Home Pendidikan Supervisi Klinis Meningkatkan Kemampuan Guru di SD INPRES BELOAJA Dalam Menyusun RPP

Supervisi Klinis Meningkatkan Kemampuan Guru di SD INPRES BELOAJA Dalam Menyusun RPP

by Igo Kleden

NO.10/THN.XIV/2021

Yosep Sedu Wulon, S.Pd

PENDAHULUAN

Teori belajar kokonstruktivistik merupakan teori belajar yang dipelopori oleh Lev Vygotsky. Teori belajar ko-kontruktinvistik atau yang sering disebut sebagai teori belajar sosiokultur merupakan teori belajar yang titik tekan utamanya adalah pada bagaimana seseorang belajar dengan bantuan orang lain dalam suatu zona keterbatasan dirinya yaitu Zona Proksimal Developmen (ZPD) atau Zona Perkembangan Proksimal dan mediasi. Di mana anak dalam perkembangannya membutuhkan orang lain untuk memahami sesuatu dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

Teori yang juga disebut sebagai teori konstruksi sosial ini menekankan bahwa intelegensi manusia berasal dari masyarakat, lingkungan dan budayanya. Teori ini juga menegaskan bahwa perolehan kognitif individu terjadi pertama kali melalui interpersonal (interaksi dengan lingkungan sosial) intrapersonal (internalisasi yang terjadi dalam diri sendiri). Vygotsky berpendapat bahwa menggunakan alat berfikir akan menyebabkan terjadinya perkembangan kognitif dalam diri seseorang.  Inti dari teori belajar konstruktivistik ini adalah penggunaan alat berfikir seseorang yang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan sosial budayanya. Lingkungan sosial budaya akan menyebabkan semakin kompleksnya kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu. Dengan kata lain bahwa peserta didik itu sendiri yang harus secara pribadi menemukan dan menerapkan informasi kompleks, mengecek informasi baru dibandingkan dengan aturan lama dan memperbaiki aturan itu apabila tidak sesuai lag. Teori belajar ini menekankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam upaya memakai informasi-informasi baru. Teori belajar ini meliputi tiga konsep utama, yaitu 1) hukum genetic tentang perkembangan, 2) Zona perkembangan proksimal dan 3) mediasi. Bagi guru teori ini cocok untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran di sekolah untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional.

Tujuan pendidikan Nasional adalah meningkatkan taraf  hidup bangsa Indonesia melalui pendidikan formal dan pendidikan non formal. Pendidikan formal melalui pengembangan kurikulum yang dilaksanakan di sekolah. Kurikulum yang dikembangkan harus sesuai dengan situasi dan kondisi daerah serta karakteristik siswa. Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-murid di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolongnya untuk berkembang menyeluruh dalamsegala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan.(Dr. Addamardasyi dan Dr. Munir Kamil).

Dari definisi di atas dapat saya simpulkan bahwa kurikulum itu mempunyai empat unsur utama, yaitu tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan itu. Dengan lebih tegas lagi orang yang bagaimana ingin kita bentuk melalui kurikulum. Pengetahuan (knowledge), informasi-informasi, data-data, aktivitas-aktivitas dan pengalaman-pengalaman sehingga terbentuk kurikulum tersebut. Bagian inilah yang biasa disebut mata pelajaran. Bagian ini pulalah yang dimasukkn dalam silabus. Metoda dan cara-cara mengajar yang dipakai oleh guru-guru untuk mengajar dan mendorong murid-murid belajar danmembawa mereka ke arah yang dikehendaki oleh kurikulum. Metode dan cara penilain yang dipergunakan dalam mengukur dan menilai kurikulum dan hasil proses pendidikan yangdirencanakan dalam kurikulum seperti ulangan dan ujian-ujian yang ada di sekolah.

Peran guru dalam kurikulum sangat diperlukan dalam membantu siswa mengembangkan pembelajaran. Namun dalam pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centre oriented). Menggunakan strategi pembelajaran ekspositori dengan didominasi oleh metode ceramah, diskusi dan tanya jawab. Hampir tidak ada perangkat pembelajaran khususnya RPP yang menggunakan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centre oriented) dengan pendekatan diskoveri inkuiri. Tidak tampak adanya proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi oleh siswa. Pembuatan perangkat pembelajaran dan RPP adalah sangat urgen, menurut Hamzah B. Uno (2006:4): “Perbaikan kualitas pembelajaran haruslah diawali dengan perbaikan desain pembelajaran”. Perencanaan pembelajaran dapat dijadikan titik awal dari upaya perbaikan kualitas pembelajaran.

Tampilan pembelajaran bermutu di sekolah merupakan kewajiban bagi guru secara umum, namun demikian hal ini masih belum dilakukan dengan maksimal oleh guru, dan mereka belum banyak kreatif menggunakan model-model pembelajaran maupun teknik-teknik pendekatan yang baru. Seolah-olah guru hanya menyampaikan materi pelajaran saja, kurang kontrol terhadap kondisi siswa saat pembelajaran berlangsung.

Guru-guru di kelas rata-rata belum memberdayakan strategi gaya dan seni mengajar yang maju. Berdasarkan hasil supervisi rutin peneliti sebagai Kepala Sekolah ternyata sebagian besar guru masih melaksanakan pembelajaran yang tradisional, di mana guru dalam melaksanakan pembelajaran tanpa menggunakan RPP yang dibuat sendiri, mereka cenderung menggunakan RPP cetakan yang ada dan belum melaksanakan pembelajaran berpusat kooperatif. Guru masih melaksanakan pembelajaran dengan metode ceramah murni belum rutin bervariasi, maupun belum menggunakan alat peraga, dan tampaknya guru masih sebagai penyampai materi bentuk klasikal, belum banyak melakukan pembelajaran yang kreatif model kooperatif, yang dapat melatih mandiri dan tanggungjawab para peserta didik.

Hal ini dapat dilihat dari hasil supervisi yang telah dilaksanakan oleh peneliti pada guru yang ada di SD Inpres Beloaja Kecamatan Tanjung Bunga Kabupaten Flores Timur sebanyak 13 orang yang tersebar dalam guru kelas dan guru mata pelajaran, ternyata rata-rata guru belum mampu melaksanakan pembelajaran secara maksimal. Dari hasil supervisi rutin permasalahan yang sering ditemukan di sekolah adalah kurangnya persiapan Guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran yang masih monoton. Dan dari data yang ada, hanya sekitar 4 guru yang memiliki perangkat pembelajaran yang lengkap, dengan prosentase 30,77%, sementara yang lain masih belum memiliki perangkat pembelajaran dengan prosentase 69,23s%. Jikapun ada, perangkat yang digunakan belum maksimal, bahkan kebanyakan perangkat yang ada bukan buatan sendiri. Sehingga dampak dari kegiatan proses belajar mengajar di kelas menjadi tidak  menarik dan tidak memotivasi siswa.

Supervisi yang dilakukan masih terkesan melaksanakan pemantauan saja, seolah-olah hanya melihat dokumen dan hanya memotret keadaan saat terjadi di sekolah tanpa ada tindakan yang nyata menuju perbaikan pembelajaran selanjutnya.

Oleh sebab itu di samping pemantauan harusnya juga melalui pengamatan yang cermat dalam proses pembelajaran, sehingga dapat ditemukan hal-hal yang perlu ditingkatkan dan dikembangkan oleh sekolah itu sendiri. Kondisi ini peneliti sebagai Kepala Sekolah berupaya agar semua guru dalam melaksanakan pembelajaran berpusat dengan model pembelajaran kooperatif, sesuai dengan ketentuan yang ada dalam Standar Proses dalam Permendiknas No 41 tahun 2007. Ketentuan itu merupakan pedoman yang harus diwujudkan dalam proses pembelajaran oleh guru yang merupakan pimpinan di kelas itu. Apabila semua guru dalam melaksanakan tugasnya setiap hari mengajar dengan berpusat pada rencana pembelajaran di kelasnya, maka dapat dikatakan bahwa hasil dari proses pembelajaran itu akan tercapai memuaskan, yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi belajar para peserta didiknya.

Kemampuan guru dalam melaksanakan model pembelajaran melalui supervisi klinis oleh Kepala sekolah, dengan bimbingan, arahan kesadaran tinggi diharapkan para guru dapat melakukan pembelajaran bermutu, sehingga mempengaruhi positif terhadap perilaku peserta didik dan menambah kemajuan prestasi belajar mereka. Kemampuan dan keterampilan para guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang baik, sehingga proses pembelajaran akan dapat tepat sasaran, dan target materi dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dapat dicapai. Selain itu juga kreatif membentuk kelompok-kelompok kecil dalam pembelajaran yang dapat menumbuhkan motivasi dan semangat belajar anak. Untuk selanjutnya mampu menumbuhkan kreatifitas siswa serta pembelajaran dapat bermakna. Hal ini akan mewarnai kegiatan belajar dalam meningkatkan prestasinya sehari-hari. Dengan demikian kemampuan dan keterampilan guru perlu dibimbing yaitu mewujudkan model pembelajaran kooperatif yang sesuai dengan visi, misi sekolah yang telah dirumuskan.

Pelaksanaan supervisi yang dilakukan peneliti berupaya mengubah kegiatan mengajar guru yang lebih baik dengan menggunakan instrumen khusus tentang pembelajaran di kelasnya. Maka sasaran supervisi mampu mengubah perilaku guru untuk lebih berkreatif dalam melaksanaan tugas mengajar yang menarik disukai peserta didik. Oleh karena itu proses pembelajaran diharapkan selalu terlaksana dengan menyenangkan, para siswa dapat memusatkan perhatiannya untuk belajar bersama teman-temannya.

Keberhasilan proses pembelajaran dapat ditentukan oleh sering dan tidaknya supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah maupun Kepala sekolah, karena guru akan termotivasi kemampuannya dalam melaksanakan tugas manakala ada respon baik antara kepala sekolah, guru maupun Kepala sekolah. Antara guru, kepala sekolah, dan Kepala sekolah, merupakan komponen utama yang harus memberdayakan diri agar mampu memajukan prestasi belajar peserta didik, maka dalam hal ini peneliti sebagai Kepala sekolah berupaya melakukan supervisi klinis terutama di dalam kelas.

Untuk memecahkan masalah yang ada di SD Inpres Beloaja Kecamatan Larantuka Kabupaten Flores Timur, perlu adanya tindakan sekolah yang dilakukan oleh Kepala Sekolah, yaitu  “Supervisi Klinis Meningkatkan Kemampuan Guru di SD Inpres Beloaja Dalam Menyusun RPP”.

Tindakan tersebut dilakukan melalui supervisi klinis secara maksimal dengan tahapan yang pertama yaitu melaksanakan supervisi klinis secara kelompok dan yang kedua melaksanakan supervisi klinis secara individu di dalam kelas masing-masing guru. Dalam hal ini Kepala Sekolah sebagai peneliti ingin meningkatkan keterampilan dan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran berpusat kooperatif. Termasuk kemampuan guru dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang matang dengan sarana dan alat peraga yang bervariasi, maupun peralatan dalam proses pembelajaran yang menarik perhatian ssiwa. Pemilikan RPP yang baik bagi guru juga akan mempengaruhi lancarnya penyajian pembelajaran di kelasnya.

Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : ”Apakah melalui supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan guru SD Inpres Beloaja dalam menyusun RPP”

Tujuan penelitian tindakan sekolah ini adalah untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun RPP melalui kegiatan supervisi klinis. Manfaat penelitian adalah dapat meningkatkan kemampuannya untuk mrnyusun RPP. Untuk mengetahui faktor penyebab yang mempengaruhi kemampuan guru dalam menyusun RPP melalui kegiatan supervisi klinis.

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Sekolah yang dianalisis secara deskriptif kualitatif yang terdiri dari empat tahapan yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah SD Inpres Beloaja Kecamatan Tanjung Bunga Kabupaten Flores Timur

C. Waktu Penelitian : Bulan Agustus 2021.

D. Subjek Penelitian

Yang menjadi subjek penelitian tindakan sekolah ini adalah guru-guru di SD Inpres Beloaja – Kecamatan Tanjung Bunga – Kabupaten Flores Timur, berjumlah 13 orang guru.

E. Prosedur Penelitian

  1. Siklus I

Siklus 1 terdiri atas beberapa tahap, yaitu : (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan dan Evaluasi, dan (4) Refleksi.

a. Perencanaan

Kegiatan yang dilakukan peneliti dalam perencanaan adalah:

  • Menyiapkan guru-guru untuk disupervisi.
  • Menghubungi pembimbing untuk meelaksanakan penelitian tindakan sekolah.
  • Menyiapkan materi dalam melaksanakan penelitian.
  • Mengidentifikasi pihak-pihak terkait lainnya yang terlibat dalam melakukan penelitian tindakan.
  • Mengidentifikasi metode pengumpulan data yang akan digunakan.
  • Penyusunan instrumen pengamatan dan evaluasi.
  • Mengidentifikasi fasilitas yang diperlukan.

b. Pelaksanaan Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain :

  • Memaparkan materi (khususnya RPP) yang akan disupervisi.
  • Membagi guru dalam delapan kelompok masing-masing kelompok terdiri dari guru kelas dan guru mata pelajaran.
  • Menjelaskan tentang cara menyusun RPP.
  • Guru diberi tugas menyusun RPP berdasarkan silabus yang disiapkan.
  • Mempresentasekan hasil kerja masing-masing mata pelajaran dalam kelompok.
  • Kepala sekolah mengevasluasi hasil kerja guru.

c. Observasi/Pengamatan

Pengamatan atau observasi dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar observasi selama satu minggu (satu siklus), untuk semua guru yang berjumlah 13 orang. Selama pengamatan peneliti dibantu oleh guru pembimbing atau pemateri.

Pengamatan oleh peneliti meliputi :

  • Kemampuan merumuskan indikator untuk tiap mata pelajaran..
  • Kemampuan merumuskan tujuan pembelajaran untuk tiap mata pelajaran.
  • Kemampuan merumuskan langkah-langkah pembelajaran untuk tiap mata pelajaran.
  • Kemampuan untuk menentukan media pembelajaran sesuai dengan materi yang diajarkan masing-msing mata pelajaran

d, Refleki

Setelah selesai satu siklus maka diadakan refleksi mengenai kelemahan atau kekurangan dari pelaksanaan tindakan pada siklus pertama. Refleksi dilaksanakan bersama pembimbing untuk menentukan tindakan perbaikan pada siklus berikutnya.

  1. Siklus II

Pelaksanaan pembelajaran siklus II meliputi empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Keempat tahapan tersebut dijabarkan sebagai berikut :

a. Perencanaan

Kegiatan yang dilakukan peneliti dalam perencanaan adalah:

  • Menyiapkan materi yang akan disupervisi.
  • Menghubungi pembimbing untuk melaksanakan penelitian tindakan sekolah.
  • Mengidentifikasi pihak-pihak terkait lainnya yang terlibat dalam melakukan penelitian tindakan.
  • Mengidentifikasi metode pengumpulan data yang akan digunakan.
  • Penyusunan instrumen pengamatan dan evaluasi.
  • Mengidentifikasi fasilitas yang diperlukan.

b. Pelaksanaan

Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain :

  • Membagi guru dalam delapan kelompok masing-masing kelompok terdiri dari guru kelas dan guru mata pelajaran.
  • Menjelaskan tentang cara merumuskan indikator, tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran serta menentukan media atau saran yang sesuai dengan materi yang diajarkan.
  • Guru diberi tugas merumuskan indikator masing-masing mata pelajaran.
  • Guru diberi tugas merumuskan tujuan pembelajaran untuk masing-masing mata pelajaran.
  • Guru diberi tugas merumuskan langkah-langkah pembelajaran untuk satu materi ajar untuk masing-masing mata pelajaran.
  • Guru diberi tugas menentukan sumber atau media yang sesuai dengan materi yang diajarkan untuk masing-masing mata pelajaran.
  • Mempresentasekan hasil pekerjaan masing-msing mata pelajaran dalam kelompok.
  • Mengevaluasi hasil pekerjaan guru.

c. Observasi/Pengamatan

Pengamatan atau observasi dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar observasi selama satu minggu (satu siklus), untuk semua guru yang berjumlah 13 orang. Selama pengamatan peneliti dibantu oleh guru pembimbing atau pemateri.

Pengamatan oleh peneliti meliputi :

  • Kemampuan merumuskan indikator untuk tiap mata pelajaran..
  • Kemampuan merumuskan tujuan pembelajran untuk tiap mata pelajaran.
  • Kemampuan merumuskan langkah-langkah pembelajaran untuk tiap mata pelajaran.
  • Kemampuan untuk menentukan sumber atau media yang sesuai dengan masing-msing mata pelajaran..

d. Refleksi

Setelah selesai pelaksanaan tindakan pada siklus kedua maka diadakan refleksi mengenai kelemahan atau kekurangan dari pelaksanaan tindakan pada siklus kedua tersebut.

F.Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dari penelitian tindakan sekolah ini adalah melalui data kualitatif yang diperoleh dari observasi, pengamatan, maupun wawancara.

  1. Wawancara.

Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data dari informan secara langsung. Dalam melakukan wawancara dipergunakan pedoman wawancara yang terbuka.

  1. Pengumpulan data

Teknik ini digunakan untuk mengumpul data sekunder melalui dokumen-dokumen tertulis yang diyakini integritasnya karena mengambil dari berbagai sumber yang relevan dengan penelitian. Pengambilan sumber yang bersifat sekunder ini dapat diperoleh dari hasil pengamatan bersama pembimbing data administrasi guru.

  1. Observasi atau pengamatan

Observasi digunakan untuk melengkapi data dari wawancara dan pengumpulan dokumentasi, terutama dalam lingkup masalah penelitian, antara lain mengamati guru merumuskan rencana pelaksanaan pembelajaran tiap mata pelajaran.

G. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan sekolah ini antara lain adalah :

  1. Skala Penilaian
  2. Lembar Pengamatan

H. Teknik Analisis Data

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data kualitatif yang  bersumber dari data primer maupun empiris. Melalui analisa data ini, dapat diketahui ada tidaknya peningkatan kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang merupakan fokus dari penelitian tindakan sekolah ini.

I. Indikator Keberhasian

Indikator keberhasilan penerapan tindakan ini peneliti tetapkan sebesar 85%, artinya tindakan ini dinyatakan berhasil bila 85% guru mampu merumuskan dan menulis rencana pelaksanaan pembelajaran masing-masing mata pelajaran.

PEMBAHASAN

Kegiatan supervisi dan menyusun RPP terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan. Keempat tahapan tersebut adalah perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

Kegiatan yang dilakukan peneliti dalam perencanaan siklus I adalah menyiapkan guru-guru untuk disupervisi. Menghubungi pembimbing untuk meelaksanakan penelitian tindakan sekolah. Menyiapkan materi dalam melaksanakan penelitian. Mengidentifikasi pihak-pihak terkait lainnya yang terlibat dalam melakukan penelitian tindakan. Mengidentifikasi metode pengumpulan data yang akan digunakan. Penyusunan instrumen pengamatan dan evaluasi. Mengidentifikasi fasilitas yang diperlukan.

Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain : Memaparkan materi (khususnya RPP) yang akan disupervisi. Membagi guru dalam delapan kelompok masing-masing kelompok terdiri dari guru kelas dan  guru mata pelajaran. Menjelaskan tentang cara menyusun RPP. Guru diberi tugas menyusun RPP berdasarkan silabus yang disiapkan. Mempresentasekan hasil kerja masing-masing mata pelajaran dalam kelompok. Kepala sekolah mengevasluasi hasil kerja guru.

Pengamatan atau observasi dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar observasi selama satu minggu (satu siklus), untuk semua guru yang berjumlah 13 orang. Selama pengamatan peneliti dibantu oleh guru pembimbing atau pemateri. Pengamatan oleh peneliti meliputi kemampuan merumuskan indikator untuk tiap mata pelajaran.. Kemampuan merumuskan tujuan pembelajaran untuk tiap mata pelajaran. Kemampuan merumuskan langkah-langkah pembelajaran untuk tiap mata pelajaran. Kemampuan untuk  menentukan media pembelajaran sesuai dengan materi yang diajarkan masing-msing mata pelajaran.

Hasil observasi guru siklus I dalam menulis dan merumuskan RPP masing-masing mata pelajaran di SD Inpres Beloaja Kecamatan Tanjung Bunga Kabupaten Flores Timur menunjukkan bahwa jumlah guru yang mampu merumuskan indikator untuk tiap mata pelajaran ada 4 orang guru dengan prosentase 30,77%. Jumlah guru yang mampu  mampu merumuskan tujuan pembelajaran untuk tiap mata pelajaran ada 5 orang dengan prosentase 38,46%. Jumlah guru yang mampu merumuskan langkah-langkah pembelajaran untuk tiap mata pelajaran ada 4 orang dengan prosentase 30,77% sedangkan guru yang untuk menentukan sumber dan media pembelajaran masing-msing mata pelajaran ada 5 orang dengan prosentase 38,46%.

Melihat hasil yang diperoleh pada siklus I belum menunjukan hasil yang memuaskan. Indikator keberhasilan penerapan tindakan ini peneliti tetapkan sebesar 85% dalam menyusun penelitian tindakan kelas. keempat aspek penilaian belum menunjukkan hasil yang signifikan. Artinya berdasarkan indikator jika guru sudah mencapai 85% maka guru dikatakan mampu dalam menulis dan merumuskan RPP. Prosentase dari keempat aspek yang belum mencapai indikator tersebut adalah guru yang belum mampu merumuskan indikator untuk tiap mata pelajaran ada 9 orang guru dengan prosentase 69,23%. Jumlah guru yang belum mampu  mampu merumuskan tujuan pembelajaran untuk tiap mata pelajaran ada 8 orang dengan prosentase 61,54%. Jumlah guru yang belum mampu merumuskan langkah-langkah pembelajaran untuk tiap mata pelajaran ada 9 orang dengan prosentase 69,23% sedangkan guru yang untuk menentukan media dan sumber pembelajaran masing-msing mata pelajaran ada 8 orang dengan prosentase 61,54%. Setelah melalui refleksi maka perlu adanya perbaikan di siklus II.

Kegiatan yang dilakukan peneliti dalam perencanaan siklus II adalah menyiapkan  materi yang akan disupervisi. Menghubungi pembimbing untuk melaksanakan penelitian tindakan sekolah. Mengidentifikasi pihak-pihak terkait lainnya yang terlibat dalam melakukan penelitian tindakan.  Mengidentifikasi metode pengumpulan data yang akan digunakan. Penyusunan instrumen pengamatan dan evaluasi. Mengidentifikasi fasilitas yang diperlukan.

Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain membagi guru dalam delapan kelompok masing-masing kelompok terdiri dari guru kelas dan guru mata pelajaran. Menjelaskan tentang cara merumuskan indikator, tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran serta menentukan media atau saran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Guru diberi tugas merumuskan indikator masing-masing mata pelajaran. Guru diberi tugas merumuskan tujuan pembelajaran untuk masing-masing mata pelajaran. Guru diberi tugas merumuskan langkah-langkah pembelajaran untuk satu materi ajar untuk masing-masing mata pelajaran. Guru diberi tugas menentukan sumber atau media yang sesuai dengan materi yang diajarkan untuk masing-masing mata pelajaran. Mempresentasekan hasil pekerjaan masing-msing mata pelajaran dalam kelompok. Mengevaluasi hasil pekerjaan guru.

Pengamatan atau observasi dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar observasi selama satu minggu (satu siklus), untuk semua guru yang berjumlah 13 orang. Selama pengamatan peneliti dibantu oleh guru pembimbing atau pemateri. Pengamatan oleh peneliti meliputi kemampuan merumuskan indikator untuk tiap mata pelajaran.. Kemampuan merumuskan tujuan pembelajran untuk tiap mata pelajaran. Kemampuan merumuskan langkah-langkah pembelajaran untuk tiap mata pelajaran. Kemampuan untuk menentukan sumber atau media yang sesuai dengan masing-msing mata pelajaran..

Sedangkan hasil observasi guru siklus II dalam menrumuskan dan menulis RPP tiap-tiap mata pelajaran bagi guru di SD Inpres Beloaja Kecamatan Tanjung Bunga Kabupaten Flores Timur menunjukkan bahwa jumlah guru yang mampu merumuskan indikator untuk tiap mata pelajaran ada 13 orang guru dengan prosentase 100%. Jumlah guru yang mampu  mampu merumuskan tujuan pembelajaran untuk tiap mata pelajaran ada 13 orang dengan prosentase 100%. Jumlah guru yang mampu merumuskan langkah-langkah pembelajaran untuk tiap mata pelajaran ada 13 orang dengan prosentase 100% sedangkan guru yang untuk menentukan sumber dan media pembelajaran masing-msing mata pelajaran ada 13 orang dengan prosentase 100%.

Berdasarkan hasil yang diperoleh siklus I dan siklus II menunjukkan bahwa supervisi klinis kepala sekolah dalam merumuskan dan menulis rencana pelaksanaan pembelajaran tiap-tiap mata pelajaran di SD Inpres Beloaja Kecamatan Tanjung Bunga Kabupaten Flores Timur dapat ditingkatkan.

KESIMPULAN

Data hasil observasi guru siklus I dalam merumuskan dan menulis RPP masing-masing mata pelajaran di SD Inpres Beloaja Kecamatan Tanjung Buinga Kabupaten Flores Timur menunjukkan bahwa jumlah guru yang mampu merumuskan indikator untuk tiap mata pelajaran ada 4 orang guru dengan prosentase 30,77%. Jumlah guru yang mampu  mampu merumuskan tujuan pembelajaran untuk tiap mata pelajaran ada 5 orang dengan prosentase 38,46%. Jumlah guru yang mampu merumuskan langkah-langkah pembelajaran untuk tiap mata pelajaran ada 4 orang dengan prosentase 30,77% sedangkan guru yang untuk menentukan sumber dan media pembelajaran masing-msing mata pelajaran ada 5 orang dengan prosentase 38,46%.

Data hasil observasi guru siklus II dalam merumuskan dan menulis rencana pelaksanaan pembelajaran masing-masing mata pelajaran di SD Inpres Beloaja Kecamatan Tanjung Bunga Kabupaten Flores Timur menunjukkan bahwa jumlah guru yang mampu merumuskan indicator untuk tiap mata pelajaran ada 13 orang guru dengan prosentase 100%. Jumlah guru yang mampu  mampu merumuskan tujuan pembelajaran untuk tiap mata pelajaran ada 13 orang dengan prosentase 100%. Jumlah guru yang mampu merumuskan langkah-langkah pembelajaran untuk tiap mata pelajaran ada 13 orang dengan prosentase 100% sedangkan guru yang untuk menentukan sumber dan media pembelajaran masing-msing mata pelajaran ada 13 orang dengan prosentase 100%.

Berdasarkan analisis data, dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan supervisi klinis efektif untuk meningkatkan kemampuan guru dalam merumuskan dan menuliskan rencana pelaksanaan pembelajaran tiap-tiap mata pelajaran di SD Inpres Beloaja Kecamatan Tanjung Bunga Kabupaten Flores Timur.

SARAN

Adanya pengaruh peningkatan kemampuan merumuskan dan menulis rencana pelaksanaan pembelajaran tiap-tiap mata pelajaran melalui kegiatan supervisi klinis kepala sekolah, maka melalui kesempatan ini peneliti mengajukan beberapa saran : Semua Kepada Kepala Sekolah disarankan melakukan supervisi kepada guru dalam merumuskan dan menulis RPP tiap-tiap mata pelajaran di sekolah. Kepada semua guru dalam melaksanakan tugas untuk dapat meningkatkan kemampuan guru dalam merumuskan dan menulis RPP tiap-tiap mata pelajaran sebagai bentuk peningkatan profesi guru. ***

 

You may also like