BANDUNG (Paradiso) – Chairman of Indonesia Halal Lifestyle Center and Indonesia Tourism Forum Prof. Dr. Sapta Nirwandar mengatakan Indonesia mempunyai potensi yang besar sebagai pusat industri halal dunia. “Dalam tataran global penting bagi Indonesia untuk hadir di sektor industri halal,” kata Sapta Nirwandar di Unpad – Bandung, Kamis (4/4).
Tampil sebagai Keynote Speech pada Forum Diakusi bertajuk Penguatan Wisata Ramah Muslim di Destinasi Pariwisata, mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabinet Indonesia Bersatu II tersebut mengatakan, pendapatan negara-negara muslim dunia termasuk Indonesia, juga menjadi modal besar untuk terus mengembangkan industri halal. “Artinya, potensi pasar negara-negara muslim ini sangat besar dan itu harus dimanfaatkan oleh Indonesia sebagai pusat industri halal dunia,” jelas dia.
Bahkan, berbagai produk yang dihasilkan Indonesia tidak hanya diminati oleh negara-negara muslim namun juga negara yang mayoritas penduduknya nonmuslim. Apalagi, saat ini cukup banyak pengusaha-pengusaha besar di dunia maju karena industri halal.
Mengutip The State Global Islamic Economy Report 2020/21, Sapta mengatakan, paling tidak sekitar 200,3 juta perjalanan muslim keluar negeri dengan pengeluaran lebih dari USD194 miliar. Dalam laporan tersebut disebutkan juga bahwa Indonesia menempati peringkat lima terbesar outbond (wisatawan ke luar negeri) muslim travel countries setelah Arab Saudi, UEA, Qatar, dan Kuwait.
Adapun top destination Indonesia nomor 6 di bawah UEA, Turki, Thailand, dan Tunisia. Malaysia masih teratas. Dengan daya tarik Indonesia, baik alam maupun budaya yang terkait dengan dunia Islam, mestinya mampu untuk menjadi top destination halal tourism dunia.
Dari jumlah kunjungan wisatawan muslim, Indonesia hanya dikunjungi 3,4 juta wisatawan, sedangkan Malaysia mencapai 6,4 juta, dan Thailand 5,2 juta pada 2018. Kunjungan muslim global ke Indonesia relatif masih kecil dibandingkan negara-negara ASEAN yang muslimnya relatif kecil seperti Thailand, Korea, Jepang. Apalagi dibandingkan Malaysia dan Singapura.
Negara-negara ASEAN ini sangat serius menyiapkan pelayanan untuk menjaring wisatawan muslim dari berbagai penjuru dunia agar berkunjung ke negaranya. Hal yang relatif mudah dilakukan yakni menyediakan restoran halal, kafe, dan sarana ibadah untuk mempermudah pelayanan. Juga sudah tersedia guide book untuk pelancong muslim online maupun offline.
Di Kota Bangkok, Thailand, yang terkenal dengan dunia hiburannya tetap tumbuh restoran halal dan hotel halal seperti Al Meroz, hotel bintang empat yang mempunyai slogan “the leading halal hotel”. Demikian juga Jepang, selain menyediakan restoran halal dan fasilitas ibadah bagi umat Islam di bandara, ada pula rest area yang menyediakan tempat ibadah serta makanan halal.
Lebih lengkap lagi pelayanan hotel-hotel di Turki. Di Antalya, misalnya, tidak hanya menyediakan makanan halal serta fasilitas ibadah, tetapi juga tersedianya kolam renang dan pantai yang terpisah untuk perempuan dan laki-laki sebagai pelayanan yang eksklusif.
Di Prancis dan Inggris ada hotel mahal yang menyediakan makanan halal dan fasilitas lain by request untuk pelancong muslim tanpa mengubah jenis fasilitas yang ada di hotel.
Dapat disimpulkan bahwa wisata halal sama sekali tidak memiliki kaitan dengan agama, tetapi hanya menjadi layanan tambahan bagi para wisatawan muslim yang berlibur ke destinasi wisata sehingga tidak mengubah tatanan adat, nilai budaya, apalagi agama di negara-negara tersebut.
Definisi dan Makna Wisata Halal Dalam Islam perjalanan adalah bagian dari ibadah. Banyak ayat-ayat Alquran yang memberikan penjelasan bahwa perjalanan dan berwisata dapat mempertebal keimanan. Melihat alam yang begitu luas dan indah sudah semestinya kita mengucapkan puji syukur kepada Sang Pencipta. Sebenarnya, sudah jelas soal pengertian pariwisata dan perjalanan bagi kaum muslim.
Tantangan yang dihadapi adalah pengertian dan lingkup aktivitas wisata halal yang oleh sebagian masyarakat masih disalahartikan dan dianggap menakutkan, tidak mudah untuk diimplementasikan dalam dunia usaha wisata sehari-hari, karena dianggap tidak marketing friendly.

