Home Event Ritual Sare Dame di Boto Didominasi Anak Muda. Ini Pesan Bupati Thomas Ola!

Ritual Sare Dame di Boto Didominasi Anak Muda. Ini Pesan Bupati Thomas Ola!

by Igo Kleden
0 comment

LEMBATA|PARADISO.CO.ID – Eksplorasi budaya di Kecamatan Nagawutung, Lembata (Rabu,23/2) yang mengambil tempat di Kampung Boto berjalan lancar dan sukses. Bupati Thomas Ola mengaku gembira karena acara di Boto ini didominasi anak muda.

Melihat itu, Bupati Thomas tergerak memberi motivasi kepada generasi muda yang berbalut busana dan tarian adat.

Menurutnya, untuk menjadi  pemimpin di masa depan, anak muda perlu menyiapkan diri bukan saja melalui ilmu pengetahuan, tetapi yang terutama adalah menjadi generasi yang cinta budaya karena melalui budaya, karakter seseorang akan dibentuk.

“Menjadi pemimpin di masa depan perlu disiapkan dari sekarang. Pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang tahu dan cinta budaya. Dalam budaya, karakter seseorang dibentuk. Tanpa persiapan karakter yang baik siapapun akan gagal jadi pemimpin. Tidak ada pemimpin yang sukses tampa budaya,” tegas Bupati.

Acara di Boto ini diawali dengan penjemputan semua rombongan baik masyarakat yang datang dari 18 kampung  yang tersebar di Kecamatan Nagawutung maupun rombongan Bupati Lembata di gerbang masuk kampung. Bupati Lembata hadir dalam konteks Ritus Sare Dame Paji dan Demon.

Ritus ini dipandang perlu untuk menetralkan semua tamu dari pengaruh konflik laten Paji dan Demon. Dari gerbang, Bupati dan rombongan diarak meriah menuju rumah adat sebagaimana layaknya seorang tamu harus minta ijin masuk kampung.

Umumnya komunitas ini sebagai petani, kehidupan tahunan selalu dilingkupi oleh ritual berkenaan dengan ladang yang salah satunya adalah Sika Sedo Angi Keverok. Di tempat ini berdiri sebuah tiang bambu yang terbelah empat sebagai simbol empat mata angin.

Baca Juga:   Rangkul Anak Muda Bali, GWK Kembali Gelar Lomba BALEGANJUR WITNING KELANGON Se-Bali

Ketua suku membacakan mantra pengusiran hama, roh jahat, bencana, maupun wabah penyakit diikuti penuangan tuak dan pemotongan ayam sebagai simbol memberi makan kepada leluhur.

Upacara ritual ditutup dengan melakukan aktivitas panah sebagai simbol bahwa semua hama, roh jahat, bencana, dan wabah dibuang jauh-jauh dari kehidupan masyarakat.

Sejarah Desa Boto dan sekitarnya juga dituturkan pada saat ini. Mereka berasal dari Krokopuken, berpindah ke Awololong, lalu ke Tuak Wutun, dan akhirnya ke wilayah Boto dan sekitarnya.***

Editor – Igo Kleden

 

Berita Terkait