PADANG — Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat Drs. H. Muhidi, M.M. meminta Kelompok Wanita Tani (KWT) tidak sekadar menerima bantuan pemerintah, tetapi mampu mengembangkan bibit tanaman, unggas, dan pakan menjadi kegiatan produktif yang memberi manfaat bagi keluarga.
Hal tersebut disampaikan Muhidi saat menjadi narasumber dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan bagi KWT penerima bantuan bibit tanaman, unggas, dan pakan tahun 2026.
Kegiatan yang digelar melalui kolaborasi dengan Dinas Pangan Provinsi Sumatera Barat itu merupakan bagian dari penguatan program Kebun B2SA atau pangan yang Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman.
Muhidi mengatakan pemanfaatan pekarangan memiliki potensi besar untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga. Lahan yang tersedia di sekitar rumah dapat digunakan untuk menanam berbagai kebutuhan pangan maupun memelihara unggas.
“Jangan biarkan pekarangan menjadi lahan tidur. Kalau bisa menghasilkan pangan, kenapa harus dibiarkan kosong?” ujar Muhidi.
Menurutnya, masyarakat tidak perlu menunggu harga kebutuhan pokok melonjak untuk mulai mencari alternatif pemenuhan kebutuhan pangan. Hasil kebun dan ternak rumahan dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi keluarga sekaligus menekan sebagian pengeluaran rumah tangga.
Muhidi juga mengingatkan KWT agar menjaga dan mengembangkan bantuan yang telah diterima.
“Bantuan tersebut harus dirawat, dikembangkan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan sehingga menghasilkan manfaat nyata bagi anggota kelompok dan keluarga,” katanya.
Ia menilai kekompakan menjadi salah satu faktor penting dalam keberlanjutan program. Dengan pengelolaan secara bersama, bantuan berupa bibit, unggas, dan pakan diharapkan tidak berhenti sebagai bantuan sesaat, tetapi dapat berkembang menjadi kegiatan produktif kelompok.
Apresiasi juga disampaikan Muhidi kepada anggota KWT yang selama ini aktif menggerakkan kegiatan pertanian dan pangan berbasis keluarga. Ia menyebut KWT memiliki posisi strategis dalam membangun kemandirian pangan dari tingkat rumah tangga.
Bimtek tersebut juga menjadi ruang bagi peserta untuk menyampaikan persoalan teknis yang mereka hadapi. Sejumlah peserta mengajukan pertanyaan terkait pengelolaan kegiatan pertanian dan peternakan.
Mursida, peserta dari Kelurahan Korong Gadang, Kecamatan Kuranji, salah satunya menanyakan persoalan beternak ayam. Dialog tersebut menunjukkan pentingnya pengetahuan praktis dan pendampingan agar bantuan unggas dapat dikelola dengan baik.
Muhidi menilai keberhasilan program ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada bantuan yang diberikan pemerintah. Pengetahuan, keterampilan, pendampingan, kedisiplinan, dan kekompakan kelompok diperlukan agar program dapat terus berkembang.
“Bagi saya, ketika masyarakat sedang menghadapi persoalan, wakil rakyat harus hadir,” kata Muhidi.
DPRD Sumatera Barat, lanjutnya, akan terus mendukung program yang mendorong pemberdayaan perempuan dan ketahanan pangan berbasis masyarakat.
Ia berharap Kebun B2SA dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengoptimalkan pekarangan, memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi bagi kelompok masyarakat.
Dengan pengelolaan yang konsisten, pekarangan rumah diharapkan tidak lagi sekadar menjadi ruang kosong, tetapi dapat berkembang menjadi sumber pangan produktif bagi keluarga di Sumatera Barat.***

