prosentase 100%.

Berdasarkan hasil yang diperoleh siklus I dan siklus II menunjukkan bahwa workshop dalam menentukan KKM tiap-tiap mata pelajaran di sekolah binaan Kecamatan Adonara Tengah Kabupaten Flores Timur dapat ditingkatkan.

Kesimpulan

Data hasil observasi guru siklus I dalam menentukan KKM masing-masing mata pelajaran di sekolah binaan Kecamatan Adonara Tengah Kabupaten Flores Timur menunjukkan bahwa jumlah guru yang mampu merumuskan Kompleksitas untuk tiap mata pelajaran ada 20 orang guru dengan prosentase 40%. Jumlah guru yang mampu merumuskan Daya Dukung untuk tiap mata pelajaran ada 22 orang dengan prosentase 44%. Jumlah guru yang mampu merumuskan Intake untuk tiap mata pelajaran ada 23 orang dengan prosentase 46% sedangkan guru yang untuk menentukan KKM masing-msing mata pelajaran ada 20 orang dengan prosentase 40%.

Data hasil observasi guru siklus II dalam menentukan KKM masing-masing mata pelajaran di sekolah binaan Kecamatan Adonara Tengah Kabupaten Flores Timur menunjukkan bahwa jumlah guru yang mampu merumuskan Kompleksitas untuk tiap mata pelajaran ada 50 orang guru dengan prosentase 100%. Jumlah guru yang mampu merumuskan Daya Dukung untuk tiap mata pelajaran ada 50 orang dengan prosentase 100%. Jumlah guru yang mampu merumuskan Intake untuk tiap mata pelajaran ada 50 orang dengan prosentase 100% sedangkan guru yang untuk menentukan KKM masing-msing mata pelajaran ada 50 orang dengan prosentase 100%.

Berdasarkan analisis data, dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan workshop efektif untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menentukan KKM tiap-tiap mata pelajaran di sekolah binaan Kecamatan Adonara Tengah Kabupaten Flores Timur.

Saran

Adanya pengaruh peningkatan kemampuan menentukan KKM tiap-tiap mata pelajaran melalui kegiatan workshop, maka melalui kesempatan ini peneliti mengajukan beberapa saran :

  1. Kepala Sekolah disarankan melakukan monitoring kepada guru dalam menentukan KKM tiap-tiap mata pelajaran di sekolah.
  2. Guru harus selalu mengikuti kegiatan workshop dalam bidang Pendidikan untuk dapat meningkatkan kemampuannya sebagai bentuk peningkatan profesi guru.***

 

 

Berita Terkait