Home Pendidikan Pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik Demi Meningkatkan Perkembangan Iman Bagi Siswa Kelas IXE di SMP NEGERI 1 LARANTUKA

Pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik Demi Meningkatkan Perkembangan Iman Bagi Siswa Kelas IXE di SMP NEGERI 1 LARANTUKA

by Igo Kleden

Nikolaus Kleden, S.Ag

NO.11/THN.XIV/2021

PENDAHULUAN

Salah satu dokumen Konsili Vatikan II, yaitu Gravissimum Educationis art.1 tentang Pendidikan Kristen menggarisbawahi betapa pentingnya pendidikan untuk siapa saja, khususnya bagi generasi muda yang masih harus berkembang, tapi juga bagi orang dewasa dalam arti pendidikan seumur hidup.

Ditegaskan bahwa pendidikan merupakan hak azasi setiap orang, karena siapa saja berhak memperkembangkan dan menyempurnakan hidup menuju kepada kepenuhannya. Pendidikan juga merupakan cara bagi manusia untuk menemukan dan memantabkan identitas atau jati dirinya di tengah-tengah perubahan atau perkembangan zaman. Dengan begitu, manusia diharapkan dapat lebih berperan secara aktif di dalam kehidupan sosial dengan mengusahakan kesejahteraan bersama.

Heryatno (2008: 14) berpendapat bahwa Pendidikan Agama Katolik harus bervisi spiritual. Yang dimaksud spiritual di sini adalah hal-hal yang berhubungan dengan inti hidup manusia. Maka bervisi spiritual berarti Pendidikan Agama Katolik secara konsisten terus berusaha memperkembangkan kedalaman hidup siswa, memperkembangkan jati diri atau inti hidup mereka. Pendidikan Agama Katolik juga berusaha membantu siswa memperkembangkan jiwa dan interioritas hidup mereka. Jiwa merupakan tempat di mana Allah bersemayam dan karena itu membuat manusia merasa rindu kepada-Nya dan peduli kepada hidup sesamanya. Sedangkan interioritas berhubungan dengan kesadaran, kedalaman dan nilai hidup yang dipegang dan diwujudkan. Karena itu, Pendidikan Agama Katolik tidak hanya mengejar prestasi akademis, tetapi juga memperkembangkan kejujuran, kepekaan, kebijaksanaan dan hati nurani siswa.

Silabus Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti (2016: 1) menyatakan bahwa melalui Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti siswa dibantu dan dibimbing agar semakin mampu memperteguh iman terhadap Tuhan sesuai dengan ajaran Agama Katolik dengan tetap memperhatikan dan mengusahakan penghormatan terhadap agama dan kepercayaan lain. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan hubungan antar-umat beragama yang harmonis dalam masyarakat Indonesia yang majemuk demi terwujudnya persatuan nasional. Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti bertujuan agar siswa memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap membangun hidup yang semakin beriman. Pengetahuan dimiliki melalui aktivitas-aktivitas: mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas-aktivitas: mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji dan mencipta. Sikap dibentuk melalui kemampuan: menerima, menjalankan, menghargai, menghayati dan mengamalkan.

Di Indonesia, agama dalam kehidupan masyarakat sangat berperan penting. Agama diyakini dapat membantu manusia agar mempunyai tujuan hidup yang jelas, oleh sebab itu setiap orang beriman bebas menentukan pilihan dalam memeluk agamanya. Manusia secara umum memang tidak bisa tanpa menganut agama, karena agama dipercaya agar setiap orang bisa berkomunikasi dengan Tuhan. Di dalam agama Katolik misalnya, ada banyak hal yang perlu dilakukan agar iman umat berkembang, antara lain: mengikuti doa bersama pada bulan kepercayaan yang kuat maka tidak akan mudah goyah dan akan terus dipupuk dalam pertumbuhan imannya. Tahap remaja juga berkaitan erat dengan kenakalan remaja karena pada masa remaja inilah seorang siswa ingin dirinya mempunyai pengaruh bagi orang lain. Iman siswa dapat dilihat dari perbuatannya. Perbuatan tersebut akan terus dilakukan selagi mengandung hal yang positif dan tidak merugikan orang yang berada di sekitarnya. Oleh sebab itu, manusia merupakan makhluk yang saling membutuhkan. Melalui perbuatan yang dilakukan oleh siswa di tengah keluarga, sekolah, Gereja dan masyarakat, iman akan menjadi penopang hidupnya. Agama yang dianut dan dipercayai oleh siswa akan terus digunakan selama hidupnya mengarah kepada Tuhan. Siswa juga merasa terbantu dengan Pendidikan Agama Katolik yang telah diberikan orang tua di rumah dan guru di sekolah.

Setiap siswa mempunyai peranannya masing-masing, sehingga perkembangan iman siswa juga berdasarkan pemahaman dari pribadi siswa, bukan pengendalian dari orang lain di sekitarnya.

Buku Iman Katolik (1996: 129) mengatakan bahwa dalam iman, manusia menyadari dan mengakui bahwa Allah yang tak-terbatas berkenan memasuki hidup manusia yang serba terbatas, menyapa dan memanggilnya. Iman berarti jawaban atas panggilan Allah, penyerahan pribadi kepada Allah yang menjumpai manusia secara pribadi juga. Dalam iman manusia menyerahkan diri kepada Sang Pemberi Hidup. Pengalaman religius memang merupakan pengalaman dasar, kendati belum berarti pertemuan dengan Allah dalam arti penuh. Di atas pengalaman dasar itulah dibangun iman, penyerahan kepada Allah, pertemuan dengan Allah. Manusia dari dirinya sendiri tak mungkin mengenal Allah. Umat Kristen mengenal Allah secara pribadi sebagai Bapa, melalui Yesus. “Tidak ada seorang pun mengenal Bapa, selain Anak dan orang yang berkenan kepadanya Anak berkenan menyatakan-Nya” (Mat 11: 27).

Selain keluarga dan sekolah serta masyarakat, Gereja juga berperan penting dalam perkembangan iman remaja. Gereja memperkembangkan iman remaja melalui Pendampingan Iman Remaja (PIR). Dengan adanya Pendampingan Iman Remaja (PIR) ini, para remaja Katolik akan terlibat aktif di dalam kegiatan Gereja, misalnya mengikuti koor, lektor, pemazmur, dirigen, misdinar, pendamping PIA serta menjadi panitia Natal dan Paskah. Kegiatan tersebut secara langsung akan membentuk iman para remaja menjadi berkembang karena para remaja mempunyai kepercayaan yang ada di dalam dirinya melalui pengaruh yang positif dari Gereja. Remaja yang bergabung dalam PIR merupakan generasi penerus Gereja di masa yang akan datang. Generasi ini berawal dari bayi yang baru dibaptis. Melalui baptisan tersebut anak menjadi Katolik. Ketika memasuki usia anak-anak, Gereja membina mereka melalui PIA. Hingga sampailah pada masa remajanya, anak dibina dan diteguhkan imannya dengan menyambut komuni pertama dan krisma (penguatan). Komuni pertama dan krisma akan mengantar para remaja sampai pada pemahaman akan iman Katolik yang sesungguhnya, sehingga para remaja semakin percaya kepada Tuhan dan dikuatkan dalam iman.

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka masalah pokok dalam skripsi ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Apa itu pokok-pokok Pendidikan Agama Katolik di sekolah?
  2. Sejauh mana pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik telah membantu memperkembangkan iman siswa di SMP Negeri 1 Larantuka ?
  3. Usaha apa yang dapat dilakukan untuk memperkembangkan iman siswa?

TUJUAN PENULISAN

Penulisan penelitian tindakan kelas  ini bertujuan untuk:

  1. Mendeskripsikan pokok-pokok Pendidikan Agama Katolik di SMP Negeri 1 Larantuka
  2. Menyampaikan gambaran pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik sejauh mana telah membantu memperkembangkan iman siswa di SMP Negeri 1 Larantuka.
  3. Mengemukakan usaha konkret yang dapat dilakukan sebagai sumbangan pemikiran yang tepat untuk meningkatkan perkembangan iman

MANFAAT PENULISAN

Penulisan penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat di antaranya:

a. Bagi Siswa

Diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa dalam memperkembangkan imannya baik secara kognitif, afektif dan praksis.

b. Bagi Guru PAK

Dengan memberikan teladan dan pengarahan yang baik kepada siswa dalam usaha memperkembangkan imannya baik secara kognitif, afektif dan praksis.

c. Bagi Penulis

Dengan mengadakan penelitian ini, diharapkan penulis dapat lebih berkembang dalam pemahaman dan pengetahuan tentang Pendidikan Agama Katolik dalam meningkatkan perkembangan iman siswa serta menjadi bekal ketika kelak sudah menjadi Guru.

METODE PENULISAN

Penulisan penelitian tindakan kelas ini menggunakan metode deskripsi analitis, itu menggambarkan Pendidikan Agama Katolik dan mengungkap keadaan iman siswa. Permasalahan pertama didalami dengan menggunakan studi pustaka. Sedangkan permasalahan kedua didalami dengan menggunakan penelitian kualitatif. Untuk mengetahui pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik demi meningkatkan perkembangan iman siswa, penulis melakukan pengamatan, menyebarkan kuesioner kepada siswa dan melakukan wawancara dengan 1 orang guru Pendidikan Agama Katolik. Data-data yang dihasilkan akan dianalisis guna mengetahui pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik demi perkembangan iman siswa di SMP Negeri 1 Larantuka.

METEDOLOGI PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan salah satu upaya guru atau praktisi dalambentuk berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki, dan atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di Kelas IXE SMP Negeri 1 Larantuka. Penelitian ini dilaksanakan mulai 12 Oktober  Sampai 17 Oktober 2020.

3.1. Sasaran Penelitian

Sasaran penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IXE SMP Negeri 1 Larantuka Tahun Pelajaran 2020/2021 yang berjumlah 23 siswa, terdiri dari – siswa laki-laki dan 23 siswa perempuan.

3.2. Laporan Hasil Penelitian Berdasarkan Kuesioner

Untuk mengolah data yang akan dikumpulkan guna mengetahui dan menentukan jumlah persentase dari setiap variabel, dipergunakan rumus di bawah ini (Riduwan, 2006: 249). Rumus ini digunakan untuk menghitung tiap persentase  dari variabel.

A                                                                           A = Jumlah yang menjawab

              X 100% = …..                                      N = Jumlah Responden

N

 

Hasil penelitian tentang pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik di sekolah berdasarkan tabel 3 di atas menyatakan bahwa dari pernyataan item no 1 diperoleh data 16 responden (76,18%) menyatakan bahwa Pendidikan Agama Katolik mempunyai kedudukan yang sama dengan mata pelajaran lainnya. Sedangkan 5 responden (23,8%) menyatakan tidak setuju bahwa Pendidikan Agama Katolik mempunyai kedudukan yang sama dengan mata pelajaran yang lain. Pada pernyataan item no 2 diperoleh data 8 responden (38,09%) menyatakan setuju, bahwa Pendidikan Agama Katolik hanya sebatas mengejar prestasi akademis. Sedangkan 13 responden (61,90%) menyatakan tidak setuju, karena Pendidikan Agama Katolik bukan hanya sebatas mengejar prestasi akademis.  Pada pernyataan item no 3 diperoleh data 14 responden (66,66%) menyatakan bahwa Pendidikan Agama Katolik terikat pada kurikulum dan waktu yang tersedia serta taat akan aturan sekolah. Hanya 7 responden (33,33%) yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Pada pernyataan item no 4 sebanyak 23 responden (100%) menyatakan setuju, bahwa Pendidikan Agama Katolik memperkembangkan kejujuran, kepekaan, kebijaksanaan dan hati nurani siswa.

Pada pernyataan item no 5 terdapat 23 responden (100%) menyatakan setuju, bahwa Pendidikan Agama Katolik merupakan mata pelajaran yang sangat menarik dan mudah dimengerti. Pada pernyataan item no 6 terdapat 17 responden (80,95%) menyatakan setuju, bahwa guru Pendidikan Agama Katolik mengenal dan dekat dengan masing-masing siswa secara personal. Pada pernyataan item no 7 diperoleh data 23 responden (100%) menyatakan setuju bahwa, guru Pendidikan Agama Katolik menghormati kebebasan, hak dan tanggung jawab siswa. Sedangkan  0 responden (0%) tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Pada pernyataan item no 8 diperoleh data  23 responden (100%) menyatakan bahwa guru Pendidikan Agama Katolik mengasihi siswa tanpa membeda- bedakan. Pada pernyataan item no 9 diperoleh data 23 responden (100%) menyatakan bahwa guru Pendidikan Agama Katolik memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif pada saat proses belajar mengajar di kelas. Selanjutnya pada pernyataan item no 10 diperoleh data  23 responden (100%) yang menyatakan setuju bahwa guru Pendidikan Agama Katolik belum memberikan kesempatan kepada siswa untuk mensharingkan pengalaman mereka.

3.4.              Pengaruh Pendidikan Agama Katolik Terhadap Perkembangan             Iman Siswa SMP Negeri 1 Larantuka

Pada bagian ini penulis akan memaparkan hasil penelitian tentang pengaruh  Pendidikan Agama Katolik terhadap perkembangan iman siswa SMP Negeri 1 Larantuka yang terungkap pada tabel 2 berikut ini:

Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa pada pernyataan item no 11 terdapat 23 responden (100%) menyatakan bahwa pengaruh mata pelajaran PAK membuat mereka semakin mampu memahami inti materi-materi Pendidikan Agama Katolik. Pernyataan item no 12 terdapat 23 responden (100%) yang menyatakan tidak setuju, bahwa pengaruh Pendidikan Agama Katolik membuat mereka kurang meyakini pribadi Yesus sebagai anak Allah. Selanjutnya pada pernyataan item no 13 diperoleh data 23 responden (100%) menyatakan bahwa pengaruh Pendidikan Agama Katolik membuat mereka semakin percaya dan merasakan kehadiran Allah melalui refleksi atas pengalaman hidup yang dialami.

Kepekaan dan kepedulian mereka terlihat dari pernyataan item no 14 di mana 23 responden (100%) menyatakan bahwa mereka semakin peka dan peduli serta mampu menjalin relasi dengan baik terhadap orang tua, guru, teman dan sesama. Selanjutnya pernyataan item no 15 terdapat 23 responden (100%) menyatakan setuju, bahwa pengaruh Pendidikan Agama Katolik membuat mereka semakin giat dan bersemangat menghayati iman dan mewujudkan Kerajaan Allah. Dari pernyataan item no 16 terlihat bahwa 23 responden (100%) menyatakan setuju, bahwa pengaruh Pendidikan Agama Katolik membuat mereka semakin aktif dalam kegiatan di Gereja.

3.5.      Faktor Pendukung dan Penghambat Perkembangan Iman Siswa

Pada bagian ini penulis akan memaparkan faktor pendukung dan penghambat perkembangan iman siswa SMP Negeri 1 Larantuka berdasarkan hasil penelitian pada tabel 3 berikut ini:

Tabel 3 menunjukkan bahwa pernyataan item no 17 diperoleh data 23 responden (100%) menyatakan bahwa suasana kelas dijiwai oleh semangat kebebasan dan cinta kasih Injil pada saat proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik. Pernyataan item no 18 sebanyak 17 responden (80,95%) menyatakan bahwa tersedianya fasilitas yang memadai pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Sedangkan 4 responden (19,04%) tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Selanjutnya pernyataan item no 19 terdapat 8 responden (28,57%) menyatakan bahwa mereka mengulang kembali materi Pendidikan Agama Katolik jika disuruh oleh guru dan orang tua di rumah. Hanya 15 responden (71,42%) yang mengulang kembali materi Pendidikan Agama Katolik di rumah tanpa harus disuruh oleh orang tua dan guru. Dari pernyataan item no 20 terlihat bahwa 23 responden (100%) menyatakan tidak setuju bahwa mereka malas dan mengantuk saat mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Katolik.

3.6. Pengaruh Pendidikan Agama Katolik terhadap Perkembangan Iman

Kerjasama yang baik terlaksana antara guru Pendidikan Agama Katolik, sekolah dan Gereja Paroki berkaitan dengan pembinaan iman. Selain itu sebagian besar siswa-siswi sudah sangat aktif terlibat dalam kehidupan dan kegiatan Gereja [Lampiran 8: (12)]. Siswa-siswi sangat perlu untuk terlibat aktif dalam kegiatan Gereja karena siswa akan menjadi tulang punggung dan generasi penerus Gereja sehingga mereka diajarkan dan diberikan teladan bagaimana bertanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan di paroki misalnya tugas pada perayaan misa seperti koor, mazmur, dirigen, lektor sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan merupakan nilai positif di mana iman siswa semakin berkembang.

Pendidikan Agama Katolik berdampak pada sikap dan perbuatan terhadap teman dan guru di sekolah serta orang tua di rumah. Pada umumnya dalam pergaulan dan pertemanan di lingkungan sekolah, sangat terlihat bahwa siswa- siswi menunjukkan sikap saling menghargai teman-teman yang berbeda agama dan keyakinan serta bersikap sopan terhadap guru. Selain itu keterlibatan siswa-siswi dalam kegiatan-kegiatan lainnya khususnya dalam pelaksanaan pembinaan iman maupun perayaan Ekaristi Jumat Pertama dalam bulan yang diadakan di Gereja Paroki dengan menjadi misdinar juga berpengaruh pada perkembangan iman siswa untuk senantiasa terlibat aktif dalam kegiatan Gereja.

Berdasarkan penjelasan di atas jelas bahwa pengaruh Pendidikan Agama Katolik cukup besar bagi perkembangan iman siswa-siswi SMP Negeri 1 Larantuka. Pendidikan Agama Katolik dapat dipahami oleh siswa sebagai sarana untuk mengenal Tuhan dan dekat padaNya. Dengan kata lain, mengikuti pelajaran Pendidikan Agama Katolik berarti mau mengenal dan dekat pada Tuhan sehingga dapat mengubah sikap dan perilaku yang sebelumnya kurang baik menjadi lebih baik lagi.

3.7.Faktor Pendukung Perkembangan Iman Siswa

Faktor pendukung tercapainya pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik  adalah berkat keterlibatan ibu dan bapak guru yang 98% beragama Katolik sehingga membantu guru Pendidikan Agama Katolik dalam pendampingan dan pembinaan iman siswa serta pengurus OSIS yang ikut ambil bagian dan bekerja sama dengan sekolah dalam melaksanakan beragam kegiatan rohani di sekolah [Lampiran 8: (12)-(13)]. Kegiatan rohani tersebut antara lain Perayaan Ekaristi Misa Jumat Pertama dalam bulan yang menjadi agenda wajib sekolah, Legio Maria yang rutin diadakan setiap hari Jumat. Berdoa Rosario bersama setiap bulan  Mei dan Oktober, bulan Kitab Suci Nasional diisi dengan beragam perlombaan seperti kuis Kitab Suci dan merangkai ayat dalam Kitab Suci. Siswa-siswi juga ikut ambil bagian dalam tugas memimpin doa pagi sebelum memulai pelajaran dan sebelum mengakhiri pelajaran, doa Malaikat Tuhan atau Angelus setiap pukul 12 siang, doa Ratu Surga pada masa Prapaskah dan Paskah serta membaca Kitab Suci yang sudah dijadwalkan dan sebagainya.

3.8. Faktor Penghambat Perkembangan Iman Siswa

Faktor penghambat tercapainya pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik adalah kurangnya perhatian orang tua di rumah sehubungan dengan perkembangan iman anak mereka. Selain itu kurangnya minat siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik [Lampiran 8: (13)]. Ada sebagian siswa yang menganggap bahwa pelajaran Pendidikan Agama Katolik hanya sebatas belajar di sekolah saja. Selain itu ada juga sebagian siswa yang kurang terlibat aktif dalam pembelajaran Pendidikan Agama Katolik sehingga hanya sebagian saja yang terlibat aktif. Hal ini menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Katolik perlu melakukan pendekatan secara personal terhadap masing-masing  siswa sehingga diharapkan dapat membantu berbagai kesulitan baik dari dalam diri maupun dari luar diri siswa.

KESIMPULAN

Pendidikan Agama Katolik di sekolah adalah proses pendidikan dalam iman yang diselenggarakan oleh sekolah, bekerjasama dengan keluarga, Gereja dan kelompok jemaat lainnya untuk membantu siswa supaya semakin beriman kepada Tuhan Yesus Kristus, sehingga nilai-nilai Kerajaan Allah dapat sungguh-sungguh terwujud di tengah-tengah mereka. Pendidikan Agama Katolik di sekolah dipahami pula sebagai proses pendidikan iman yang berlangsung secara berkesinambungan. Dikatakan berkesinambungan karena Pendidikan Agama Katolik di sekolah merupakan bentuk komunikasi atau interaksi iman terus menerus antara guru dan siswa ataupun sesama siswa.

Pokok-pokok Pendidikan Agama Katolik di sekolah antara lain hakikat, tujuan, konteks, model, ruang lingkup dan pelaku dalam Pendidikan Agama Katolik. Hakikat Pendidikan Agama Katolik adalah sarana dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik dengan mengkomunikasikan iman melalui refleksi pengalaman iman siswa dan bervisi spiritual. Tujuan Pendidikan Agama Katolik untuk membantu siswa mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah melalui kedewasaan iman siswa dan kebebasan manusia. Konteks Pendidikan Agama Katolik adalah situasi sosial berdasarkan pengalaman siswa dalam lingkungan sekolah, keluarga dan teman sebayanya.

Model-model dalam Pendidikan Agama Katolik terdiri dari model transmisi/transfer, model yang berpusat pada hidup peserta dan model Shared Christian Praxis/model praksis. Ruang lingkup dalam Pendidikan Agama Katolik terdiri dari pribadi siswa, Yesus Kristus, Gereja dan masyarakat luas dalam komunitas sesama umat Kristiani. Pelaku dalam Pendidikan Agama Katolik di sekolah adalah guru dan siswa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pokok-pokok Pendidikan Agama  Katolik sudah dipahami dan dilaksanakan dengan cukup baik oleh guru Pendidikan Agama Katolik pada saat proses belajar mengajar di kelas. Thomas Groome menegaskan perlu adanya praksis untuk menjawab persoalan yang ditimbulkan oleh uraian teoritis. Uraian praksis yang ditawarkan Groome bukan hanya dimengerti  sebagai upaya dalam bentuk tindakan melulu, tetapi merupakan upaya penggabungan dari penerapan teori sekaligus praktik dalam proses pembelajaran.

Pendidikan Agama Katolik membantu siswa untuk memperkembangkan iman mereka demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah. Guru juga memperlakukan siswa sebagai subjek bukan objek karena siswa adalah pelaku atau pelaksana yang secitra dengan Allah. Di samping itu suasana yang menggembirakan dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik sangat dibutuhkan sehingga proses belajar mengajar tidak membosankan karena suasana yang baik dapat menjadi guru yang baik pula. Dalam meningkatkan perkembangan iman siswa di SMP Negeri 1 Larantuka, penulis mengusulkan suatu kegiatan sosial yang diperkaya dengan rekoleksi. Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat mendukung pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik sehingga sungguh-sungguh membantu iman siswa semakin bertumbuh dan berkembang serta mampu mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan  sehari-hari.

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian, Pendidikan Agama Katolik sangat berguna dalam mendukung perkembangan iman siswa. Dengan demikian, penulis menyampaikan saran guna meningkatkan pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik di sekolah sehingga iman siswa semakin bertumbuh dan berkembang. Saran tersebut di antaranya:

Pertama, sekolah perlu menyediakan fasilitas yang lengkap dan memadai  seperti ruang doa sebagai sarana atau tempat siswa-siswi mengenal Tuhan lebih dekat, buku-buku pegangan siswa dan buku-buku lainnya yang menunjang terlaksananya Pendidikan Agama Katolik di sekolah.

Kedua, sekolah mengadakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pembinaan iman dan dapat diikuti oleh seluruh siswa bukan hanya terbatas pada siswa yang beragama Katolik saja agar membentuk iman siswa-siswi semakin bertumbuh dan berkembang serta berkepribadian yang baik. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain: kegiatan sosial, kegiatan amal, rekoleksi, retret, live in di daerah- daerah terpencil yang jauh dari perkotaan sehingga siswa-siswi dapat mengalami dan merasakan kehidupan mereka yang kurang beruntung dan terpinggirkan.***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

You may also like