Home Pendidikan Meningkatkan  KOMPETENSI GURU Dalam Menyusun  RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Melalui BIMBINGAN BERKELANJUTAN di SD KATOLIK LEWORITA – KECAMATAN TITEHENA – KABUPATEN FLORES TIMUR

Meningkatkan  KOMPETENSI GURU Dalam Menyusun  RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Melalui BIMBINGAN BERKELANJUTAN di SD KATOLIK LEWORITA – KECAMATAN TITEHENA – KABUPATEN FLORES TIMUR

by Igo Kleden

NO.18/THN.XV/NOV/2022

PATRISIA LENA ARAN, S.Ag

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan investasi dalam pengembangan sumber daya manusia dan dipandang sebagai kebutuhan dasar bagi masyarakat yang ingin maju. Komponen-komponen system pendidikan yang mencakup sumber daya manusia dapat digolongkan menjadi dua yaitu ; tenaga kependidikan guru dan nonguru. Menurut Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan, “Komponen-komponen system pendidikan yang bersifat sumber daya manusia dapat digolokan menjadi tenaga pendidik dan pengelola satuan pendidikan (penilik, pengawas, peneliti dan pengembang pendidikan)”. Tenaga gurulah uang mendapat perhatian lebih banyak diantara komponen-komponen system pendidikan. Besarnya perhatian terhadap guru antara lain dapat dilihat dari banyaknya kebijakan khusus seperti kenaikan tunjangan fungsional gur dan sertifikasi guru.

Usaha-usaha untuk mempersiapkan guru menjadi professional telah banyak dilakukan. Kenyataan menunjukan bahwa tidak semua guru memiliki kinerja yang baik dalam melaksanakan tugasnya. “hal ini ditunjukan dengan kenyataan (1) guru sering mengeluh kurikulum yang berubah-ubah, (2) guru sering mengeluh dengan kurikulum yang sarat dengan beban, (3) sering siswa mengeluh dengan cara mengajar guru yang kurang menarik, (4) masih belum dapat dijaminnya kualitas pendidikan sebagai manamestinya” (Imron, 2000;5).

Berdasarkan kenyataan begi berat dan kompleksnya tugas serta peran guru tersebut, perlu adanya supervisii serta pembinaan terhadap guru secara terus-menerus untk meningkatkan kinerjanya. Kinerja guru perlu ditingkatkan agar usaha membimbing siswa untuk belajar dapat berkembang.

“Proses pengembangan kinerja guru terbentuk dan terjadi dalam kegiatan belajar mengajar ditempat mereka bekerja. Selain itu kinerja guru dipengaruhi oleh hasil pembinaan dan sipervisi kepala sekolah” (PPidarta, 1992:3). Pada pelaksanaan KTSP menuntut kemampuan guru baru pada guru untuk dapat mengelola peruses pembelajaran secara efektif dan efisien. Tingkat profduktifitas sekolah dalam memperbaiki pelayanan-pelayanan secara efisien kepada pengguna (peserta didik, masyarakat) akan sangat tergantung pada kualitas guruya yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan kefektifan mereka dalam melaksanakan tanggung jawab individual dan kelompok.

Direktorat pembinaan SMA (2008:3) menyatakan “kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan sekolah dalam pengelolaan proses pembelajaran dan lebih khusus lagi adalah proses pembelajaran yang terjadi di kelas, mempunyai andil dalam nenetuukan kualitas pendidikan konsekuensinya adalah guru harus mempersiapak (merencanakan) segala sesuatu agar proses pembelajaran dikelas berjalan dengan efekti”.

Hal ini berarti bahwa guru sebagai fasilitator yang menglola proses pembelajaran di kelas mempuyai andail dalam menentukan kualitas pendidikan. Konsekuensinya adalah guru harus mempersiapak (merencanakan) segala sesuatu agar proses pembelajaran dikelas berjalan dengan efekti”.

Perencanaan pembelajaran merupakan langkah yang sangat penting sebelum pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan yang matang diperlukan supaya pelaksaan pembelajaran berjalan secara efektif. Perencanaan pembelajaran dituangkan ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau beberapa iistilah lain seperti desai pembelajaran. RPP memuat KD, indicator yagn akan dicapai, materi yang akan dipelajari, metode pembelajaran, langkah pembelajaarn, media pembelajaran, dan sumber belajar serta penilaian.

Guru harus mampu berperan sebagai desainer (perencana), impementor (pelaksana) dan evaluator (penilai) kegiatan pembelajaran. Guru merupakan factor yang paling dominn karena ditangan gurulah keberhasilan pembelajaran dapat dicapai. Kualtas mengajar guru scara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran pada umumnya. Seorang guru dkatakan professional apabila (1) serius melaksanakan tugas profesinya, (2) bangga dengan tugas profesinya, (3) selalu menjaga dan berupaya meningkatkan kompetensinya, (4) bekerja dengan sungguh tanpa harus diawasi, (5) menjaga nama baik profesinya, (6) bersyukur atas imbalan yang diperoleh dari profesinya.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang 8 Standar Nasional Pendidikan menyatakan standar proses merupakan salah satu SNP untuk satuan pendidikan dasar dan menengah yang mencakup: 1) Perencanaan proses pembelajaran, 2) Pelaksanaan proses pembelajaran, 3) Penilaian hasil pembelajaran, 4) dan pengawasan proses pembelajaran. Perencanaan pembelajaran meliputi Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Silabus dan RPP dikembangkan oleh guru pada satuan pendidikan. Guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun Silabus dan RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Masalah yang terjadi di lapangan masih ditemukan adanya guru (baik di sekolah negeri maupun swasta) yang tidak bisa memperlihatkan RPP yang dibuat dengan alasan ketinggalan di rumah dan bagi guru yang sudah membuat RPP masih ditemukan adanya guru yang belum melengkapi komponen tujuan pembelajaran dan penilaian (soal, skor dan kunci jawaban), serta langkah-langkah kegiatan pembelajarannya masih dangkal. Soal, skor, dan kunci jawaban merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pada komponen penilaian (penskoran dan kunci jawaban) sebagian besar guru tidak lengkap membuatnya dengan alasan sudah tahu dan ada di kepala. Sedangkan pada komponen tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pembelajaran, dan sumber belajar sebagian besar guru sudah membuatnya. Masalah yang lain yaitu sebagian besar guru khususnya di sekolah swasta belum mendapatkan pelatihan pengembangan RPP.

Selama ini guru-guru yang mengajar di sekolah swasta sedikit/jarang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti berbagai Diklat Peningkatan Profesionalisme Guru dibandingkan sekolah negeri. Hal ini menyebabkan banyak guru yang belum tahu dan memahami penyusunan/pen uatan RPP secara baik/lengkap. Beberapa guru mengadopsi RPP orang lain. Hal ini peneliti ketahui pada saat mengadakan supervisi akademik (supervisi kunjungan kelas) ke sekolah binaan. Permasalahan tersebut berpengaruh besar terhadap pelaksanaan proses pembelajaran.

Dengan keadaan demikian, peneliti sebagai pembina sekolah berusaha untuk memberi bimbingan berkelanjutan pada guru dalam menyusun RPP secara lengkap sesuai dengan tuntutan pada standar proses dan standar penilaian yang merupakan bagian dari standar nasional pendidikan. Hal itu juga sesuai dengan Tupoksi peneliti sebagai pengawas sekolah berdasarkan Permendiknas No.12 Tahun 2007 tentang enam standar kompetensi pengawas sekolah yang salah satunya adalah supervisi akademik yaitu membina guru.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran harus dibuat agar kegiatan pembelajaran berjalan sistematis dan mencapai tujuan pembelajaran. Tanpa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, biasanya pembelajaran menjadi tidak terarah. Oleh karena itu, guru harus mampu menyusun RPP dengan lengkap berdasarkan silabus yang disusunnya. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sangat penting bagi seorang guru karena merupakan acuan dalam melaksanakan prosespembelajaran.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang muncul dapat diidentifikasikan sebagai berikut.

  1. Guru banyak yang belum paham dan termotivasi dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan lengkap;
  2. Sebagian besar guru belum mendapatkan pelatihan pengembangan KTSP;
  3. Ada guru yang tidak bisa memperlihatkan RPP yang dibuatnya dengan berbagai alasan;
  4. RPP yang dibuat guru komponennya belum lengkap/ tajam khususnya pada komponen langkah-langkah pembelajaran dan penilaian;
  5. Guru banyak yang mengadopsi RPP orang lain.

C. Pembatasan Masalah

Dari lima masalah yang diidentifikasikan di atas, masalahnya dibatasi menjadi:

  1. Guru belum paham dalam menyusun RPP.
  2. RPP yang dibuat guru belum lengkap.
Baca Juga:   Poltekpar Bali Sukses Gelar Studium Generale Hadirkan 7791 Peserta

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, identifikasi, dan pembatasan masalah di stas, diajukan namusan masalah sebagai berikut.

Apakah dengan bimbingan berkelanjutan akan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP ?

E. Pemecahan Masalah/Tindakan

  1. Peneliti mencoba untuk mengambil tindakan dengan memberi penjelasan dan bimbingan berkelanjutan serta arahan kepada guru tentang pentingnya seorang guru membuat RPP secara lengkap. Dengan bimbingan berkelanjutan diharapkan guru termotivasi dalam menyusun RPP dengan lengkap dan dapat digunakan sebagai acuan atau panduan dalam mengajar, agar SK dan KD yang terdapat dalam standar isi dapat tersampaikan semua karena sudah ada dalam RPP yang dibuat oleh guru. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada siklus pertama.
  2. Peneliti mencoba untuk melihat proses peningkatan kemampuan guru dalam menyusun RPP melalui instrument proses yang telah dirancang yaitu berupa lembar observasi/pengamatan komponen RPP yang memuat sebelas komponen yaitu: 1) identitas mata pelajaran, 2) standar kompetensi, 3) kompetensi dasar, 4) indikator pencapaian kompetensi, 5) tujuan pembelajaran, 6) materi ajar, 7) alokasi waktu, 8) metode pembelajaran, 9) kegiatan pembelajaran, 10) sumber belajar dan 11) penilaian hasil belajar (soal, skor dan kunci jawaban ), untuk melihat apakah guru sudah membuat RPP dengan lengkap. Hal itu nanti akan dibuktikan dengan melihat RPP yang dibuat oleh guru. Terjadi peningkatan atau tidak pada siklus ke-2.

F. Tujuan Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran melalui bimbingan berkelanjutan di sekolah binaan.

G. Manfaat Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini diharapkan dapat memberikan

1. Manfaat Manfaat Bagi Peneliti

  • Meningkatkan kemampuan profesionalisme peneliti untuk melakukan penelitian tindakan sekolah sesuai dengan permasalahan yang dihadapi di sekolah binaan peneliti.
  • Meningkatkan kemampuan peneliti dalam menyusun serta menulis laporan dan artikel ilmiah.
  • Sebagai motivasi bagi peneliti dalam membuat karya tulis ilmiah.
  • Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti sebagai syarat untuk kenaikan golongan ke- IV b.
  • Dengan adanya pengalaman menulis, dapat memberikan bimbingan kepada teman-teman guru yang akan menulis.
  • Hasil penelitian ini digunakan peneliti sebagai evaluasi terhadap guru dalam menyusun RPP yang selanjutnya akan digunakan sebagai bahan pembinaan kepada guru di sekolah binaan.                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Manfaat bagi sekolah
  • Akan berdampak adanya peningkatan administrasi guru pada KBM yang lebih lengkap.
  • Dapat meningkatkan kualitas pendidikan karena Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sudah tersampaikan                                                                                                                                                                                                         3. Manfaat bagi Guru
  • Dapat meningkatkan kompetensi dalam membuat RPP dengan lengkap serta menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawabnya terhadap pelaksanaan tugasnya.
  • Sebagai panduan dan arahan dalam mengajar sehingga apa yang diinginkan dalam standar isi dapat tersampaikan.

4. Manfaat bagi Siswa

  • Adanya kesiapan belajar, keseriusan keingintahuan, dan semangaat belajar tinggi terhadap pelajaran.
  • Siswa lebih percaya diri dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga tercapai target kompetensinya.

METODE PENELITIAN

A. Setting Penelitian

Setting dalam penelitian ini meliputi: tempat penelitian, waktu penelitian, jadwal penelitian, dan siklus PTS sebagai berikut :

  1. Tempat Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di Sekolah Dasar Katolik Leworita

Bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun rencana perlaksanaan pembelajaran (RPP) dengan lengkap.

  1. Waktu Penelitian

PTS ini dilaksanakan pada semester dua tahun 2022 selama kurang lebih satu setengah bulan mulai Februari sampai dengan April 2022

  1. Siklus Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan melalui dua siklus untuk peningkatan kompetensi guru dalam menyusun Rencana melihat Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

B. Persiapan Penelitian Tindakan Sekolah

Sebelum PTS dilaksanakan, dibuat berbagai input instrument yang digunakan untuk mendapatkan data dan informasi.

C. Subjek Penelitian

Yang menjadi subyek dalam PTS ini adalah guru Sekolah Dasar Katolik Leworita

D. Sumber Data

Sumber data dalam PTS ini adalah rencana pelaksanaan pembelajaran yang sudah dibuat guru.

E. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

  1. Teknik

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan diskusi.

a. Wawancara dipergunakan untuk mendapatkan data atau informasi tentang pemahaman guru terhadap RPP.

b. Observasi dipergunakan untuk mengumpulkan data dan mengetahui kompetensi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan lengkap.

c. Diskusi dilakukan antara peneliti dengan guru.

2. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data dalam PTS ini sebagai berikut.

a. Wawancara menggunakan panduan wawancara untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki guru tentang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

b. Observasi menggunakan lembar observasi untuk mengetahui komponen RPP yang telah dibuat dan yang belum dibuat oleh guru.

c. Diskusi dilakukan dengan maksud untuk sharing pendapat antara peneliti dengan guru.

F. Prosedur Penelitian

Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research), yaitu sebuah penelitian yang merupakan kerjasama antara peneliti dan guru, dalam meningkatkan kemampuan guru agar menjadi lebih baik dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat peningkatan yang terjadi dari siklus ke siklus. “Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subjek/objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya (Nawawi, 1985:63). Dengan metode ini peneliti berupaya menjelaskan data yang peneliti kumpulkan melalui komunikasi langsung atau wawancara, observasi/pengamatan, dan diskusi yang berupa persentase atau angka-angka.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh guru dalam menyusun RPP. Selanjutnya peneliti memberikan alternatif atau usaha guna meningkatkan kemampuan guru dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran.

Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam Penelitian Tindakan Sekolah, menurut Sudarsono, F.X, (1999:2) yakni:

  1. Rencana :

Tindakan apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP secara lengkap. Solusinya yaitu dengan melakukan : a) wawancara dengan guru dengan menyiapkan lembar wawancara, b) Diskusi dalam suasana yang menyenangkan dan c) memberikan bimbingan dalam menyusun RPP secara lengkap.

  1. Pelaksanaan:

Apa yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP yang lengkap yaitu dengan memberikan bimbingan berkelanjutan pada guru sekolah binaan.

  1. Observasi:

Peneliti melakukan pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat untuk memotret seberapa jauh kemampuan guru dalam menyusun RPP dengan lengkap, hasil atau dampak dari tindakan yang telah dilaksanakan oleh guru dalam mencapai sasaran.

Selain itu juga peneliti mencatat hal-hal yang terjadi dalam pertemuan dan wawancara. Rekaman dari pertemuan dan wawancara akan digunakan untuk analisis dan komentar kemudian.

  1. Refleksi:
Baca Juga:   Kemendikbud Perkuat Pemahaman Dosen, Kembangkan Teknologi Informasi untuk Menyusun Bahan Ajar

Peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil dari refleksi ini, peneliti bersama guru melaksanakan revisi atau perbaikan terhada RPP yang telah disusun agar sesuai dengan rencana awal yang mungkin saja masih bisa sesuai dengan yang peneliti inginkan.

  • Peneliti merencanakan tindakan pada siklus I (membuat format/instrumen wawancara, penilaian RPP, rekapitulasi hasil penyusunan RPP).
  • Peneliti memberi kesempatan kepada guru untuk mengemukakan kesulitan atau hambatan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
  • Peneliti menjelaskan kepada guru tentang pentingnya RPP dibuat secara lengkap.
  • Peneliti memberikan bimbingan dalam pengembangan RPP.
  • Peneliti melakukan observasi/pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat guru.
  • Peneliti melakukan revisi atau perbaikan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang lengkap.
  • Peneliti dan guru melakukan refleksi.
    1. Siklus Kedua (Siklus II)
  • Peneiti merencanakan tindakan pada siklus II yang mendasarkan pada revisi/perbaikan pada siklus I, seperti menugasi guru menyusun RPP yang kedua, mengumpulkan, dan melakukan pembimbingan penyusunan RPP.
  • Peneliti melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana pada siklus II.
  • Peneliti melakukan observasi/pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat guru.
  • Peneliti melakukan perbaikan atau revisi penyusunan RPP
  • Peneliti dan guru melakukan refleksi.

G.Indikator Pencapaian Hasil

Peneliti mengharapkan secara rinci indikator pencapaian hasil paling rendah 78 % guru membuat kesebelas komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai berikut.

  1. Komponen identitas mata pelajaran diharapkan ketercapaiannya 100%.
  2. Komponen standar kompetensi diharapkan ketercapaiannya 85%.
  3. Komponen kompetensi dasar diharapkan ketercapaiannya 85%.
  4. Komponen indikator pencapaian kompetensi diharapkan ketercapaiannya 75%.
  1. Komponen tujuan pembelajaran diharapkan ketercapaiannya 75%.
  2. Komponen materi pembelajaran diharapkan kecercapaian 75%.
  3. Komponen alokasi waktu diharapkan ketercapaiannya 75%.
  4. Komponen metode pembelajaran diharapkan kecercapaiannya 75%.
  5. Komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran diharapkan ketercapaiannya 70%.
  6. Komponen sumber belajar diharapkan ketercapaiannya 70%.
  7. Komponen penilaian (soal, pedoman penskoran, kunci jawaban) diharapkan ketercapaiannya 75%.

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

A. Deskripsi Hasil Penelitian

Dari hasil wawancara terhadap Delapan orang guru, peneliti memperoleh informasi bahwa semua guru (Delapan orang) belum tahu kerangka penyusunan RPP, hanya sekolah yang memiliki dokumen standar proses (satu buah), hanya dua orang guru yang pernah mengikuti pelatihan pengembangan RPP, umumnya guru mengadopsi dan mengadaptasi RPP, kebanyakan guru tidak tahu dan tidak paham menyusun RPP secara lengkap, mereka setuju bahwa guru harus menggunakan RPP dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dapat dijadikan acuan/pedoman dalam proses pembelajaran. Selain itu, kebanyakan guru belum tahu dengan komponen-komponen RPP secara lengkap.

Berdasarkan hasil observasi peneliti terhadap delapan RPP yang dibuat guru (khusus pada siklus I), diperoleh informasi/data bahwa masih ada guru yang tidak melengkapi RPP-nya dengan komponen dan sub-sub komponen RPP tertentu, misalnya komponen indikator dan penilaian hasil belajar (pedoman penskoran dan kunci jawaban). Rumusan kegiatan siswa pada komponen langkah- langkah kegiatan pembelajaran masih kurang tajam, interaktif, inspiratif, menantang, dan sistematis.

Dilihat dari segi kompetensi guru, terjadi peningkatan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dari siklus ke siklus. Hal itu dapat dilihat pada lampiran Rekapitulasi Hasil Penyusunan RPP dari Siklus ke Siklus.

Siklus I (Pertama)

Siklus pertama terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi seperti berikut ini.

1.Perencanaan ( Planning)

a. Membuat lembar wawancara

b.Membuat format/instrumen penilaian RPP

c. Membuat format rekapitulasi hasil penyusunan RPP siklus I dan II

d. Membuat format rekapitulasi hasil penyusunan RPP dari siklus ke siklus

2. Pelaksanaan (Acting)

Pada saat awal siklus pertama indikator pencapaian hasil dari setiap komponen RPP belum sesuai/tercapai seperti rencana/keinginan peneliti. Hal itu dibuktikan dengan masih adanya komponen RPP yang belum dibuat oleh guru. Sebelas komponen RPP yakni: 1) identitas mata pelajaran, 2) standar kompetensi, 3) kompetensi dasar, 4) indikator pencapaian kompetensi, 5) tujuan pembelajaran, 6) materi ajar, 7) alokasi waktu, 8) metode pembelajaran, 9) langkah-langkah kegiatan pembelajaran, 10) sumber belajar, 11) penilaiaan hasil belajar (soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban). Hasil observasi pada siklus kesatu dapat dideskripsikan berikut ini: Observasi dilaksanakan Selasa, 03 Maret 2014, terhadap delapan orang guru. Semuanya menyusun RPP, tapi masih ada guru yang belum melengkapi RPP- nya baik dengan komponen maupun sub-sub komponen RPP tertentu. Dua orang tidak melengkapi RPP-nya dengan komponen indikator pencapaian kompetensi. Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut.

  • Dua orang tidak melengkapinya dengan teknik dan bentuk instrumen.
  • Dua orang tidak melengkapinya dengan teknik, bentuk instumen, soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
  • Dua orang tidak melengkapinya dengan teknik, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
  • Satu orang tidak melengkapinya dengan soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
  • Satu orang tidak melengkapinya dengan pedoman penskoran dan kunci jawaban.

Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya.

Siklus II (Kedua)

Siklus kedua juga terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Hasil observasi pada siklus kedua dapat dideskripsikan berikut ini: Observasi dilaksanakan Selasa, 24 Maret 2022; terhadap delapan orang guru. Semuanya menyusun RPP, tapi masih ada guru yang keliru dalam menentukan kegiatan siswa dalam langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan metode pembelajaran, serta tidak memilah/ menguraikan materi pembelajaran dalam sub-sub materi. Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut.

  • Satu orang keliru dalam menentukan teknik dan bentuk instrumennya.
  • Satu orang keliru dalam menentukan bentuk instrumen berdasarkan teknik penilaian yang dipilih.
  • Dua orang kurang jelas dalam menentukan pedoman penskoran.
  • Satu orang tidak menuliskan rumus perolehan nilai siswa.

Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya.

B. Pembahasan

Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di Sekolah Dasar Katolik Leworita Kecamatan Titehena Kabupaten Flores Timur, terdiri atas Delapan Guru, dan dilaksanakan dalam dua siklus. Kedelapan guru tersebut menunjukkan sikap yang baik dan termotivasi dalam menyusun RPP dengan lengkap. Hal ini peneliti ketahui dari hasil pengamatan pada saat melakukan wawancara dan bimbingan penyusunan RPP.

Selanjutnya dilihat dari kompetensi guru dalam menyusun RPP, terjadi peningkatan dari siklus ke siklus.

  1. Komponen Identitas Mata Pelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan identitas mata pelajaran). Jika dipersentasekan, 84,37%. Lima orang guru mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP- nya. Semuanya mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 100%, terjadi peningkatan 15,63% dari siklus I.

  1. Komponen Standar Kompetensi

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan standar kompetensi dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan standar kompetensi). Jika dipersentasekan, 81,25%. Masing-masing satu orang guru mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik). Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan standar kompetensi dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 3 (baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 93,75%, terjadi peningkatan 12,5% dari siklus I.

  1. Komponen Kompetensi Dasar
Baca Juga:   KBRI Moskow Jalin Kemitraan Kampus di Indonesia dengan Belarus

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan kompetensi dasar). Jika dipersentasekan, 81,25%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik). Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 3 (baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 93,75%, terjadi peningkatan 12,5% dari siklus I.

  1. Komponen Indikator Pencapaian Kompetensi

Pada siklus pertama enam orang guru mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan indicator pencapaian kompetensi). Sedangkan dua orang tidak mencantumkan/melengkapinya. Jika dipersentasekan, 56,25%. Dua orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 2 (kurang baik dan cukup baik). Enam orang guru mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP-nya. Enam orang mendapat skor 3 (baik) dan dua orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 81,25%, terjadi peningkatan 25% dari siklus I.

  1. Komponen Tujuan Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan tujuan pembelajaran). Jika dipersentasekan, 62,5%. Satu orang guru mendapat skor 1 (kurang baik), dua orang mendapat skor 2 (cukup baik), dan lima orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP-nya. Lima orang mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). dipersentasekan, 84,37%, terjadi peningkatan 21,87% dari siklus I.

  1. Komponen Materi Ajar

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan materi ajar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan materi ajar). Jika dipersentasekan, 68,75%. Dua orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 4 (kurang baik dan sangat baik), dua orang mendapat skor 2 (cukup baik), dan empat orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan materi ajar dalam RPP-nya. Lima orang mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 84,37%, terjadi peningkatan 15,62% dari siklus I.

  1. Komponen Alokasi Waktu

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan alokasi waktu dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan alokasi waktu). Semuanya mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 75%. Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan alokasi waktu dalam RPP-nya. Tiga orang mendapat skor 3 (baik) dan lima orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 90,62%, terjadi peningkatan 15,62% dari siklus I.

  1. Komponen Metode Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan metode pembelajaran). Jika dipersentasekan, 75%. Dua orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), empat orang mendapat skor 3 (baik), dan dua orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP-nya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup baik), empat orang mendapat skor 3 (baik), dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 81,25%, terjadi peningkatan 6,25% dari siklus I.

  1. Komponen Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan langkah-langkah kegiatan pembelajaran). Jika dipersentasekan, 56,25%. Enam orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan dua orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP-nya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan Enam orang mendapat skor 3 (baik) satu orang mendapat skor 4 ( sangat baik). Jika dipersentasekan, 75%, terjadi peningkatan 18,75% dari siklus I.

  1. Komponen Sumber Belajar

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan sumber belajar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan sumber belajar). Jika dipersentasekan, 78,12%. Dua orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan tiga orang mendapat skor 3 (baik) Dua orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan sumber belajar dalam RPP-nya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan Tiga orang mendapat skor 3 (baik) Empat orang mendapat skor 4 (sangat Baik). Jika dipersentasekan, 84,37%, terjadi peningkatan 6,25% dari siklus I.

  1. Komponen Penilaian Hasil Belajar

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP-nya meskipun sub-sub komponennya (teknik, bentuk instrumen, soal), pedoman penskoran, dan kunci jawabannya kurang lengkap. Jika dipersentasekan, 62,5%. Dua orang guru mendapat skor 1 (kurang baik), dua orang mendapat skor 2 (cukup baik), dan dua orang mendapat skor 3 (baik).dan dua orang mendapat skor 4 (sangat baik) Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP- nya meskipun ada guru yang masih keliru dalam menentukan teknik dan bentuk penilaiannya.Lima orang mendapat skor 3 (baik) dan Tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 84,37%, terjadi peningkatan 21,87% dari siklus I. Berdasarkan pembahasan di atas terjadi peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 71,02%, pada siklus II nilai rata-rata komponen RPP 86,64%, terjadi peningkatan 15,62%. Untuk mengetahui lebih jelas peningkatan setiap komponen RPP, dapat dilihat pada lampiran Rekapitulasi Hasil Penyusunan RPP dari Siklus ke Siklus Sekolah Dasar Katolik Leworita (Lampiran 4).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil Penelitian Tinadakan Sekolah (PTS) dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. Bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan motivasi guru dalam menyusun RPP dengan lengkap. Guru menunjukkan keseriusan dalam memahami dan menyusun RPP apalagi setelah mendapatkan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP dari peneliti. Informasi ini peneliti peroleh dari hasil pengamatan pada saat mengadakan wawancara dan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP kepada para guru.
  2. Bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Hal itu dapat dibuktikan dari hasil observasi /pengamatan yang memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP dari siklus ke siklus. Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 71,02% dan pada siklus II 86,64%. Jadi, terjadi peningkatan 15,62% dari siklus I.

SARAN

Telah terbukti bahwa dengan bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan motivasi dan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut.

  1. Motivasi yang sudah tertanam khususnya dalam penyusunan RPP hendaknya terus dipertahankan dan ditingkatkan/ dikembangkan.
  2. RPP yang disusun/dibuat hendaknya mengandung komponen-komponen RPP secara lengkap dan baik karena RPP merupakan acuan/pedoman dalam melaksanakan pembelajaran.
  3. Dokumen RPP hendaknya dibuat minimal dua rangkap, satu untuk arsip sekolah dan satunya lagi untuk pegangan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.
  4. RPP tersebut dapat di pakai pada tahun berikutnya, apabila formasi guru pada kelas yang sama, tinggal saja di revisi setia tahunnya sehingga menjadi dokumen RPP yang paten.

Berita Terkait