Home Pendidikan Upaya Meningkatkan DISIPLIN GURU dalam Kehadiran Mengajar di Kelas Melalui PENERAPAN REWARD AND PUNISHMENT di SMPS PGRI LARANTUKA KABUPATEN FLORES TIMUR

Upaya Meningkatkan DISIPLIN GURU dalam Kehadiran Mengajar di Kelas Melalui PENERAPAN REWARD AND PUNISHMENT di SMPS PGRI LARANTUKA KABUPATEN FLORES TIMUR

by Igo Kleden

NO.19/THN.XV/DES/2022

Dra. Appolonia M.G.W. Lein

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Usaha meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia,  untuk  mewujudkan  kesejahteraan  umum dan  mencerdaskan  kehidupan bangsa, di mana pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, dan ketrampilan.

Untuk melaksanakan tugas dalam meningkatkan mutu pendidikan maka diadakan proses belajar mengajar, guru merupakan figur sentral, di tangan gurulah terletak kemungkinan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan belajar mengajar di sekolah. Oleh karena itu tugas dan peran guru bukan saja mendidik, mengajar dan melatih tetapi juga bagaimana guru dapat membaca situasi kelas dan kondisi dan kondisi siswanya dalam menerima pelajaran.

Untuk meningkatkan peranan guru dalam proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa, maka guru diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan mampu mengelola kelas. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik dan mengevaluasi peserta didik, pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Sementara pegawai dunia pendidikan merupakan bagian dari tenaga kependidikan, yaitu anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.  Dalam informasi tentang  wawasan  Wiyatamandala,  kedisiplinan guru diartikan sebagai sikap mental yang mengandung kerelaan mematuhi semua ketentuan, peraturan dan norma yang berlaku dalam menunaikan tugas dan tangung jawab.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan, kedisiplinan guru dan pegawai adalah sikap penuh kerelaan dalam mematuhi semua aturan dan norma yang ada dalam menjalankan tugasnya sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap pendidikan anak didiknya. Karena bagaimana pun seorang guru atau tenaga kependidikan (pegawai), merupakan cermin bagi anak didiknya dalam sikap atau teladan, dan sikap disiplin guru dan tenaga kependidikan (pegawai) akan memberikan warna terhadap hasil pendidikan yang jauh lebih baik.

Keberhasilan proses pembelajaran sangat bergantung pada beberapa faktor diantaranya adalah faktor guru. Guru sangat memegang peranan penting dalam keberhasilan proses pembelajaran. Guru yang mempunyai kompetensi yang baik tentunya akan sangat mendukung keberhasilan proses pembelajaran.

Peranan guru selain sebagai seorang pengajar, guru juga berperan sebagai seorang pendidik. Pendidik adalah seiap orang yang dengan sengaja mempengaruhi orang lain untuk mencapai tingkat kemanusiaan yang lebih tinggi (Sutari Imam Barnado, 1989:44). Sehinggga sebagai pendidik, seorang guru harus memiliki kesadaran atau merasa mempunyai tugas dan kewajiban untuk mendidik. Tugas mendidik adalah tugas yang amat mulia atas dasar “panggilan” yang teramat suci. Sebagai  komponen  sentral  dalam  sistem  pendidikan,  pendidik  mempunyai  peran utama dalam membangun fondamen-fondamen hari depan corak kemanusiaan. Corak kemanusiaan yang dibangun dalam rangka pembangunan nasional kita adalah “manusia Indonesia seutuhnya”, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, percaya diri disiplin, bermoral dan bertanggung jawab. Untuk mewujudkan hal itu, keteladanan dari seorang guru sebagai pendidik sangat dibutuhkan.

Keteladanan guru dapat dilihat dari prilaku guru sehari-hari baik didalam sekolah maupun diluar sekolah. Selain keteladanan guru, kedisiplinan guru juga menjadi salah satu hal penting yang harus dimiliki oleh guru sebagai seorang pengajar dan pendidik.

Fakta   dilapangan   yang   sering   kita   jumpai   disekolah   adalah   kurang disiplinnya guru, terutama masalah disiplin guru  masuk  kedalam kelas pada saat kegiatan pembelajaran dikelas.

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan  sekolah  dengan  judul  :  ”Upaya  Meningkatkan  Disiplin  Guru  dalam Kehadiran Mengajar Dikelas Melalui penerapan Reward and Punishment di SMPS PGRI Larantuka Kabupaten Flores Timur.

 B. Identifikasi Masalah

Masalah-masalah yang mendasari dari penelitian ini adalah :

1. Masih banyak guru yang datang terlambat ke sekolah.

2. . Masih kurangnya disiplin guru dalam kehadiran mengajar dikelas.

3. Guru masih sering terlambat masuk kelas.

C. Pembatasan Masala

Penelitian ini dibatasi pada upaya meningkatkan disiplin guru dalam kehadiran mengajar dikelas melalui penerapan Reward and Punishment.

D. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : ”Apakah penerapan Reward and Punishment dapat  meningkatkan kedisiplinan guru dalam kehadiran mengajar dikelas?”

E. Tujuan Penelitian

Tujuan  dari  penelitian  ini  adalah  ingin  mencari  alternatif  pemecahan masalah sebagai upaya meningkatkan disiplin guru dalam kehadiran mengajar dikelas melalui penerapan Reward and Punishment.

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, sbb :

1. Bagi kepala sekolah adalah mer upakan wujud nyata kepala sekolah dalam memecahkan berbagai masalah disekolah melalui kegiatan penelitian.

2. Bagi guru diharapkan dapat menjadi motivasi guru dalam meningkatkan kedisiplinan dalam kehadiran.

3. Bagi sekolah bisa dijadikan sumbangan dalam mewujudkan budaya sekolah yang dapat mendorong keberhasilan dan peningkatan mutu pembelajaran.

METODE PENELITIAN

A. Pentahapan Penelitian Tindakan

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan Sekolah (PTS). PTS merupakan suatu prosedur penelitian yang diadaptasi dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan sekolah merupakan “(1) penelitian partisipatoris yang menekankan pada tindakan dan refleksi berdasarkan pertimbangan rasional dan logis untuk melakukan perbaikan terhadap suatu kondisi nyata; (2) memperdalam pemahaman terhadap tindakan yang   dilakukan; dan (3) memperbaiki situasi dan kondisi sekolah / pembelajaran secara praktis” (Depdiknas, 2008 : 11-12). Secara singkat, PTS bertujuan untuk mencari pemecahan permasalahan nyata yang terjadi di sekolah-sekolah, sekaligus mencari jawaban ilmiah bagaimana masalah-masalah tersebut bisa dipecahkan melalui suatu tindakan perbaikan.

Baca Juga:   Meningkatkan  KOMPETENSI GURU Dalam Menyusun  RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Melalui BIMBINGAN BERKELANJUTAN di SD KATOLIK LEWORITA – KECAMATAN TITEHENA - KABUPATEN FLORES TIMUR

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian tindakan ini ialah pendekatan kualitatif.   Artinya,   penelitian   ini   dilakukan   karena   ditemukan   permasalahan rendahnya tingkat kedisiplinan guru dalam kehadiran dikelas pada proses kegiatan belajar mengajar. Permasalahan ini ditindaklanjuti dengan cara menerapkan sebuah model pembinaan kepada guru berupa penerapan Reward dan Punishment yang dilakukan oleh kepala sekolah, kegiatan tersebut diamati kemudian dianalisis dan direfleksi. Hasil revisi kemudian diterapkan kembali pada siklus-siklus berikutnya.

Penelitian ini adalah penelitian tindakan model Stephen Kemmis dan Mc. Taggart (1998) yang diadopsi oleh Suranto (2000; 49) yang kemudian diadaptasikan dalam penelitian ini. Model ini menggunakan sistem spiral refleksi diri yang dimulai dari rencana, tindakan, pengamatan, refleksi, dan perencanaan kembali yang merupakan dasar untuk suatu ancang-ancang pemecahan masalah. Seperti yang diungkapkan oleh Mills (200;17) “Stephen Kemmis has created a well known representation of the action research spiral …”. Peneliti menggunakan model ini karena dianggap paling praktis dan aktual.

Kegiatan penelitian tindakan sekolah ini, terdiri atas beberapa tahap, yaitu :

1. Perencanaan

2. Pelaksanaan

3. Pengamatan

4. Refleksi

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian  : SMPS PGRI Larantuka

2. Waktu Penelitian  : 10 sampai dengan 22 januari 2022

C. Subjek Penelitian

Yang menjadi subjek penelitian tindakan sekolah ini adalah guru-guru di SMPS PGRI Larantuka sejumlah 14 orang guru, terdiri atas 3 orang guru PNS, dan 11 orang guru Non PNS.

D. Tindakan

Tindakan  yang  dilakukan  dalam  penelitian  ini  adalah  pemberian  reward  dan punishment kepada guru mengenai kedisiplinan guru dalam kehadiran dikelas dalam proses pembelajaran oleh kepala sekolah. Diharapkan dengan pemberian reward dan punishment   yang  diberikan  oleh  kepala  sekolah  akan  terjadi  perubahan  atau peningkatan kedisiplinan guru dalam kehadiran dikelas dalam proses pembelajaran. Karena  keterbatasan  waktu,  penelitian  tindakan  sekolah  ini  hanya  dilaksanakan sebanyak dua siklus. Masing-masing siklus dilaksanakan selama satu minggu.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dari penelitian tindakan sekolah ini adalah melalui data kualitatif yang diperoleh dari observasi, pengamatan, maupun wawancara.

  1. Wawancara

Teknik  ini digunakan untuk  mendapatkan data dari informan secara  langsung. Dalam melakukan wawancara dipergunakan pedoman wawancara yang terbuka.

  1. Pengumpulan data sekunder

Teknik ini digunakan untuk mengumpul data sekunder melalui dokumen-dokumen tertulis yang diyakini integritasnya karena mengambil dari berbagai sumber yang relevan dengan penelitian. Pengambilan sumber yang bersifat sekunder ini dapat diperoleh dari hasil dialog bersama kolaborator, data base sekolah, dan lain-lain.

  1. Observasi atau pengamatan

Observasi digunakan untuk melengkapi data dari wawancara dan pengumpulan dokumentasi, terutama dalam lingkup masalah penelitian, antara lain mengamati impelementasi   kebijakan   yang   berkaitan   dengan   kedisiplinan   guru   dalam kehadiran dikelas pada kegiatan belajar mengajar.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan sekolah ini antara lain adalah :

1. Skala Penilaian

2. Lembar Pengamatan

3. Angket

G. Teknik Analisis Data

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data kualitatif yang bersumber dari data primer maupun empiris. Melalui analisa data ini, dapat diketahui ada tidaknya peningkatan kedisiplinan guru dalam kehadiran dikelas melalui pemberian reward dan punishment yang merupakan fokus dari penelitian tindakan sekolah ini

PEMBAHASAN

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini dilaksanakan dalam dua siklus. Hali ini dikarenakan keterbatasan waktu yang tersedia, serta dengan dua siklus sudah penulis anggap cukup untuk peningkatan disiplin guru dalam kehadiran dikelas pada kegiatan belajar mengajar.

A. Siklus 1

Siklus 1 terdiri atas beberapa tahap, yaitu : (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan dan Evaluasi, dan (4) Refleksi.

1. Perencanaan

Perencanaan adalah langkah awal yang dilakukan oleh penulis saat akan memulai tindakan. Agar perencanaan mudah dipahami dan dilaksanakan oleh penulis yang akan  melakukan  tindakan,  maka  penulis  membuat  rencana  tindakan  sebagai berikut :

a). Merumuskan  masalah yang akan dicari solusinya.  Dalam penelitian  ini masalah  yang  akan  dicari  solusinya  adalah  masih  banyaknya  guru  yang kurang disiplin dalam kehadiran dikelas pada proses belajar mengajar.

b). Merumuskan tujuan penyelesaian masalah/tujuan menghadapi tantangan/tujuan melakukan inovasi/tindakan. Dalam penelitian ini penulis mengambil rencana untuk melakukan tindakan memberikan Reward dan Punishment kepada guru- guru untuk meningkatkan kedisiplinan guru dalam kehadiran dikelas pada proses belajar mengajar

c). Merumuskan  indikator  keberhasilan  penerapan  Reward  dan  Punishment dalam  meningkatkan  disiplin  guru  dalam  kehadiran  dikelas  pada  proses belajar mengajar. Indikator keberhasilan penerapan tindakan ini penulis tetapkan sebesar 65%, artinya tindakan ini dinyatakan berhasil bila 65% guru tidak terlambat masuk kelas dalam proses pembelajaran.

Baca Juga:   Kemendikbud Apresiasi Dukungan Kampus Kepada Mahasiswa Selama Lakukan Pembelajaran dari Rumah

d). Merumuskan langkah-langkah kegiatan penyelesaian masalah/kegiatan menghadapi tantangan/kegiatan melakukan tindakan.

e). Langkah-langkah yang diambil penulis dalam melakukan tindakan   antara lain adalah melakukan sosialisasi kepada para guru mengenai penelitian yang akan dilaksanakan, serta menyampaikan tujuan dari penerapan tindakan yang dilakukan oleh penulis.

f). Kepada para guru disampaikan mengenai penerapan Reward dan Punishment yang akan diterapkan dalam penelitian ini. Pada siklus pertama ini, akan dipampang/ditempel diruang guru, maupun diruang TU, peringkat nama-nama guru yang paling rendah tingkat keterlambatan masuk kelasnya sampai yang paling tinggi tingkat keterlambatannya.

g). Mengidentifikasi warga sekolah dan atau pihak-pihak terkait  lainnya  yang terlibat dalam penyelesaian masalah/menghadapi tantangan/melakukan tindakan.  Penulis  melakukan  identifikasi siapa  saja  yang  dilibatkan dalam penelitian ini. Pihak-pihak yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah : guru, guru piket, TU, dan siswa.

h). Mengidentifikasi metode pengumpulan data yang akan digunakan.

Metode pengumpulan  data  yang  diambil  oleh  penulis  merupakan  data kualitatif melalui observasi, pengamatan serta wawancara kepada siswa mengenai kehadiran guru dikelas pada kegiatan belajar mengajar.

i). Penyusunan instrumen pengamatan dan evaluasi

Dalam pengambilan data, penulis menggunakan  instrument  berupa  lembar observasi/pengamatan, skala penilaian serta angket yang disebarkan kepada siswa,  untuk  mengetahui  penilaian  dari siswa  mengenai  tingkat  kehadiran guru dikelas dalam proses kegiatan belajar mengajar.

j). Mengidenifikasi fasilitas yang diperlukan.

Fasilitas atau alat  bantu yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : kertas (lembar pengamatan), alat tulis berupa balpoin, serta jam dinding yang ada disetiap kelas, serta rekap jumlah kehadiran dari setiap guru.

2. Pelaksanaan

a). Pelaksanaan penelitian  tindakan  sekolah  ini  dilaksanakan  melalui  beberapa kegiatan, antara lain :

b). (Menyebarkan lembar pengamatan kepada setiap Ketua Kelas atau Sekretaris kelas sebanyak 5 set, sesuai dengan banyaknya jumlah rombongan belajar di SMPS PGRI Larantuka sebanyak 5 rombongan belajar. Dalam lembar pengamatan itu, telah dibuat daftar guru yang mengajar dikelas itu setiap jam dan diberi kolom jam masuk kelas serta jam keluar kelas. Lembar pengamatan dapat dilihat pada lampiran.

c). Berkoordinasi dengan petugas  piket  yang  setiap  hari  terdiri  dari  2  orang petugas, yaitu dari guru yang tidak mempunyai jam mengajar pada   hari itu dan satu orang dari tata usaha. Petugas piket akan mengedarkan daftar hadir guru dikelas yang telah dibuat agar dapat melihat tingkat kehadiran guru disetiap  kelas dan disetiap  pergantian  jam pelajaran.  Guru  yang  terlambat lebih dari 15 menit, dianggap tidak hadir dan diberi tanda silan Daftar hadir guru dapat dilihat dalam lampiran.

d). Setelah selesai jam pelajaran, dilakukan rekapitulasi dari hasil pengamatan, baik dari guru piket , dari siswa maupun dari penulis.

e). Kegiatan tersebut dilakukan terus setiap hari kepada setiap guru selama satu minggu (satu siklus).

3. Pengamatan dan Evaluasi

Pengamatan atau observasi dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar observasi selama satu minggu (satu siklus), untuk semua guru yang berjumlah 14 orang. Selama pengamatan peneliti dibantu atau berkolaborasi dengan guru piket. Pengamatan oleh peneliti meliputi :

(a)   Kehadiran guru dikelas

(b)  Tingkat keterlambatan guru masuk kelas

(c) Waktu meninggalkan kelas setelah selesai pelajaran

Peneliti juga melakukan penilaian dari hasil lembar observasi yang dibagikan kepada pengurus kelas untuk mengamati kehadiran guru dikelas. Dari hasil pengamatan serta rekap dari tingkat kehadiran guru dikelas pada proses belajar mengajar dapat dilihat pada tabel berikut :

Dari hasil rekapitulasi tingkat keterlambatan guru dikelas pada proses pembelajaran  diperoleh  data,  sebanyak  2  orang  guru  terlambat  masuk  kelas kurang  dari 10  menit,  5  orang  guru  terlambat  masuk  kelas 10  menit  sampai dengan 15 menit, dan 7   orang guru terlambat masuk kelas lebih dari 15 menit.

Dari  data  diatas  dapat  ditarik  kesimpulan  bahwa  tingkat  keterlambatan  guru masuk kelas lebih dari 15 menit pada proses kegiatan belajar mengajar masih tinggi yaitu 7   orang atau 50 %. Berdasarkan indicator yang telah ditetapkan bahwa keberhasilan tindakan ini adalah 70 %, atau bila 70 % guru tidak terlambat lebih dari 10 menit. Pada siklus pertama ini guru yang tidak terlambat lebih dari 10 menit baru 14,29 %, jadi peneliti berkesimpulan harus diadakan penelitian atau tindakan lagi pada siklus berikutnya atau siklus kedua.

4. Refleksi

Setelah selesai satu siklus maka diadakan refleksi mengenai kelemahan atau kekurangan dari pelaksanaan tindakan pada siklus pertama.

Refleksi dilaksanakan bersama-sama kolaborator untuk menentukan tindakan perbaikan pada siklus berikutnya.

Dari hasil refleksi dapat diambil suatu kesimpulan bahwa perlu penerapan Reward dan Punishment yang lebih tegas lagi daripada siklus pertama.

B. Siklus 2

Siklus 2 terdiri atas beberapa tahap, sama seperti siklus 1 yaitu : (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan dan Evaluasi, dan (4) Refleksi.

1. Perencanaan

Dari hasil refleksi pada siklus pertama, peneliti merencanakan untuk melakukan tindakan Reward dan Punishment yang lebih tegas dibandingkan dengan siklus pertama.

Baca Juga:   Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa KELAS VII SMP NEGERI I ADONARA BARAT pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Tentang Perumusan PANCASILA sebagai DASAR NEGARA melalui PENERAPAN METODE INKUIRI

Peneliti merencanakan untuk mengumumkan hasil observasi  mengenai tingkat keterlambatan guru masuk kelas dalam proses belajar mengajar, pada kegiatan upacara bendera hari Senin. Hal ini terlebih dahulu disosialisasikan kepada semua guru pada saat refleksi siklus pertama.

2. Pelaksanaan

Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah pada siklus yang kedua ini dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain :

(a)  Menyebarkan lembar pengamatan kepada setiap Ketua Kelas atau Sekretaris kelas sebanyak 5 set, sesuai dengan banyaknya jumlah rombongan belajar di SMPS PGRI Larantuka sebanyak 5 rombongan belajar. Dalam lembar pengamatan itu, telah dibuat daftar guru yang mengajar dikelas itu setiap jam dan diberi kolom jam masuk kelas serta jam keluar kelas. Lembar pengamatan dapat dilihat pada lampiran.

(b) Berkoordinasi dengan petugas piket yang setiap hari terdiri dari 2 orang petugas, yaitu dari guru yang tidak mempunyai jam mengajar pada hari itu dan satu orang dari tata usaha. Petugas piket akan mengedarkan daftar hadir guru  dikelas  yang  telah dibuat  agar  dapat  melihat  tingkat  kehadiran guru disetiap  kelas dan disetiap  pergantian  jam pelajaran.  Guru yang  terlambat lebih dari 15 menit, dianggap tidak hadir dan diberi tanda silang. Daftar hadir guru dapat dilihat dalam lampiran.

(c)  Setelah selesai jam pelajaran, dilakukan rekapitulasi dari hasil pengamatan, baik dari guru piket , dari siswa maupun dari penulis.

Kegiatan  tersebut  dilakukan  terus  setiap  hari kepada  setiap  guru  selama  satu minggu (satu siklus)

3. Pengamatan dan Evaluasi

Pengamatan atau observasi dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar observasi selama satu minggu (satu siklus), untuk semua guru yang berjumlah 14 orang. Selama pengamatan peneliti dibantu atau berkolaborasi dengan guru piket. Pengamatan oleh peneliti meliputi :

(a) Kehadiran guru dikelas

(b) Tingkat keterlambatan guru masuk kelas

(c) Waktu meninggalkan kelas setelah selesai pelajaran

Peneliti juga melakukan penilaian dari hasil lembar observasi yang dibagikan kepada pengurus kelas untuk mengamati kehadiran guru dikelas.

Dari hasil pengamatan serta rekap dari tingkat kehadiran guru dikelas pada proses belajar mengajar pada siklus kedua dapat dilihat pada tabel berikut :

Dari hasil rekapitulasi tingkat keterlambatan guru dikelas pada proses pembelajaran diperoleh data, sebanyak 10   orang guru terlambat  masuk kelas kurang  dari 10  menit,  4 orang  guru terlambat  masuk  kelas  10  menit  sampai dengan 15 menit, dan tidak ada  satu orang guru yang terlambat masuk kelas lebih dari 15 menit.

Dari hasil observasi pada siklus pertama dan siklus kedua dapat dilihat ada penurunan tingkat  keterlambatan guru dikelas pada kegiatan belajar  mengajar, atau terdapat peningkatan kehadiran guru dikelas. Ini menandakan bahawa semua guru sudah punya motivasi dari dalam diri untuk lebih disiplin masuk kelas dan punya motivasi dari dalam diri untuk maju.

4. Refleksi

Setelah selesai pelaksanaan tindakan pada siklus kedua maka diadakan refleksi, mengenai  kelemahan  atau  kekurangan  dari  pelaksanaan  tindakan  pada  siklus kedua tersebut.

Dari hasil observasi dan data yang  diperoleh,  peneliti mengambil kesimpulan bahwa tindakan yang dilaksanakan pada siklus kedua dinyatakan berhasil, karena terdapat 71,43% guru yang terlambat kurang dari 10 menit, atau melebihi target yang telah ditentukan sebesar 65 %.

Kesimpulan

Berdasarkan analisis data, dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan Reward dan Punishment efektif untuk meningkatkan disiplin kehadiran guru dikelas pada kegiatan belajar mengajar.

Data yang diperoleh menunjukan bahwa setelah diadakan penerapan tindakan berupa Reward dan Punishment, guru yang terlambat lebih dari 15 menit adalah tidak ada dan guru yang terlambat 10 sampai dengan 15 menit sebanyak 4 orang kurang dari 10 menit sebanyak 10 orang guru. Penerapan Reward dan Punishment dapat meningkat disiplin guru hadir didalam kelas pada kegiatan belajar mengajar di SMPS PGRI Larantuka.

Saran

Karena  adanya  pengaruh  positif  Penerapan  Reward dan Punishment terhadap disiplin guru hadir didalam kelas pada kegiatan belajar mengajar, maka melalui kesempatan ini penulis mengajukan beberapa saran :

  1. 1. Semua Kepada Kepala Sekolah disarakan melakukan Penerapan Reward dan Punishment untuk meningkatkan  disiplin  guru  hadir  didalam  kelas  pada kegiatan belajar mengajar di sekolah.
  2. 2. Kepada semua  guru  dalam  melaksanakan  tugas  untuk  dapat  meningkatkan disiplin  dalam  kehadiran  dikelas  sebagai  bentuk  pelayanan  minimal kepada peserta didik disekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Amstrong. Michael, (1991). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakrta:Ghalia IndonesiaArikunto, S.  (2002).  Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.  Jakarta: Rineka Cipta

Bambang Nugroho. (2006). Reward dan Punishment. Bulletin CiptaKarya Departemen Pekerjaan Umum Edisi No. 6/IV/Juni 2006

Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta:Depdiknas

 

Subagio. (2010) Kompetensi Guru dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran [On Line]. Tersedia :  http://subagio-subagio.blogspot.com/2010/03/kompetensi-guru-dalam- meningkatkan-mutu.html

Syamsul Hadi, (2009). Kepemimpinan Pembelajaran, Makalah Disampaikan pada Sosialisasi Akuntabilitas Kinerja Kepala Sekolah Dalam Inovasi Pembelajaran. Departemen   Pendidikan   Nasional,   Direktorat   Jenderal   Peningkatan   Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Direktorat Tesnaga Kependidikan

Berita Terkait