Home Destinasi Kemenpar Manfaatkan AI Untuk Menggaet Wisatawan 

Kemenpar Manfaatkan AI Untuk Menggaet Wisatawan 

by Bowo
0 comment

JAKARTA (Paradiso) – Dalam upaya menggaet wisatawan dan merespon perubahan perilaku wisatawan global, Kementerian Pariwisata RI telah mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam ekosistem digital melalui peluncuran Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia (MaiA), sebuah kecerdasan buatan yang dirancang untuk meningkatkan kualitas pelayanan pariwisata nasional melalui teknologi yang adaptif, cerdas, dan berorientasi pada kebutuhan wisatawan.

Platform ini dapat diakses melalui indonesia.travel dan menjadi wajah baru transformasi digital pariwisata Indonesia. MaiA juga disesuaikan dengan salah satu program utama Kementerian Pariwisata yakni Tourism 5.0 yang menekankan pentingnya adopsi digitalisasi untuk menyasar target pasar dengan lebih efektif.

Deputi Pemasaran Kementerian Pariwisata RI, Ni Made Ayu Marthini mengatakan pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai keniscayaan dalam industri. “Ini bukan sekadar ikut-ikutan tren. Ini fondasi dalam membangun pengalaman wisata yang lebih personal, efisien, dan berbasis data,” ujar Made saat diskusi Ngoprek (Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) yang digagas Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf), Jum’at di Jakarta (5/6/2026).

Made Ayu Marthini

MaiA dirancang untuk membantu wisatawan di setiap tahap perjalanan, mulai dari fase membayangkan (dreaming), merencanakan (planning), memesan (booking), merasakan pengalaman berwisata (experiencing) hingga berbagi pengalaman (sharing).

Sebagai ekosistem, MaiA juga dapat digunakkan industri, terutama Kementerian Pariwisata untuk menjadi instrumen pengumpulan data perilaku wisatawan.

“Dalam tujuh bulan sejak peluncuran pada November 2025, kami bisa mengetahui bahwa ada sekitar 60 persen pengguna berasal dari pasar domestik dan 40 persen dari mancanegara, dengan dominasi wisatawan dari Tiongkok, Singapura, dan Jerman,” ujar Made.

Data yang disajikan MaiA memberikan gambaran yang jauh lebih rinci dibanding metode survei konvensional. Dengan MaiA, pemerintah dapat memahami perilaku wisatawan terkini, termasuk preferensi destinasi, aktivitas, hingga preferensi pengalaman yang diinginkan wisatawan.

Baca Juga:   Teraskita Hotel Jakarta Berbagi Indahnya Kebersamaan

Kesempatan sama, Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi Publik dan Media, Apni Jaya Putra, masyarakat kini hidup dalam ekosistem yang dikendalikan oleh big data dan algoritma.

Setiap aktivitas digital, mulai dari pencarian hingga interaksi media sosial, diproses untuk membentuk profil pengguna. “Profil inilah yang kemudian menentukan konten apa yang muncul di layar mereka,” kata Apni dalam diskusi Ngoprek.

Dalam konteks pariwisata, kondisi ini membuat wisatawan tidak lagi sepenuhnya “memilih”, tetapi diarahkan oleh sistem rekomendasi yang dikuasai platform global seperti Google, Meta, dan TikTok.

“Mereka menentukan destinasi apa yang terlihat, paket wisata apa yang direkomendasikan, hingga narasi mana yang paling dominan di ruang digital,” lanjut Apni.

Karena itu, tantangan komunikasi pariwisata saat ini bukan hanya soal menciptakan konten yang menarik. Tantangan sesungguhnya adalah membangun kepercayaan di tengah banjir informasi.

Apni menyebut, ketika informasi tersedia dalam jumlah nyaris tak terbatas, publik tidak hanya mencari rekomendasi, tetapi juga sumber yang dapat dipercaya. Di sinilah manusia kembali menjadi faktor penentu. Kecerdasan buatan mampu mengumpulkan data, memproses informasi, dan menghasilkan rekomendasi dengan kecepatan yang mustahil dilakukan manusia.

“Yang lebih penting adalah memastikan bahwa teknologi digunakan untuk memperkuat kepercayaan publik, bukan menggantikannya,” tegas Apni.

Di tengah dominasi algoritma, Brand Strategist & Founder Konner Advisory Silih Agung Wasesa di kesempatan sama, menilai bahwa teknologi tidak akan pernah cukup tanpa narasi yang kuat.

Baca Juga:   Kemenpar Berikan Bimbingan Teknis ke Pengelola Destinasi Wisata di Kabupaten Grobogan

Ia mencontohkan keberhasilan Malaysia dalam wisata kesehatan yang berhasil menarik wisatawan Indonesia bukan karena promosi besar-besaran, melainkan karena mereka memahami kecemasan mendasar pasien: ketidakjelasan biaya dan pengalaman layanan.

“Kalau narasinya tidak dibangun, AI tidak akan ke mana-mana. Untuk itu kekuatan narasi, terutama experience storytelling sangat diperlukan untuk mengangkat citra destinasi di era AI,” ujarnya.

Dalam ekosistem marketing pemasaran digital, kekuatan narasi tersebut tidak lagi digaungkan melalui google ads ataupun mega influencers. “Justru sekarang yang paling efektif sekarang itu suara Pejuang Keadilan Sosial (SJW) dan nano influencers. Kenapa? Karena mereka dianggap relevan dengan kehidupan keseharian netizen,” kata Silih.

Dari sisi industri, teknologi AI juga mulai mengubah cara operasional hotel bekerja. COO ARTOTEL Group, Eduard Rudolf Pangkerego, menyebut industri kini tidak lagi hanya bersaing di ranah layanan, tetapi juga di ranah data dan algoritma.

Kecerdasan buatan memungkinkan hotel membaca perilaku tamu, memprediksi kebutuhan, hingga mengarahkan strategi pemasaran secara presisi. Namun ia menegaskan bahwa hospitality tetap membutuhkan sentuhan manusia.

“Yang membedakan industri hospitality dan pariwisata dengan industry lainnya adalah rasa, pengalaman, dan sentuhan manusia. Jadi meskipun kita bisa mengoptimasasi teknologi, tetap yang menentukan pengalaman dan rasa manusia. Masa depan pariwisata Indonesia tidak hanya bergantung pada seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi pada seberapa kuat manusia mampu mengendalikan narasi di tengah dominasi mesin,” pungkas Eduard.

Indonesia Jadi Favorit Wisatawan Mancanegara

Ni Made Ayu Marthini mengungkapkan sejumlah kota dan destinasi di Indonesia yang menjadi favorit wisatawan mancanegara, khususnya dari kawasan Asia, seiring meningkatnya tren kunjungan ke Tanah Air.

Baca Juga:   Menparekraf Apresiasi Industri Pariwisata Indonesia Peraih ASEAN Tourism Awards

“Wisatawan dari negara seperti Korea Selatan, Tiongkok, Singapura, dan Malaysia menunjukkan minat tinggi untuk berkunjung ke Indonesia karena dinilai nyaman dan menawarkan pengalaman wisata yang beragam. Mereka tidak datang ke negara lain, tapi ke Indonesia, karena nyaman. Sudah bisa banyak belanja oleh-oleh untuk keluarga dan lain sebagainya,” kata Made Ayu Marthini.

Menurutnya, wisatawan Malaysia banyak berbelanja oleh-oleh di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, serta destinasi populer di Bali, Bintan, dan Batam. Sementara wisatawan Singapura cenderung mencari destinasi dengan pemandangan estetik dan wisata petualangan, termasuk kawasan pegunungan di Jawa Timur.

“Karena mereka tidak punya gunung ya, di China pun demikian, tidak ada gunung yang seperti kita yang tropik. Jadi itu juga menambah (nilai pariwisata kita). Makanya Bromo, Ijen jadi terkenal ya untuk segmen di Tiongkok,” ujarnya.

Destinasi seperti Gunung Bromo dan Kawah Ijen disebut menjadi daya tarik utama wisatawan Tiongkok. Selain itu, Manado juga mulai diminati setelah dibukanya rute penerbangan langsung Manado–Guangzhou.

Made juga menyebut destinasi seperti Labuan Bajo, Lombok, dan Gili mengalami peningkatan popularitas, menunjukkan adanya diversifikasi tujuan wisata dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, Kemenpar mencatat adanya penurunan kunjungan wisatawan dari Timur Tengah dan Eropa pada awal 2026, sementara wisatawan dari Asia Tenggara, Asia lainnya, Oseania, dan Afrika justru meningkat.

Pemerintah pun terus mendorong promosi melalui agen perjalanan dan pemanfaatan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar pariwisata Indonesia. (*)

 

Berita Terkait