Home Pendidikan Kajian Metode Kerja Kelompok Pembelajaran PKN Bagi Siswa Kelas VIII SMP NEGERI SATU ATAP RIANGDULI

Kajian Metode Kerja Kelompok Pembelajaran PKN Bagi Siswa Kelas VIII SMP NEGERI SATU ATAP RIANGDULI

by Igo Kleden

NO.13/THN.XV/OKT/2022

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pendidikan selalu mengalami pembaharuan dalam rangka mencari struktur kurikulum, sistem pendidikan dan metode pengajaran yang efektif dan efisien. Upaya tersebut antara lain peningkatan sarana dan prasarana, peningkatan mutu para pendidik dan peserta didik serta perubahan dan perbaikan kurikulum. Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu memiliki dan memecahkan problema pendidikan yang dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta didik. Konsep pendidikan tersebut terasa semakin penting ketika seseorang harus memasuki kehidupan di masyarakat dan dunia kerja, karena peserta didik harus mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk menghadapi problema yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari saat ini maupun yang akan datang.

EDELTRUDIS PUHU GELONG,S.Pd

Sekolah sebagai suatu institusi atau lembaga pendidikan harus mampu melakukan proses edukasi, sosialisasi, dan transformasi. Dengan kata lain, sekolah yang bermutu adalah sekolah yang mampu berperan sebagai proses edukasi (proses pendidikan yang menekankan pada kegiatan mendidik dan mengajar), proses sosialisasi (proses bermasyarakat terutama bagi anak didik), dan wadah proses transformasi (proses perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik atau lebih maju).

Masalah proses belajar mengajar pada umumnya terjadi di kelas. Kelas dalam hal ini dapat berarti segala kegiatan yang dilakukan guru dan anak didiknya di suatu ruangan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM). Proses pembelajaran melalui interaksi guru dan siswa, siswa dan siswa, dan siswa dengan guru, secara tidak langsung menyangkut berbagai komponen lain yang saling terkait menjadi satu sistem yang utuh. Perolehan hasil belajar sangat ditentukan oleh baik tidaknya kegiatan dan pembelajaran selama program pendidikan dilaksanakan di kelas yang pada kenyataannya tidak pernah lepas dari masalah.

Tujuan Pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Bertitik tolak dari dasar, fungsi, dan tujuan pendidikan nasional tersebut menjadi jelas bahwa manusia Indonesia yang hendak di bentuk melalui proses pendidikan bukan sekedar manusia yang berilmu pengetahuan semata tetapi sekaligus membentuk manusia indonesia yang berkepribadian sebagai warga negara Indonesia yang demokratis dan bertanggung jawab. Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) memiliki peranan yang strategis dan penting. Yaitu dalam membentuk Peserta didik maupun sikap dalam berperilaku keseharian, sehingga di harapkan setiap individu mampu menjadi pribadi yang baik. Kenyataan dilapangan pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) masih dianggap sebagai pelajaran nomor dua atau dianggap sepele oleh sebagian besar peserta didik, Selama ini guru masih menggunakan model pembelajaran konvensional atau tradisional. Metode konvensional merupakan metode dimana guru memegang peranan utama dalam menentukan isi dan langkah-langkah dalam menyampaikan materi kepada peserta didik.

Berdasarkan observasi di SMP Negeri Satu Atap Riangduli, peneliti menemukan beberapa permasalahan pembelajaran PKn yaitu kegiatan pembelajaran kurang mengaktifkan siswa dan kurang mengoptimalkan metode pembelajaran yang inovatif. Permasalahan juga terjadi pada siswa yaitu kurangnya keaktifan siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat, kurangnya aktivitas siswa dalam diskusi sehingga kurang melibatkan diri dalam diskusi kelompok, kurangnya ketertarikan siswa mengikuti kegiatan pembelajaran sehingga kurang memperhatikan penjelasan guru, dan siswa cepat merasa bosan saat mengikuti kegiatan pembelajaran PKn. Permasalahan tersebut berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa. Data hasil belajar mata pelajaran PKn pada siswa kelas VIII SMP Negeri Satu Atap Riangduli menunjukkan bahwa 23 dari 35 siswa masih memperoleh nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan yaitu 75. Data hasil belajar juga menunjukkan bahwa nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 50 dan nilai tertinggi adalah 80 dengan rata-rata kelas 60 %.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dirumuskan judul penelitian sebagai berikut: “Kajian Metode Kerja Kelompok Pembelajaran PKn Bagi Siswa Kelas VIII SMP Negeri Satu Atap Riangduli”.

Rumusan Masalah

Demi tercapainya penelitian yang jelas dan terarah maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut Bagaimanakah penerapan metode kerja kelompok pada siswa kelas VIII SMP Negeri Satu Atap Riangduli?

Pemecahan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah di atas, peneliti mengambil langkah yang mungkin dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan mengikuti langkah pemecahan masalah secara ilmiah yaitu:

  1. Perencanaan
  2. Pelaksanaan
  3. Pengamatan
  4. Refleksi

Peneliti mengembangkan sintaks metode pembelajaran kerja kelompok adalah sebagai berikut :

  1. Menjelaskan tugas kepada siswa.
  2. Menjelaskan apa tujuan kerja kelompok itu.
  3. Membagi kelas menjadi beberapa kelompok.
  4. Setiap kelompok menunjuk seorang pencatat yang akan membuat laporan tentang kemajuan dan hasil kelompok tersebut.
  5. Guru berkeliling selama kerja kelompok itu berlangsung, bila perlu memberi saran/pertanyaan.
  6. Guru membantu menyimpulkan kemajuan dan menerima hasil kerja kelompok.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka dirumuskan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui penerapan metode kerja kelompok pada siswa kelas VIII SMP Negeri Satu Atap Riangduli.

Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Teoretis

Dengan penelitian ini diharapkan peneliti dapat mengetahui penerapan metode kerja kelompok sehingga peneliti dapat mengetahui dan mampu menggunakan salah satu metode yang efektif dalam pembelajaran PKn. Secara teoritis penelitian ini memberikan informasi bagaimana cara mengatasi permasalahan yang ada dalam proses belajar mengajar PKn, terutama dalam hal bagaimana meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn menggunakan metode kerja kelompok.

  1. Manfaat Praktis

a. Bagi Guru

  • Dapat meningkatkan keterampilan guru dalam melaksanakan pembelajaran PKn di sekolah menengah pertama.
  • Dapat meningkatkan profesionalisme guru dalam melaksanakan pembelajaran yang inovatif.

b. Bagi Siswa

  • Dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran PKn sehingga terjalin interaksi yang baik antara siswa dan siswa maupun siswa dan guru.
  • Dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn

c. Bagi Sekolah

Memberikan masukan kepada sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa dengan menggunakan model, metode maupun media pembelajaran yang inovatif khususnya menggunakan metode kerja kelompok.

Baca Juga:   MENGEMBANGKAN SUPERVISI KLINIS DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU SD INPRES LEWOPAO MENYUSUN DAN MENGIMPLENTASIKAN RPP DI KELAS

Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir dari kajian teori di atas terdiri dari tiga tahap, yaitu kondisi awal, tindakan, dan kondisi akhir. Pada kondisi awal di kelas VIII SMP Negeri Satu Atap Riangduli, terdapat permasalahan yang menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran PKn sebagai berikut, guru belum menggunakan metode pembelajaran yang tepat sehingga siswa kurang termotivasi untuk mempelajari materi. Siswa kurang mempunyai tanggung jawab atas tugas yang diberikan oleh guru. Selain itu guru belum menggunakan metode pembelajaran yang menarik sehingga siswa kurang termotivasi dalam mengikuti pembelajaran. Siswa kurang memperhatikan penjelasan dari guru, siswa ramai sendiri sehingga suasana di kelas kurang kondusif.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah melalui metode pembelajaran kerja kelompok. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

  1. Menjelaskan tugas kepada siswa.
  2. Menjelaskan apa tujuan kerja kelompok itu.
  3. Membagi kelas menjadi beberapa kelompok.
  4. Setiap kelompok menunjuk seorang pencatat yang akan membuat laporan tentang kemajuan dan hasil kelompok tersebut.
  5. Guru berkeliling selama kerja kelompok itu berlangsung, bila perlu memberi saran/pertanyaan.
  6. Guru membantu menyimpulkan kemajuan dan menerima hasil kerja kelompok.

Sesuai dengan permasalahan atau kondisi awal di atas maka solusi yang digunakan yaitu melalui metode pembelajaran kerja kelompok. Penggunaan metode pembelajaran tersebut mempunyai harapan agar hasil belajar siswa dapat meningkat dengan kriteria yang akan dijelaskan pada indikator keberhasilan. Gambaran tentang kondisi awal atau permasalahan, penerapan tindakan, dan kondisi akhir yang ingin dicapai dapat dilihat pada bagan sebagai berikut :

Hipotesis Penelitian

Berdasarkan uraian pada kajian pustaka dan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis tindakan adalah melalui metode pembelajaran kerja kelompok akan meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran PKn pada siswa kelas VIII SMP Negeri Satu Atap Riangduli.

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

Metode penelitian adalah suatu cara atau prosedur yang dipakai dalam melakukan penelitian sesuai dengan permasalahan dan tujuan dari penelitian. Sehingga metode penelitian yang digunakan, harus ditetapkan berdasar pada tujuan yang diharapkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Penelitian Tindakan Sekolah.

Lokasi dan Waktu Penelitian

  1. Lokasi Penelitian

Yang menjadi tempat atau lokasi penelitian adalah SMP Negeri Satu Atap Riangduli, Desa Riangduli Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur.

  1. Waktu Penelitian

Dalam penelitian ini waktu yang dibutuhkan dalam memperoleh data kurang lebih satu bulan yakni dari bulan Agustus 2022.

Subyek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri Satu Atap Riangduli sebanyak 35 siswa yang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan.

Sumber Data

Data yang baik adalah data yang diambil dari sumber yang tepat dan akurat, sehingga dalam menetapkan sumber data harus dipikirkan dengan matang. (Arikunto, 2009:129). Dalam penelitian tindakan kelas ini sumber data yang diambil adalah sebagai berikut :

  1. Guru

Sumber data guru berasal dari lembar observasi keterampilan guru dalam pembelajaran menddunakan metode kerja kelompok.

  1. Siswa

Sumber data siswa diperoleh dari hasil observasi yang diperoleh secara sistematik selama siklus pertama sampai siklus kedua yang berupa lembar aktivitas dan hasil belajar siswa.

  1. Data dokumen

Data dokumen yang menjadi sumber data dalam penelitian ini berupa data sebelum dan sesudah dilaksanakannya penelitian. Sebelum dilaksanakannya penelitian data dokumen berupa: daftar nama siswa, data nilai siswa sebelum dilakukan penelitian. Data dokumen setelah dilakukan penelitian berupa foto dan video pada saat pelaksanaannya penelitian dan data nilai siswa setelah dilaksanakannya penelitian.

  1. Catatan lapangan

Sumber data yang berupa catatan lapangan berasal dari catatan selama pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dan siklus II berupa data aktivitas siswa, aktivitas guru, dan kemampuan siswa dalam pembelajaran PKn. Catatan tersebut dideskripsikan ke dalam lembar catatan lapangan agar bisa terlihat dampak yang timbul dari pemberian tindakan.

Prosedur Penelitian

Prosedur atau langkah penelitian yang dilakukan terbagi dalam bentuk siklus kegiatan yang diadopsi dari Elliot, di mana setiap siklus terdiri atas empat kegiatan pokok yaitu : perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Empat kegiatan ini berlangsung secara simultan yang urutannya dapat mengalami modifikasi.

Rancangan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, dengan tahapan sebagai berikut:

  1. Perencanaan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan adalah menyusun instrumen penelitian, yang meliputi: penyusunan perangkat pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan skenario pembelajaran dengan penerapan metode kerja kelompok; menyusun penugasan siswa; membuat instrumen tes berupa tes formatif yang dikerjakan secara individu dan kelompok; serta mengembangkan instrumen lembar observasi yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang aktivitas siswa maupun yang berisi butir-butir sasaran tentang aktivitas siswa dalam pembelajaran.

  1. Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan berupa penerapan metode kerja kelompok pada pembelajaran Mata Pelajaran PKn. Secara garis besar kegiatan pembelajaran dilakukan dengan membagi menjadi tiga tahap, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Pada kegiatan inti pembelajaran, diterapkan langkah-langkah sesuai pembelajaran metode kerja kelompok yaitu:

  • Menjelaskan tugas kepada siswa.
  • Menjelaskan apa tujuan kerja kelompok itu.
  • Membagi kelas menjadi beberapa kelompok.
  • Setiap kelompok menunjuk seorang pencatat yang akan membuat laporan tentang kemajuan dan hasil kelompok tersebut.
  • Guru berkeliling selama kerja kelompok itu berlangsung, bila perlu memberi saran/pertanyaan.
  • Guru membantu menyimpulkan kemajuan dan menerima hasil kerja kelompok.

Pengamatan

Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Dalam kegiatan ini, peneliti dibantu oleh kolaborator agar mendapatkan hasil pengamatan yang lebih objektif. Peneliti bersama kolaborator mengisi instrumen lembar observasi yang memuat beberapa aspek aktivitas belajar siswa yang meliputi: perhatian terhadap guru; aktivitas siswa dalam diskusi; kemampuan mengemukakan pendapat; merespon pendapat teman; kemampuan memanfaatkan waktu; kemampuan membangun ide; dan kemampuan menarik simpulan.

  1. Refleksi

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah mengulas, membahas, dan megevaluasi kegiatan pembelajaran yang baru saja dilaksanakan. Refleksi dilakukan untuk mengetahui kekurangan atau kendala yang dihadapi pada tindakan tiap siklusnya. Refleksi dilakukan berdasarkan hasil tes dan observasi selama proses pembelajaran berlangsung. Apabila dalam kegiatan refleksi ini menyimpulkan bahwa hasil yang diharapkan belum tercapai, akan direncanakan perbaikan pada siklus berikutnya. Akan tetapi, apabila hasil yang diharapkan sudah tercapai sesuai indikator yang ditetapkan, tidak akan dilanjutkan pada siklus berikutnya.

Baca Juga:   Poltekpar Bali Sukses Gelar Studium Generale Hadirkan 7791 Peserta

Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang sesuai dengan tujuan penelitian, maka dalam melaksanakan penelitian diperlukan adanya teknik pengumpulan data yang tepat. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Teknik Pengumpulan Data

a. Tes

Tes adalah instrumen pengumpulan data untuk mengukur kemampuan siswa dalam aspek kognitif, atau tingkat penguasaan materi pembelajaran (Sanjaya, 2011:99). Selanjutnya Bukhori (dalam Arikunto, 2012:46) mengatakan bahwa tes adalah sesuatu percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hasil-hasil pelajaran tertentu pada seorang murid atau kelompok murid. Lebih singkat Arikunto (2012: 47) mengartikan tes merupakan suatu alat pengumpul informasi.

Jadi tes adalah alat untuk memperoleh informasi baik kondisi, perkembangan atau perubahan yang diinginkan pada murid atau kelompok murid. Teknik tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa yang ditunjukkan pada kemampuan dasar atau prestasi belajar siswa. Tes diberikan untuk mengetahui tingkat kemampuan kognitif siswa. Tes ini dikerjakan siswa secara individu setelah mempelajari suatu materi dengan menggunakan metode kerja kelompok. Tes ini dilakukan pada saat proses pembelajaran dan tes akhir pembelajaran pada setiap siklus.

b. Observasi

Observasi merupakan suatu kegiatan pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti. Observasi yang digunakan dalam penulisan ini adalah observasi langsung di mana observer mengobservasi proses pembelajaran yang sedang terjadi. Ditinjau dari cara pelaksanaannya observasi dibedakan menjadi dua:

  • Observasi non partisipatif

Observasi non partisipatif adalah kegiatan pengamatan di mana orang yang melakukannya tidak ikut terlibat dalam kegiatan yang diamati.

  • Observasi partisipatif

Observasi partisipatif dalah jenis observasi yang pengamatannya terlibat pada sebagian atau seluruh kegiatan yang diamati.Dalam penelitian ini peneliti menggunakan observasi partisipatif dan dilakukan secara formal di dalam ruang kelas pada saat pembelajaran sedang berlangsung.

  1. Alat Pengumpulan Data

Instrumen yang di gunakan untuk mengumpulkan data adalah sebagai berikut:

a. Lembar observasi.

b. Tes evaluasi yaitu daftar pertanyaan yang diajukan kepada subjek penelitian untuk mengetahui prestasi belajar siswa.

Teknik Analisa Data

Penulisan ini merupakan penulisan kualitatif di mana dalam menganalisa data yang ada penulis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dengan cara mereduksi data, menyajikan data kemudian menarik simpulan. Untuk data hasil evaluasi ditentukan dengan kriteria ketuntasan minimal yang dapatdi lihat pada halaman berikut :

Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan merupakan tolak ukur dalam penelitian ini. Pengukuran keberhasilan tindakan sedapat mungkin telah ditetapkan sejak awal penelitian, demikian pula kriteria keberhasilan tindakan. Penelitian ini di anggap berhasil dan selesai apabila lebih dari 75% siswa mampu meningkatkan hasil belajar lewat metode pembelajaran kerja kelompok.

Hasil Penelitian

Penelitian tindakan kelas yang direncanakan menggunakan dua siklus, dengan dua kali pertemuan. Dalam penelitian ini setiap pembelajaran digunakan lembar observasi dan soal tes untuk mengukur sejauh mana keaktifan siswa dan hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran PKn dengan menggunakan metode kerja kelompok. Adapun hasil dari penelitian yang telah penulis lakukan adalah sebagai berikut:

  1. Hasil Penelitian Siklus I

a. Hasil Non-Tes

Hasil non-tes berupa pengamatan terhadap aktivitas siswa dalam proses pembelajaran yang diperoleh melalui lembar pengamatan atau observasi awal terhadap tingkat aktivitas siswa sebelum atau prapembelajaran adalah sebagaimana terangkum dalam tabel berikut ini.

Pada tabel 4.1 menunjukkan bahwa sebelum atau prapembelajaran aktifitas siswa yang tergolong kurang 25 orang (71%), 7 orang (20%) tergolong cukup, dan 3 orang (9%) tergolong baik.

Hasil penelitian non-tes setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tanpa menggunakan metode kerja kelompok, berdasarkan lembar pengamatan terhadap keaktivan siswa adalah seperti tercantum dalam tabel berikut ini.

Berdasarkan data pada tabel 4.2, nampak bahwa dari 35 orang siswa di kelas VIII yang mengikuti kegiatan pembelajaran PKn pada siklus pertama tanpa menggunakan metode kerja kelompok ternyata aktivitas siswa sedikit meningkat, yaitu siswa tergolong kurang tingkat aktivitasnya menurun menjadi 22 orang (63%), sementara aktivitas siswa yang tergolong cukup meningkat menjadi 9 orang (26%), dan siswa yang tergolong baik dalam beraktivitas meningkat menjadi 4 orang (11%).

b. Hasil Tes

Untuk dapat melakukan perbandingan sekaligus dapat menarik kesimpulan perubahan hasil belajar siswa antara sebelum pembelajaran Pkn dilakukan tes awal (pra-test) dan sesudah pembelajaran tanpa menggunaan metode kerja kelompok maka dilakukan tes normatif berdasarkan instrumen penilaian tes awal dan normatif dan sesuai dengan materi Pancasila sebagai ideologi negara masing-masing sebanyak 5 item soal. Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut.

Berdasarkan hasil tes awal prapembelajaran tabel 4.3 di atas, terungkap bahwa dari 35 orang siswa Kelas VIII SMP Negeri Satu Atap Riangduli yang mengikuti tes normatif sebelum proses pembelajaran, ternyata hanya 5 orang (14%) yang mencapai KKM, sedangkan 30 orang (86%) belum mencapai batas ketuntasan, berarti belum mencapai kompetensi dasar Mata Pelajaran PKn dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk PKn yang ditetapkan sekolah, yaitu 75. Setelah mengikuti proses pembelajaran PKn dengan materi tanpa penggunaan metode kerja kelompok dan pada akhir kegiatan pembelajaran dilakukan evaluasi (tes normatif) maka diperoleh nilai seperti yang tercantum pada tabel berikut.

Pada tabel 4.4 yang merupakan hasil tes evaluasi (tes normatif), menunjukan bahwa siswa yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran PKn yang ditetapkan oleh sekolah, yaitu 75, adalah sebanyak 26 orang (74%). Sedangkan siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal sebanyak 9 orang (26%). Dengan demikian ditinjau dari sudut ketuntasan belajar mengalami peningkatan dari 14% menjadi 26%.

c. Hasil refleksi Iklus I

Pada akhir pembelajaran pertama siklus I, jika melihat dari hasil observasi dan aktivitas siswa, peneliti melakukan refleksi tentang keseluruhan kegiatan pembelajaran pada siklus I.

Baca Juga:   Supervisi Klinis Meningkatkan Kemampuan Guru di SD INPRES BELOAJA Dalam Menyusun RPP

Hasil refleksi adalah sebagai berikut :

  • Menggunakan metode konvensional atau menggunakan metode ceramah tidak begitu efektif dalam pembelajaran.
  • Aktivitas siswa kurang dan kurang memperhatikan pembelajaran karena merasa bosan, dan terlihat pada hasil belajar siswa tersebut yang umumnya masih di bawah KKM.

Hasil refleksi menunjukkan bahwa siklus I perlu direvisi untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tetapi tetap mempertahankan unsur pokoknya.

d. Merevisi Model

Berdasarkan refleksi tersebut, maka siklus I direvisi dengan cara :

  • Merubah metode pembelajaran yang sebelumnya menggunakan metode ceramah diganti dengan metode kerja kelompok.
  • Metode kerja kelompok digunakan mengatasi kelemahan-kelemahan yakni untuk lebih memotivasi siswa agar lebih aktif dalam pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar dari sebelumnya.
  1. Hasil Penelitian Siklus II

Mengacu pada hasil refleksi siklus I maka rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk siklus II mengalami perubahan khususnya penggunaan metode ceramah diganti dengan menggunakan metode kerja kelompok.

Pada umumnya prosedur tindakan pada siklus II dapat diterapkan secara konsisten, yakni mencakup semua revisi terhadap proses pembelajaran pada siklus I. Informasi awal tentang kompetensi dasar, indikator pembelajaran, materi pokok dan komponen-komponen berhubungan dengan materi pelajaran dijelaskan secara detail sehingga siswa memperoleh gambaran yang jelas tentang arah pembelajaran. Hampir semua siswa terlibat atau aktif dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode kerja kelompok yang mengarah pada kompetensi dasar yang hendak dicapai. Aktifitas siswa dalam proses pembelajaran dan hasil belajar siswa terjadi peningkatan.

a. Hasil Non Tes

Hasil non-tes berupa aktivitas siswa dengan menggunakan metode kerja kelompok melalui lembar pengamatan atau observasi adalah sebagaimana terangkum dalam tabel berikut ini.

 

 

 

 

 

Pada tabel 4.5, nampak bahwa revisi terhadap pembelajaran siklus I berupa penggunaan metode kerja kelompok berdampak pada terjadinya peningkatan pada aktivitas siswa. Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa pada proses pembelajaran siklus II adalah siswa yang tergolong kurang aktif terjadi penurunan sebanyak 8 orang (23%),  yang tergolong cukup 11 orang (31%), dan yang tergolong baik dalam beraktivitas mengalami peningkatan 16 orang sebesar 46% dibanding siklus I.

b. Hasil Tes

Hasil tes akhir (post tes) untuk mencari tahu hasil belajar siswa sebagai penerapan metode kerja kelompok setelah pembelajaran siklus II adalah sebagai berikut.

Pada tabel di atas nampak bahwa revisi terhadap penggunaan metode kerja kelompok menunjukkan perubahan hasil belajar siswa terhadap materi pelajaran cukup signifikan. Hasil evaluasi (post test) untuk tingkat pemahaman/penguasaan ataupun hasil belajar siswa terhadap materi pelajaran PKn pada akhir pembelajaran siklus II adalah dalam klasifikasi tinggi, yaitu 27 orang (77%) siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal. Dengan demikian secara matematis terjadi peningkatan hasil belajar siswa terhadap materi pelajaran pada akhir siklus II dibanding akhir siklus I sebesar 26%.

Refleksi Siklus II

Hasil refleksi dari peneliti pada akhir pembelajaran siklus II adalah sebagai berikut :

  • Proses pembelajaran berjalan dengan baik, siswa tampak bersemangat dan terlibat aktif dalam kelompok, dan suasana kelas menjadi hidup karena siswa menjadi lebih aktif dengan penggunaan metode kelompok.
  • Penggunaan metode kerja kelompok selain siswa menjadi lebih aktif juga berdampak pada meningkatnya hasil belajar siswa.

Pembahasan

Berdasarkan hasil tindakan pembelajaran pada dua siklus terungkap bahwa:

  1. Peningkatan Keaktifan Siswa

Berdasarkan tabel peningkatan observasi siswa di atas dapat dilihat bahwa keaktifan siswa selama proses pembelajaran dengan tanpa menggunakan metode kerja kelompok pada siklus I dan penerapan metode kerja kelompok pada siklus II mengalami peningkatan. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa indikator keaktifan siswa pada siklus I dan II mengalami peningkatan yang cukup baik dibandingkan sebelum dan tanpa digunakannya metode kerja kelompok. Ini menunjukkan bahwa metode kerja kelompok dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn.

  1. Peningkatan Hasil Belajar

Tabel peningkatan hasil belajar siswa di atas dapat dilihat bahwa hasil belajar siswa dalam pembelajaran dengan tanpa menggunakan metode kerja kelompok pada siklus I dan penerapan metode kerja kelompok pada siklus II mengalami peningkatan. Data yang diperoleh dari hasil pengerjaan tes yang berupa tes awal (hasil belajar siklus I, menggunakan tes normatif) dan tes akhir pada akhir siklus II dari guru menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang cukup baik dibandingkan sebelum dan tanpa digunakannya metode kerja kelompok

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di kelas VIII SMP Negeri satu Atap Riangduli, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur Pelajaran 2021/2022 melalui metode kerja kelompok dalam pembelajaran PKn dapat disimpulkan bahwa:

  1. Keaktifan belajar siswa kelas VIII SMP Negeri Satu Atap Riangduli terjadi peningkatan, itu terlihat dari hasil pengamatan keaktifan siswa pada siklus I dan siklus II. Peningkatan pada aspek keaktifan siswa ini ditunjukkan pada siklus I yang kurang aktif 22 siswa (63%), cukup 9 siswa (26%), baik 4 siswa (11%). Pada siklus II yang kurang aktif 8 siswa (23%), cukup 11 siswa (31%), baik 16 siswa (46%).
  2. Hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri Satu Atap Riangduli terjadi peningkatan, itu terlihat dari nilai hasil tes yang mencapai KKM dari siklus I dan siklus II. Peningkatan ini ditunjukkan pada siklus I berjumlah 9 siswa (26%) dan pada siklus II menjadi 27 siswa (77%).

Jadi pembelajaran PKn dengan menggunakan metode kerja kelompok dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri Satu Atap Riangduli Tahun Pelajaran 2022/2023.

Saran

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penelitian tindakan sekolah maka saran-saran yang ingin disampaikan adalah:

  1. Metode kerja kelompok sebagai metode pembelajaran merupakan salah satu alternatif terbaik bagi guru yang dapat dipergunakan dalam menunjang berbagai proses belajar mengajar.
  2. Bagi siswa hendaknya pada saat proses belajar mengajar berlangsung lebih aktif dan lebih memperhatikan pelajaran serta lebih disiplin supaya waktu proses pembelajaran lebih efisien.
  3. Diharapkan kepada peneliti lain untuk dapat melaksanakan penelitian dengan lingkup yang lebih luas, sehingga dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan umumnya dan mata pelajaran PKn khususnya.

 

Berita Terkait