Home EkoBis Air PDAM Padang Masih Keruh dan Sering Mati, Direksi Minta Maaf: Kerusakan Akibat Bencana Sangat Parah

Air PDAM Padang Masih Keruh dan Sering Mati, Direksi Minta Maaf: Kerusakan Akibat Bencana Sangat Parah

by Bali Paradiso
0 comment

PADANG – Keluhan masyarakat Kota Padang terkait air PDAM yang keruh, berbau, bertekanan kecil hingga mati total akhirnya mendapat penjelasan langsung dari jajaran Direksi Perumda Air Minum Kota Padang. Mereka mengakui pelayanan air bersih masih belum optimal akibat kerusakan infrastruktur yang ditinggalkan bencana hidrometeorologi besar pada November 2025.

Direktur Perumda Air Minum Kota Padang, Hendra Pebrizal, Jumat (10/7/2026), menjelaskan bahwa bencana hidrometeorologi pada 25 November 2025 menjadi titik balik memburuknya sistem penyediaan air baku, terutama yang bersumber dari Sungai Batang Kuranji.

Menurutnya, kerusakan tidak hanya terjadi pada jaringan, tetapi juga menghantam Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gunung Pangilun serta Intake Kampung Koto yang menjadi tulang punggung pelayanan air bersih di Kota Padang.

“IPA Gunung Pangilun dibangun sejak 1957 dengan kemampuan mengolah air berkekeruhan maksimal sekitar 10.000 NTU. Saat bencana, tingkat kekeruhan melonjak hingga mencapai 30.000 NTU. Kondisi itu membuat instalasi yang sudah berusia tua tidak lagi mampu bekerja secara maksimal,” ujar Hendra.
Ia mengungkapkan, tingginya tingkat kekeruhan dan keasaman air bahkan menyebabkan sejumlah komponen vital mengalami kerusakan berat. Salah satunya bearing pompa di Intake Kampung Koto yang rusak parah akibat dipaksa bekerja dalam kondisi ekstrem.

“Kami mengakui dalam beberapa waktu terakhir pelayanan memang banyak mengalami kendala. Atas nama direksi dan manajemen, kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan atas ketidaknyamanan yang terjadi,” katanya.

Baca Juga:   Gubernur Mahyeldi Ajak Masyarakat Sumbar Terbuka Terhadap Investasi

Saat ini, kata Hendra, pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum tengah melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur air bersih. Program tersebut dimulai sejak 22 Desember 2025 dan ditargetkan berlangsung hingga Desember 2026.

Pekerjaan yang sedang dilakukan meliputi perbaikan intake, jaringan perpipaan, instalasi pengolahan air, hingga penggantian sistem penyaringan (filter). Dari total 12 unit filter, sebanyak 10 unit telah selesai diperbaiki, sementara dua unit sisanya masih dalam tahap pengerjaan.

Selain itu, dua unit clarifier atau bak pengendap juga sedang dalam proses desain sebelum dipasang kembali. Selama proses tersebut berlangsung, kapasitas produksi air terpaksa turun dari 500 liter per detik menjadi sekitar 250 liter per detik sehingga berdampak terhadap distribusi air kepada pelanggan.
“Selama instalasi belum pulih sepenuhnya, setiap kali hujan turun kualitas air baku kembali memburuk sehingga hasil pengolahan tidak maksimal dan air keruh masih berpotensi sampai ke pelanggan,” jelasnya.

Hendra menambahkan, Perumda Air Minum juga telah menyelesaikan pembersihan filter dan reservoir IPA Taban sebagai bagian dari upaya normalisasi sistem distribusi.

Sementara itu, Direktur Teknik Perumda Air Minum Kota Padang, Andri Satria, menjelaskan sebagian besar air baku Kota Padang berasal dari lima sungai besar yang seluruhnya terdampak bencana. Kondisi tersebut menyebabkan kualitas air berubah drastis dan mempersulit proses pengolahan.

Menurutnya, sebagai operator, kemampuan finansial Perumda Air Minum sangat terbatas karena tarif air yang berlaku masih jauh di bawah kebutuhan ideal untuk membiayai rehabilitasi infrastruktur.
“Total kebutuhan rehabilitasi pascabencana diperkirakan mencapai Rp659 miliar. Sementara penanganan darurat yang sedang berjalan sekitar Rp70 miliar. Kerusakan akibat bencana memang sangat masif sehingga membutuhkan dukungan penuh dari pemerintah pusat,” ujarnya.

Baca Juga:   Nyepi di Quest San Hotel Denpasar

IPA Gunung Pangilun sendiri saat ini melayani kawasan pusat Kota Padang, mulai dari Jembatan Siteba hingga kawasan Muara dengan jumlah pelanggan sekitar 50 ribu sambungan atau hampir separuh pelanggan di wilayah pusat kota.

Untuk mengatasi persoalan jangka panjang, pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum juga menyiapkan proyek strategis senilai hampir Rp800 miliar. Proyek tersebut meliputi pembangunan IPA baru berkapasitas 200 liter per detik di Palukahan, pembangunan reservoir, serta pemasangan jaringan pipa sepanjang 19 kilometer dari kawasan Ar Risalah hingga Simpang Alai.

Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan waktu pengerjaan sekitar 22 bulan dan ditargetkan rampung pada 2028.

Selain itu, pemerintah juga merencanakan relokasi IPA Gunung Pangilun ke kawasan Kampung Koto dengan fasilitas yang lebih modern. Saat ini proyek masih dalam tahap penyusunan Detail Engineering Design (DED) dan studi kelayakan (FS) untuk diusulkan masuk dalam APBN Tahun 2027. **

Berita Terkait