Para Pelaku Usaha Wisata Selam Diberikan Panduan CHSE

Jakarta (Paradiso) – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf/Baparekraf RI) melalui Deputi Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf RI telah menyelenggarakan kegiatan “Sosialisasi Panduan CHSE Wisata Selam & Dive Tourism Market Updates” di Jakarta secara daring pada hari Selasa, 3/11/ 2020.

Kegiatan ini merupakan sosialisasi panduan pelaksaaan Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) Usaha Wisata Selam. Kali ini sosialisasi ditujukan untuk pelaku usaha wisata selam sekitar Jakarta, Bogor, Tangerang Depok, Bekasi, Serang dan Bandung. Setelah sebelumnya telah dilakukan serangkaian kegiatan sosialisasi telah dilaksanakan di beberapa destinasi selam secara hybrid di Manado, Labuan Bajo dan Bali pada bulan Oktober 2020.

Deputi Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Rizki Handayani menjelaskan bahwa panduan CHSE wisata selam ini telah disusun Bersama kalangan industri wisata selam dan dilegitimasi oleh badan Dive Alert Network (DAN).

“Dengan adanya panduan ini diharapkan wisata kegiatan selam dalam berjalan kembali dengan nyaman dan aman, “ ujar Bu Kiki, panggilan akrabnya.

“Mudah – mudahan panduan CHSE dapat memberikan pemahaman bagaiman menjalankan kegiatan wisata selam di era new normal ini kepada kalangan industri wisata selam dan mengajak untuk Bersama-sama mempromosikan wisata selam kepada masyarakat luas”,tambahnya.

Kasubdinparekraf Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Puji Hastuti menjelaskan kondisi wisata selam di Kepulauan Seribu, bahwa setelah ditutup di masa pandemi, Kepulauan Seribu membuka wisata selam kembali sejak tanggal 12 Oktober 2020 dan sejak tanggal 31 Oktober 2020 sudah mulai mendapatkan kunjungan wisata selam.
Kepulauan Seribu terdiri dari 110 pulau dan pulau yang menjadi destinasi popular untuk wisata selam antara lain, Pulau Pramuka, Pulau Sepa, Pulau Harapan, Pulau Pari dan Pulau Macan.

“Sebelumnya Kepulauan Seribu telah menerapkan protokol Kesehatan untuk kegiatan wisata dengan berpedoman pada SK Kadisparekraf DKI no.135 / 2020, “ kata Puji Hastuti, mewakili Plt.Kadisparekraf DKI Jakarta, Gumilar Ekalaya.

Sesi diskusi diawali dengan pemaparan panduan CHSE wisata selam yang dibawakan oleh tim penyusun, Abimanyu Carnadie dan Bayu Wardoyo. Keduanya menjelaskan secara singkat isi dari panduan tersebut, Buku panduan protocol Kesehatan ( CHSE) wisata selam dapat diunduh di alamat ini:
https://www.kemenparekraf.go.id/asset_admin/assets/uploads/media/pdf/media_1601623587_Handbook_Selam.pdf atau di https://chse.kemenparekraf.go.id/

Bayu Wardoyo menghimbau kepada kalangan industri wisata selam untuk tidak mengakali penerapan protokol Kesehatan yang telah ditetapkan. “ Jika tidak diterapkan secara konsisten, wisatawan menjadi tidak nyaman dan aman, akibatnya tingkat kepercayaan terhadap destinasi tersebut, “ kata Bayu.

Kemudian dilanjutkan oleh Ketua Persatuan Usaha Wisata Selam Indonesia ( PUWSI) Ricky Soerapoetra. Ricky menjeaskan bahwa PUWSI telah melakukan survey mengenai dampak pandemic Covig-19 terhadap 102 pelaku usaha wisata selam. Sebanyak 66% usaha wisata telah tutup, dikarenakan banyak pemilik usaha adalah warga negara asing yang telah menutup usahanya. Sebanyak 93% responden sudah tidak memiliki pemasukan dengan total kerugian sebesar 75,8 Milyard Rupiah. Serta sebanyak 1.784 orang pekerja terdampak, dengan status dirumahkan dan lainnya.

Pemaparan dilanjutkan oleh beberapa perwakilan pelaku usaha di destinasi-destinasi wisata selam, seperti Agusto Roberto dari Laguna Gili , Lombok, NTB, I Wayan Tumbir pengelola Puri Madna Resort, Ketua Harian Gahawisri Dpc Labuan Bajo Aprita Primayuda, dan John Rahasia, pengelola Tagora Dive Center, Manado, Sulawesi Utara. Secara umum para pengelola dive center telah banyak mencari referensi protokol Kesehatan sendiri melalui badan selam internasional seperti DAN maupun PADI dan NAUI, dan menyatakan siap menerima wisatawan dengan menerapakan protokol Kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah.

Sesi diskusi kemudian diakhir dengan pemaparan dari Pemimpin Redaksi Majalah Scuba Diver Australasia edisi Indonesi Arief Yudo Wibowo dan Direktur Angkasa Pura II Muhamad Awaludin.

Kegiatan Webinar ini dapat dapat ditonton ulang di Youtube https://www.youtube.com/watch?v=6dEz_EbQhqc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *