Home Pendidikan Idolahkan Cicero, Hati Nurani Berbicara

Idolahkan Cicero, Hati Nurani Berbicara

by sonny sonny

PARADISO.CO.ID DENPASAR – Kira-kira pukul 10.00 pagi, saya buat janji wawancara dengan rekan pengacara di salah satu restauran di jalan Teuku Umar kota Denpasar.

Pagi itu, kebetulan saya datang agak terlambat beberapa menit dari jam yang telah disepakati. Setelah memarkir sepeda motorku, langsung berbalik badan masuk melalui pintu depan ke arah jalan masuk restauran. Dari arah berjauhan kelihatan seseorang yang sudah menunggu di pojok meja paling kiri ruangan yang berukuran kira-kira 6 x 8 meter persegi.

Ruangan kelihatan tertata rapi, di setiap meja bertuliskan “meja ini sudah di-disinfektan”. Jadi, disiplin protokol kesehatan di saat pandemik sungguh sangat diperhatikan oleh manajemen restauran itu.

Sosok pria berbadan tegak,  kulit sawo matang, berada di depan ku. Saat itu, dia memakai kemeja putih lengan panjang, nampak tegas dan berwibawah.

Di sebuah meja yang berwana cokelat kami duduk berhadapan. Namun, sebelum mulai wawancara, kami disuguhkan oleh pelayan di restauran itu dengan minuman teh dan jus sesuai dengan pesanan.

Tidak hanya kelihatan minuman teh dan jus saja di atas meja, tetapi ada dua porsi makanan khas Jakarta berupa gado-gado yang turut disajikan juga.

Setelah menikmati makanan dan minuman yang disajikan, saya mulai bertanya kepada rekan saya itu. Tentunya, pertanyaan terfokus pada profesi yang digelutinya saat ini.

Advokat adalah profesinya saat ini. Saat wawancara, saya memulai pertanyaan pertama, yang mana pertanyaan tentang figur, atau tokoh dunia yang dikaguminya. Pertanyaan saya itu secara spontan ia menjawab Cicero, Cicero atau lengkapnya Markus Martulius Cicero adalah seorang negarawan di zaman Romawi.

Baca Juga:   Masyarakat NTT Diberikan Pemahaman Terkait Investasi Online

Setelah dikatakannya Cicero, seketika itu, kata “Wow” keluar dari mulutku. Tentunya, saya kaget juga, karena menurut saya mengidolahkan tokoh dunia seorang Cicero adalah seorang tokoh yang sangat luar biasa, dan fenomenal dengan teori-teori filsafat dan hukumnya. Saking, luar biasanya analisis hukum dan teori yang dipahami seorang Cicero, hingga sekarang ini teori-teori tersebut masih digunakan di dunia akademisi dan penegakan hukum.

Menurut Raymond Simamora diidolahkannya Markus Martulius Cicero, karena dia adalah merupakan salah satu tokoh Romawi yang banyak mengemukakan pemikirannya mengenai Hukum Alam.

Bagi Raymond, Cicero adalah seorang ahli hukum dari Romawi dan juga seorang negarawan. Sementara faham yang dimiliki oleh Cicero banyak dipengaruhi oleh filsafat Yunani, khususnya teori-teori Socrates dan Kaum Stoa.

Ia juga menjelaskan bahwa Cicero mengajarkan konsepnya tentang “a true law” (hukum yang benar) yang disesuaikannya dengan “right reason” (penalaran yang benar), serta sesuai dengan alam. Karena itu, hukum apapun itu harus bersumber dari “true law” itu sendiri,”jelasnya

Setelah menjelaskan sang idolahnya, putra Tapanuli Utara itu sontak teringat putusan hakim terhadap kasus hukum yang dialaminya.

Tentunya, dalam alam pemikiran Raymond, ada yang tidak benar yang dirasakan pada kasus tersebut. “Mungkin terlalu banyak kepentingan,”tuturnya.

“Seandainya, majelis membaca pledoi yang merupakan hak dari terdakwa, maka putusan tersebut akan berubah, dan mengarah pada “kebenaran” sehingga inline dengan apa yang dikehendaki Cicero dengan “a true law yang disesuaikan dengan “right reason,”jelas alumni Fakultas Hukum Universitas Udayana dengan suaranya yang lantang.

Baca Juga:   Dirjen Kebudayaan : Pengamalan Nilai Pancasila Harus Diterapkan Pada Kehidupan Berbangsa

Ketika menjelaskan mengenai kasus hukumnya, sontak ia teringat dengan sebuah pepatah orang Simalungun, Sumatera Utara dengan menyebutkan “Habonaron do Bona”, filosofi hidup ini menjelaskan akan suatu sikap, etika perilaku, dan ideologi yang berlandaskan suatu kebenaran.

“Filosofi ini merupakan bagian pedoman dan penuntun hidup saya, yang mana setiap manusia harus takut akan Allah. Aktualisasinya adalah melaksanakan kewajiban agamanya dengan baik dan benar,”tegas sang advokat lulusan Universitas Udayana tahun 2003.

Nampak, perubahan gesture dan ekspresi tiba-tiba setelah  menjelaskan sang Idola Cicero dengan teori hukum serta penjelasan akan filosofi Batak “Habonaron do Bona” yang dikaitkan dengan kasus hukum yang dialaminya.

Karena terliat perubahan itu, kemudian saya langsung mengalihkan pertanyaan lain seputar kegemaran lainnya di dunia hukum.

Rupanya, sang advokat lebih enjoy dengan hukum acara pidana. Menurut dia, kesukaannya terhadap hukum pidana, karena sebuah prinsip yang harus mempertahankan (HAM) hak asasi manusia.

“Saat ini baik tersangka atau korban, sangat perlu pendampingan hukum untuk mempertahankan hak asasinya. ,”Saya sangat menjunjung tinggi harkat, dan martabat serta hak asasi manusia,”pungkasnya

Menjelaskan soal hak asasi manusia, Raymond menyebutkan bahwa dia memiliki sensifitas terhadap hak asasi manusia.”saya tidak tega melihat hak seseorang itu terlanggar, semisal salah tangkap, atau BAP (berkas acara pidana) awut-awutan, serta perkara-perkara yang by order. Kan banyak perkara yang tidak semestinya disidangkan tapi disidangkan, seolah-olah konstruksi hukumnya benar padahal tidak benar,. Nah disitulah peran seorang lawyer untuk mengungkap kebenaran itu,”ungkap mahasiswa S2 yang fokus pada tesis tindak pidana korupsi.***

Baca Juga:   P4TK IPA Kemendikbud Selenggarakan Program Didamba Angkatan Kedua Guna Tingkatkan Kompetensi Guru

Penulis : Sonny Tumbelaka

 

Berita Terkait

Leave a Comment