Home EkoBis Waste-to-Worth, Strategi Denpasar Jaga Pariwisata Berkelanjutan

Waste-to-Worth, Strategi Denpasar Jaga Pariwisata Berkelanjutan

by Bali Paradiso
0 comment

DENPASAR – Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Pariwisata Kota Denpasar menggelar kegiatan Gathering Destinasi 2026 bertajuk “Waste-to-Worth: Implementing Circular Economy in Denpasar’s Tourism”, Selasa (28/4/2026), di Mercure Sanur Hotel.

Kegiatan ini menghadirkan berbagai narasumber dari lintas sektor, mulai dari komunitas lingkungan, pelaku industri pariwisata, hingga pemerintah, guna mendorong implementasi ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah, khususnya di sektor pariwisata.

Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa bersama, serta penampilan Tari Jempiring. Sambutan Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, dibacakan oleh Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya.

Dalam sambutannya, Wali Kota Jaya Negara menegaskan bahwa Denpasar sebagai pusat kota sekaligus destinasi wisata domestik dan internasional tidak hanya dituntut menghadirkan pariwisata berkualitas, tetapi juga berkelanjutan. Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah meningkatnya volume sampah seiring pertumbuhan aktivitas masyarakat dan sektor pariwisata.

“Pengelolaan sampah, khususnya dari sektor pariwisata, harus dilakukan secara terintegrasi. Hal ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga citra destinasi dan kenyamanan wisatawan,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa sampah tidak lagi dapat dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya bernilai ekonomi, sejalan dengan konsep pengelolaan sampah berbasis sumber yang telah diterapkan di Kota Denpasar.

Ketua Eling Ring Pertiwi, A.A Ngurah Srijaya Widiada, sebagai narasumber pertama, menekankan pentingnya perubahan yang dimulai dari langkah kecil namun dilakukan secara konsisten. Dalam materinya bertajuk “Small Action, Big Impact – Let’s Start Now”, ia mengajak seluruh pihak menerapkan konsep zero waste dengan menjadikan pemilahan sampah dari sumber sebagai kunci utama.

Baca Juga:   Dispora Sumbar Latih 30 Wirausahawan Muda Angkatan Ke-2

Ia juga menyoroti lima nilai dasar yang perlu diterapkan, yakni duty, devotion, discipline, discrimination, dan determination, sebagai landasan dalam membangun kesadaran dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Sementara itu, perwakilan Manajemen PT Bali Ocean Magic (Waterbom Bali), Syifa Muntaha, memaparkan praktik pengelolaan lingkungan yang telah diterapkan di Waterbom Bali. Sebagai boutique botanical waterpark, Waterbom mengusung filosofi karmic returns serta menerapkan konsep Tri Hita Karana dalam operasionalnya, dengan fokus pada tiga pilar utama: air, sampah, dan energi.

Dalam pengelolaan sampah, Waterbom menghasilkan rata-rata 1.197 kg sampah per hari, dengan angka sekitar 0,3 kg per orang per hari—lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional sebesar 0,7 kg per orang per hari.

Berbagai kebijakan diterapkan, seperti pelarangan plastik sekali pakai, penggunaan produk ramah lingkungan, serta pengolahan sampah organik melalui fasilitas komposting internal. Dalam satu tahun, sekitar 330 ton sampah organik berhasil diolah, yang turut berkontribusi pada pengurangan emisi sebesar 17 ton CO₂e.

Narasumber lainnya, I Komang T. Ananda D. Priantara, menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan sampah, khususnya melalui pendekatan blockchain. Menurutnya, teknologi mampu menghadirkan transparansi, ketertelusuran (traceability), serta sistem insentif berbasis digital bagi masyarakat yang berpartisipasi.

“Pengelolaan sampah ke depan harus terintegrasi antara aspek lingkungan, ekonomi, dan teknologi, sehingga tercipta sistem yang transparan dan berkelanjutan,” jelasnya.

Baca Juga:   Momentum Optimisme Konsumen Bali Tertahan pada Pebruari 2022

Dari sisi pemerintah, perwakilan DLHK Kota Denpasar, Kadek Mahendra, menegaskan bahwa pengelolaan sampah merupakan isu strategis dalam pembangunan kota berkelanjutan. DLHK terus mendorong penerapan pengelolaan sampah berbasis sumber melalui pemilahan sejak dari rumah tangga, pelaku usaha, hingga destinasi wisata.

Berbagai upaya dilakukan, mulai dari edukasi masyarakat, penyediaan fasilitas, penguatan regulasi, hingga monitoring dan evaluasi secara berkala. Ia menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha.

Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun kesadaran kolektif seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama mengelola sampah secara bijak dan berkelanjutan.

Konsep waste-to-worth menjadi langkah nyata dalam mengubah paradigma sampah, dari yang semula dianggap beban menjadi sumber daya bernilai ekonomi, sekaligus mendukung terwujudnya pariwisata Denpasar yang berkualitas dan berkelanjutan. **

Berita Terkait