PADANG — Suasana pertandingan pencak silat tidak hanya tentang gerakan cepat, serangan, tangkisan, dan angka di papan skor. Di balik setiap pertandingan, ada keberanian anak-anak muda untuk berdiri di arena, menguji hasil latihan, sekaligus belajar menghadapi kemenangan dan kekalahan.
Semangat itulah yang terlihat dalam Kejuaraan Pencak Silat Remaja Sumatera Barat 2026. Sebanyak 126 pesilat remaja dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat ambil bagian dalam ajang yang mempertandingkan 12 nomor tersebut.
Bagi sebagian pesilat, pertandingan menjadi kesempatan untuk membuktikan kemampuan setelah menjalani latihan berbulan-bulan. Bagi yang lain, kompetisi menjadi pengalaman pertama merasakan tekanan pertandingan dan berhadapan langsung dengan lawan dari daerah lain.
Namun satu hal yang menjadi benang merahnya: mereka sedang belajar menjadi atlet sekaligus belajar menjadi pribadi yang lebih kuat.
Anggota DPRD Sumatera Barat Sofyan Hendri, yang memberikan dukungan melalui Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) dan membuka serta menutup kejuaraan, mengatakan pembinaan olahraga usia muda tidak boleh hanya berorientasi pada perolehan medali.
Menurutnya, olahraga memiliki peran besar dalam membentuk karakter generasi muda.
“Yang kita bangun bukan hanya kemampuan bertanding, tetapi juga mental dan karakter anak-anak muda. Menang harus rendah hati, sementara kalah harus menjadi motivasi untuk berlatih lebih keras,” kata Sofyan.
Menempa Mental Sejak Remaja
Pencak silat, menurut Sofyan, memberikan ruang yang tepat bagi anak-anak untuk belajar tentang disiplin, keberanian dan ketekunan.
Di arena, seorang pesilat tidak hanya dituntut mampu menguasai teknik. Ia juga harus mampu mengendalikan emosi, menghormati lawan dan menerima hasil pertandingan dengan sportif.
Nilai-nilai itulah yang dinilai penting untuk dibawa para atlet dalam kehidupan sehari-hari.
Sofyan berharap kompetisi semacam ini dapat menjadi bagian dari proses panjang melahirkan atlet-atlet Sumatera Barat yang mampu bersaing di tingkat nasional.
“Sumatera Barat memiliki banyak talenta muda. Mereka membutuhkan ruang untuk tampil, pengalaman bertanding dan dukungan agar potensi tersebut bisa berkembang menjadi prestasi,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai pembinaan tidak boleh berhenti setelah pertandingan berakhir. Atlet yang menunjukkan potensi perlu terus mendapatkan latihan, pendampingan dan kesempatan mengikuti kompetisi.
Menang Bukan Akhir, Kalah Bukan Kegagalan
Panitia juga memberikan penghargaan kepada para pesilat terbaik. Juara pertama memperoleh Rp1 juta, juara kedua Rp500 ribu, dan juara ketiga Rp300 ribu pada setiap nomor pertandingan.
Hadiah tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kerja keras para peserta sekaligus pemantik semangat untuk terus berlatih.
Tetapi bagi Sofyan, nilai terpenting dari sebuah kejuaraan justru berada di luar podium.
Pesilat yang menang diharapkan tidak cepat berpuas diri. Sementara mereka yang belum berhasil meraih juara diminta tidak menjadikan kekalahan sebagai alasan untuk berhenti.
“Jadikan kejuaraan ini sebagai pengalaman berharga. Bagi yang juara, jangan cepat puas. Bagi yang belum berhasil, jangan menyerah. Perjalanan menjadi atlet berprestasi masih panjang,” pesannya.
Kejuaraan pun berakhir setelah seluruh pertandingan dan penyerahan penghargaan selesai. Bagi para juara, medali dan hadiah menjadi hasil dari kerja keras mereka.
Sementara bagi peserta lainnya, mungkin ada kekalahan yang harus diterima dan dievaluasi.
Tetapi dari arena itu, 126 pesilat muda membawa pulang sesuatu yang lebih penting: pengalaman bertanding, keberanian menghadapi lawan, serta pelajaran bahwa menjadi juara bukan hanya soal menang, tetapi juga tentang kemampuan untuk terus bangkit dan berlatih.***

