Kemenparekraft dan BPPD NTT Selenggarakan FGD ‘Reaktivasi Pemulihan Pariwisata NTT”

PARADISO.CO.ID|KUPANG – NTT  yang sejak awal kepemimpinan Gubernur Victor Bungtilu Laiskodat (VBL) yang berkomitment menjadikan pariwisata sebagai penggerak utama perekonomian NTT, kini terus berbenah meski masih dimasa pandemi covid 19. Pembenahan yang dilakukan saat ini dimakksudkan agar usai pandemi covid 19, NTT makin siap menerima kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Untuk makin memantapkan langkah pengembangan pariwisata NTT, Direktorat Pemasaran Pariwisata Regional I, Deputi Bidang Pemasaran, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berkolaborasi dengan Badan Promosi Pariwisata (BPPD) NTT menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD)  dengan tema “Strategi Reaktivasi Pariwisata Nusantara” yang berlangsung di Kupang, (20/10).  FGD ini  dihadiri oleh seluruh Kepala Dinas Pariwisata di Provinsi NTT serta seluruh  stakeholders pariwisata terkait dan  juga disiarkan secara langsung melalui Radio Swara NTT.

FGD yang dibuka oleh Wakil Gubernur NTT, Josef Adreanus Nae Soi ini menghadirkan sejumlah  pembicara antara lain Vinsensius Jemadu, Direktur Pemasaran Pariwisata Regional 1 Kemenparekraf/Baparekraf, Dr. Wayan Darmawa, Kadis Pariwisata Propinsi NTT, Rocky Pekudjawang, Kepala Badan Promosi Pariwisata NTT, Dr.Nunung Rusmiati, Ketua DPP ASITA serta John Safenson, Vice President of Market Management – Accommodation Traveloka.

Wakil Gubernur NTT, Josef Adreanus Nae Soi (tengah) saat membuka acara FGD bersama sejumlah  pembicara: Vinsensius Jemadu, Direktur Pemasaran Pariwisata Regional 1 Kemenparekraf/Baparekraf, Dr. Wayan Darmawa, Kadis Pariwisata Propinsi NTT, Rocky Pekudjawang, Kepala Badan Promosi Pariwisata NTT, Dr.Nunung Rusmiati, Ketua DPP ASITA serta John Safenson, Vice President of Market Management – Accommodation Traveloka serta seluruh peserta. FOTO – HUMAS BPPD NTT

Vinsensius Jemadu, Direktur Pemasaran Pariwisata Regional 1 Kemenparekraf/Baparekraf mengatakan bahwa Potensi pariwisata domestik sebanyak 260 juta di tahun lalu (sebelum pandemi) terus dicoba untuk diperhanankan karena pariwisata adalah salah satu ‘Safety Net’ ekonomi Indonesia”.

“Seiring dengan itu Kemenparekraf/Baparekraf membuat program ‘InDOnesia CARE’ (IDOCARE) untuk melakukan protokol kesehatan dan kampanye wisata #DiIndonesiaAja bekerjasama dengan assosiasi dan stakeholder terkait termasuk pemerintah daerah agar pariwisata terus bergeliat dan safe,” papar Vincensius.

Sementara Ketua BPPD NTT, Rocky W.P. Pekudjawang menyampaikan bahwa NTT terus berbenah dan menyiapkan product-product pariwisatanya, disertai dengan  standart protokol kesehatannya untuk dipromosikan baik ke dalam negeri maupun di luar negeri. Hal ini diharapkan agar ketika masa pandemi ini berakhir atau pulih maka pariwisata NTT pun pulih dan NTT siap untuk menyambut wisatawan.

Di sisi lain Kadis Pariwisata NTT, Wayan Dharmawan mengatakan bahwa FGD strategi reaktivasi pariwisata nusantara di NTT melalui kemitraan dengan, BPPD NTT,  DPP ASITA, Traveloka dan mitra pemasaran digital lainnya harus didukung dengan komitment kuat pada peningkatan kualitas destinasi, industri pariwisata dan ekraf sehingga memenuhi syarat dalam verifikasi sertifikat CHSE.

Seperti diketahui, UNWTO merekomendasikan 3 (tiga) pilar utama pemulihan pariwisata yaitu pemulihan ekonomi, pemasaran dan promosi serta penguatan kelembagaan & membangun ketahanan. Hal-hal utama dalam pilar pemasaran dan promosi adalah  strategi pemasaran pariwisata (domestik, internasional, pasar tertentu/spesifik), strategi pemasaran digital, program insentif untuk menstimulasi pergerakan atau perjalanan.

Masa pandemi ini memang sangat dirasakan oleh stakehoders yang bergerak di sektor pariwisata. Belum dibukanya perbatasan menyebabkan berbagai negara mengandalkan pariwisata domestik sebagai strategi awal membangkitkan kembali ekonomi dan pariwisata. Pergerakan penduduk setempat menjadi kunci utamanya, dilanjutkan dengan pergerakan antar kota, antar provinsi, dan antar pulau.

Di Indonesia, semua destinasi wisata  memang mengalami penurunan pengunjung yang cukup drastis. Hal ini nampak jelas terlihat dari banyaknya hotel yang tutup dampak tidak adanya penghuni yang menginap, tentu juga sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan para karyawan. Tantangan pandemi COVID-19 masih belum berakhir, penambahan kasus baru masih terus terjadi di seluruh negara di dunia.

Menimbang berbagai kondisi di atas maka pemerintah RI menyusun protokol Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang dinamakan protokol Cleanliness, Health, Safety and Environmet Sustainablity (CHSE), serta menggalakkan kampanye #DiIndonesiaAja sebagai upaya Reaktivasi Pariwisata Nusantara, yang diterjemahkan dalam 4 (empat) program utama yaitu InDOnesia CARE, Nature & Adventure Tourism, Hybrid Event dan Insentif.

Diharapkan melalui kampanye ini, penduduk Indonesia tergerak untuk berwisata mulai dari dekat rumah hingga destinasi yang jauh sehingga pada gilirannya dapat menghidupkan kembali geliat perekonomian bangsa. ***

Editor – Igo Kleden

Igo Kleden

I am journalist...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *