Home Pendidikan Upaya Meningkatkan KEMAMPUAN GURU dalam Pembuatan Kelengkapan Perangkat Pembelajaran Daring Melalui SUPERVISI KEPALA SEKOLAH di UPTD SPF SDI GORANG

Upaya Meningkatkan KEMAMPUAN GURU dalam Pembuatan Kelengkapan Perangkat Pembelajaran Daring Melalui SUPERVISI KEPALA SEKOLAH di UPTD SPF SDI GORANG

by Igo Kleden

NO.17/THN.XV/OKT/2022

SAMSUDIN KIA PURA, S.Pd.SD

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar bagi kehidupan manusia. Pendidikan mampu menunjang keberlangsungan kehidupan manusia menjadi lebih baik. Menurut Uno (2008 : 11) “pendidikan adalah proses pemberdayaan, yang diharapkan mampu memberdayakan peserta didik menjadi manusia yang cerdas, manusia berilmu dan berpengetahuan, serta manusia terdidik”. Oleh karena itu, melalui proses pendidikan diharapkan mampu melahirkan peserta didik yang memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah, serta mampu mengembangkan potensi mereka sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Pandemi Covid-19 telah merubah tatanan kehidupan masyarakat, tidak hanya menyerang negara Indonesia namun juga melanda dunia. Keberadaan Covid-19 membuat masyarakat untuk memberhentikan aktivitas di luar rumah yang semestinya dilakukan seperti pada hari-hari biasa. Masyarakat harus menjaga jarak aman atau disebut dengan physical distancing, keadaan di mana orang-orang dikarantina dan diisolasi di dalam rumah masing-masing termasuk dalam melaksanakan pekerjaan sehingga setiap individu yang rentan tidak akan tertular virus Covid-19. Apabila masyarakat ingin keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti membeli sesuatu untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat diwajibkan menggunakan masker dan tentu dengan menjaga jarak aman dengan orang lain.

Perubahan sistem pembelajaran menyebabkan kegiatan pembelajaran dan pola supervisi yang dilaksanakan supervisor harus disesuaikan dengan pembelajaran di masa pandemi. Kepala sekolah merupakan seorang pimpinan tertinggi pada suatu satuan pendidikan yang diberi wewenang mengelola personil, dana, maupun sarana. Menurut Iskandar (2013) kepala sekolah pada hakikatnya adalah seorang perencana, organisator, pemimpin dan seorang pengendali di sebuah satuan pendidikan.

Kepala Sekolah mempunyai tugas dalam pengembangan peningkatan kualitas pendidikan ditingkat sekolah. Dalam hal ini bertanggung jawab terhadap kelancaran pelaksanaan pendidikan dan proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sebagai pengembang pendidikan dan pengajaran di sekolah merupakan tugas tidak ringan sebagaimana diamanahkan pada Permendiknas No. 13 Tahun 2007 tentang standar kepala sekolah maka sebagai kepala sekolah mempunyai kewajiban melaksanakan peraturan yang salah satunya adalah kompetensi supervisi. Dalam rangka mengembangkan peningkatan pendidikan secara bersama-sama semua personal agar bergerak ke arah pencapaian tujuan sesuai pelaksanaan tugas masing- masing secara efisien dan efektif (Hamrin, 2011:51).

Supervisi merupakan upaya peningkatan kualitas guru secara komprehensif dan kontinu. Supervisi juga merupakan usaha menstimulasi, mengkoordinasi, membimbing secara terus menerus guru-guru di sekolah dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran. Suharsimi dalam Astuti (2017) mengungkapkan bahwa supervisi memiliki tiga fungsi yaitu; Fungsi meningkatkan mutu pembelajaran, fungsi memicu unsur yang terkait dengan pembelajaran dan fungsi membina dan memimpin.

Seorang pendidik hendaknya memastikan suatu proses pembelajaran terlaksana dengan baik dan mencapai tujuan pembelajaran. Pencapaian tujuan pembelajaran adalah salah satu indikator dalam pelaksanaan pembelajaran yang efektif. Peningkatan sumber daya pendidik yang berkualitas perlu dilakukan secara terprogram, terstruktur dan berkelanjutan melalui pembinaan profesional yang dilakukan kepala sekolah selaku manager sumber daya manusia. Melalui supervisi akademik kepala sekolah mampu menampung berbagai masalah yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran untuk dapat menemukan cara-cara pemecahan permasalahan. Esensi supervisi akademik membantu para pendidik mengembangkan kemampuan profesionalismenya.

Permasalahan yang kita temui di sekolah saat ini adalah bagaimana pengoptimalan pelaksanaan pembelajaran di masa pandemi Covid-19 ini. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa masa pandemi ini menuntut terjadinya perubahan pada sistem pembelajaran yang semula berupa pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran yang lebih memanfaatkan ICT, atau sering disebut pembelajaran Daring (dalam jaringan).

Menurut Unesco dalam Wahyono (2020), siswa dapat berperan sebagai penyebar dan pembawa virus Covid-19 yang berkemungkinan dapat menularkan kepada orang lain sehingga akan mempercepat penyebaran virus. Untuk memutus mata rantai penyebaran virus maka dilakukan, protokol kesehatan yang mengharuskan setiap individu melakukan social dan physical distancing.  Bagi Kepala sekolah hal ini berdampak terhadap pelaksanaan supervisi yang dilakukan. Supervisi tidak bisa dilakukan dengan cara kunjungan kelas lagi melainkan perlu ditambah ataupun diganti dengan teknik supervisi yang lain.

Dalam rangka memastikan bahwa pembelajaran dilaksanakan dengan baik dan peserta didik tetap mendapatkan pembelajaran secara utuh maka diperlukan supervisi akademik terkait pelaksanaan pembelajaran di masa pandemi. Terjadinya perubahan pembelajaran yang disesuaikan dengan masa pandemi ini secara tidak langsung membuat supervisor mencari solusi dalam melakukan kontrol kualitas salah satunya melalui supervisi dengan membuat form jadwal kegiatan aktivitas mingguan pendidik pada pasa pandemi dan melakukan supervisi dengan teknik observasi, diskusi pribadi, dan pengecekan sumber belajar. Dalam penerapannya, pendidik diwajibkan mengisi form aktifitas mingguan baik dalam jaringan (daring) ataupun luar jaringan (luring).

Dari data tersebut kepala sekolah bisa melihat dan mengamati kegiatan pendidik dari awal pembelajaran, perangkat pembelajaran, dan aktivitas pembelajaran. Tuntutan menyediakan perangkat pembelajaran yang disesuaikan dengan waktu pembelajaran dan pencapaian tujuan dalam keterbatasan di masa pandemi menyebabkan pendidik menjadi semakin kreatif dalam membuat inovasi pembelajaran menggunakan model, metode, maupun media yang sesuai untuk pembelajaran masa pandemi yang efektif dan efisien. Pelaksanaan tindakan supervisi dibantu form jadwal kegiatan mingguan dan supervisi yang dilakukan secara pribadi dengan teknik observasi dapat memperbaiki mutu mengajar pendidik, membina pertumbuhan profesi pendidik dalam arti luas termasuk pengadaan fasilitas yang menunjang kelancaran pembelajaran serta meningkatkan kualitas pendidik dalam hal pengetahuan, keterampilan, evaluasi pengajaran, pemilihan dan penggunaan metode mengajar.

Guru juga sangat menentukan keberhasilan peserta didik terutama dalam kaitannya dengan proses pembelajaran. Guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, upaya perbaikan apapun yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan memberikan sumbangan yang signifikan tanpa didukung oleh guru yang profesional dan berkualitas. Dengan kata lain, perbaikan kualitas pendidikan harus berpangkal dari guru dan berujung pada guru pula (Mulyasa, 2007: 5).

Baca Juga:   Negatif Covid-19, Mendikbud Ajak Masyarakat Lakukan Pembatasan Sosial

Komponen yang penting dalam menentukan keberhasilan peserta didik selain guru yaitu proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Pembelajaran secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah usaha mempengaruhi emosi, intelektual, dan spiritual seseorang agar mau belajar dengan kehendaknya sendiri. Menurut Sagala (2010: 61) “pembelajaran adalah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama pendidikan”. Melalui proses pembelajaran diharapkan adanya perubahan perilaku peserta didik ke arah yang lebih baik. Perubahan perilaku tersebut dapat meliputi aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan. Kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberdayakan semua kompetensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan (Majid, 2008: 24). Supaya proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara optimal dan berkualitas maka perlu suatu perencanaan yang matang oleh guru.

Suatu perencanaan memiliki peranan penting dalam memandu guru untuk melaksanakan tugas sebagai pendidik dalam melayani kebutuhan belajar peserta didiknya. Guru yang berkualitas akan selalu menyusun suatu perencanaan untuk proses pembelajarannya, sehingga tidak ada alasan guru ketika mengajar di kelas tanpa perencanaan pembelajaran. Salah satu aspek dalam perencanaan pembelajaran yaitu guru menyusun suatu perangkat pembelajaran yang akan digunakan selama proses pembelajarannya.

Perangkat pembelajaran merupakan segala sesuatu yang akan digunakan guru sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran. Guru berperan penting dalam pembelajaran di kelas, guru bertanggung jawab langsung dalam upaya mewujudkan tujuan pembelajaran. Guru juga bertugas menyusun perangkat pembelajaran pada tingkatan pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang disusun oleh guru berfungsi untuk memudahkan guru dalam melaksanakan atau mengelola kegiatan pembelajaran yang ada di kelas.

Dalam penyusunan perangkat pembelajaran guru harus mampu mempersiapkan segala sesuatunya supaya pembelajaran berlangsung secara optimal. Guru sebagai pelaksana pembelajaran diharapkan mampu untuk menyusun perangkat pembelajarannya secara mandiri. Oleh karena itu guru harus menyusun perangkat pembelajaran seperti silabus, RPP, penilaian, bahan ajar dan media pembelajaran. Guru dituntut untuk menyusun perangkat pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik sekolah tersebut dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik sehingga kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara efektif dan efisien. Guru dalam penyusunan perangkat pembelajaran tidak jarang menemukan permasalahan- permasalahan.

Berdasarkan observasi selama selama menjadi Kepala Sekolah baru diangkat di UPTD SPF SDI Gorang , ditemukan beberapa permasalahan antara lain dalam penyusunan silabus, komponen pada silabus tidak terisi secara lengkap dan jelas. Misalnya pada bagian sumber atau bahan belajar hanya ditulis buku tematik pengembangan guru. Rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun oleh guru kurang sesuai dengan yang dilaksanakan ketika pembelajaran di kelas. Misalnya dalam RPP ditulis kegiatan peserta didik melakukan praktikum atau percobaan, tetapi ketika pembelajaran di kelas tidak dilaksanakan oleh guru. Pada aspek penilaian format penilaian tidak dijelaskan secara rinci. Misalnya pada aspek penilaian kognitif, bentuk instrumen soal uraian dan objektif, tetapi soal yang dicantumkan hanya berupa soal uraian saja. Penilaian afektif belum dilengkapi dengan rubrik penilaiannya.

Berdasarkan wawancara secara internal dengan dua teman guru senior dan yunior bahwa tidak adanya standarisasi dari pemerintah tentang perangkat pembelajaran sehingga dalam penyusunannya sesuai dengan persepsi oleh masing-masing guru. Selain itu, tugas dan tanggung jawab guru yang banyak dalam kegiatan di kelas maupun di sekolah sehingga guru memiliki keterbatasan waktu untuk menyusun perangkat pembelajaran sehingga dalam penyusunan perangkat pembelajaran kurang optimal. Guru hanya terfokus pada bahan ajar yang tersedia dari sekolah. Kepala sekolah juga menjelaskan bahwa dari pihak sekolah sudah berusaha memfasilitasi media pembelajaran tetapi jumlahnya sangat terbatas.

Perangkat pembelajaran seharusnya disusun oleh guru sebelum melaksanakan pembelajaran di kelas. Perangkat pembelajaran yang disusun guru meliputi silabus, buku ajar, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), penilaian dan media pembelajaran. Guru dalam penyusunan perangkat pembelajaran tentunya menyesuaikan dengan kondisi sekolah dan karakteristik peserta didik. Silabus yang disusun oleh guru disesuaikan dengan kondisi lingkungan belajar daerah setempat. Guru dalam penyusunan RPP mengembangkan aspek dalam RPP sesuai dengan karakteristik peserta didik, RPP yang telah disusun juga dilaksanakan secara nyata dalam pembelajaran di kelas. Sehingga tidak ada perbedaan yang signifikan antara yang ditulis dalam RPP dengan yang dilaksanakan di kelas.

Penilaian yang dilakukan oleh guru disusun secara lengkap dan jelas, serta mencakup secara keseluruhan dari aktivitas peserta didik ketika proses pembelajaran. Serta penilaian yang dilakukan guru mencakup aspek afektif, kognitif dan psikomotorik peserta didik. Dalam menunjang proses pembelajaran supaya optimal guru perlu mengembangkan bahan ajar bagi peserta didik. Guru seharusnya tidak hanya menggunakan bahan ajar yang tersedia di sekolah, tetapi guru dapat mencari bahan ajar lain dari buku-buku yang relevan maupun dari internet. Selain itu, untuk memudahkan peserta didik dalam proses pembelajaran guru dapat memanfaatkan media pembelajaran yang tersedia di sekolah. Jika di sekolah kurang memadai dalam menyediakan media pembelajaran guru dapat merancang media pembelajaran secara mandiri.

Pembelajaran online yang diterapkan pada masa pandemi Covid-19 merupakan strategi baru yang diterapkan untuk melanjutkan kegiatan belajar mengajar antara pendidik dan siswa yang dapat dilaksanakan dari rumah, kegiatan tersebut tidak lepas dari penggunaan media internet agar dapat efektif dalam penerapannya. Pada pelaksanaannya siswa dan guru tidak perlu lagi melakukan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di ruang kelas, namun kini sudah bisa belajar dengan sistem pembelajaran online. Guru memberi tugas harian sebagai sarana pemerolehan nilai siswa yang akan dicantumkan dalam rapor. Penilaian tersebut sebagai acuan tercapainya tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diharapkan di tengah wabah virus Covid-19.

Baca Juga:   Politeknik Pariwisata Bali Gelar Wisuda ke-XXVI

UPTD SPF SDI Gorang  menerapkan kegiatan pembelajaran online dalam mengatasi permasalahan pendidikan pada masa pandemi Covid-19 ini, ikut berperan serta dalam penanganan masalah belajar dari rumah dalam rangka pencegahan tersebarnya virus corona atau Covid-19. Seluruh sekolah dasar di Kabupaten Flores Timur secara serentak melakukan kegiatan pembelajaran di rumah, yakni melalui pembelajaran online atau daring.

Berdasarkan uraian di atas peneliti ingin mengetahui secara lebih mendalam mengenai permasalahan yang dihadapi guru terkait dengan penyusunan perangkat pembelajaran serta solusi dari permasalahan tersebut di UPTD SPF SDI Gorang . Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti berjudul “Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Dalam Pembuatan Kelengkapan Perangkat Pembelajaran Daring Melalui Supervisi Kepala Sekolah Di UPTD SPF SDI Gorang  Tahun Pelajaran 2021/2022”.

Tujuan dalam penelitian tindakan sekolah ini adalah: Untuk mengetahui peningkatan kemampuan guru dalam pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring melalui supervisi Kepala Sekolah Di UPTD SPF SDI Gorang  Tahun Pelajaran 2021/2022.

Dari penelitian tindakan sekolah ini dapat memberikan manfaat kepada berbagai pihak: 1) Sebagai bahan informasi dan masukan bagi Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Flores Timur untuk meningkatkan komptensi guru dalam pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring; 2) Sebagai masukan bagi kepala sekolah dalam pelaksanaan supervisi akademik untuk meningkatkan komptensi guru dalam pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring; 3) Sebagai penambah wawasan dan pendorong bagi guru untuk dapat lebih meningkatkan kemampuan dalam menyusun dan pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sekolah (Action Research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah proses pembelajaran di sekolah. Penelitian ini menggambarkan bagaimana suatu teknik Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dilaksanakan di UPTD SPF SDI Gorang. Penelitian Tindakan sekolah ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2021/2022 adapun waktu penelitiannya adalah Agustus sampai dengan Oktober 2021. Subjek penelitian adalah guru UPTD SPF SDI Gorang sebanyak 9 orang guru yang terdiri dari 6 orang guru PNS dan 3 orang guru honorer. Tehnik dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, diskusi dan studi dokumentasi sedangkan alat pengumpulan data dalam Penelitian Tindakan sekolah ini sebagai berikut: (a) wawancara menggunakan panduan wawancara untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki guru tentang pembuatan perangkat pembelajaran daring, (b) observasi menggunakan lembar observasi untuk mengetahui komponen-komponen pembuatan perangkat pembelajaran daring yang dibuat oleh guru, (c) diskusi dilakukan dengan maksud untuk sharing pendapat antara peneliti dan guru (d) studi dokumentasi.

Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Sekolah (PTS). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, dengan menggunakan tehnik persentase untuk melihat peningkatan yang terjadi dari siklus ke siklus. “Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subjek/objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat,dan lain lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Kemmis dan Mc Taggart dalam Mohammad Asrori (2019) menjelaskan proses penelitian dilaksanakan bersiklus, setiap siklusnya terdiri dari empat tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, (4) refleksi.

Penelitian tindakan sekolah (PTS) merupakan penelitian yang bersiklus, artinya penelitian dilakukan secara berulang dan berkelanjutan sampai tujuan penelitian tercapai. Alur kegiatan Penelitian tindakan sekolah dapat dilihat pada gambar berikut:

Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui teknik non tes, dengan menggunakan instrumen pengumpul data yaitu lembar observasi. Lembar observasi digunakan untuk mengetahui jumlah guru yang pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring dan persentasenya. Teknik Analisis Data menggunakan Teknik persentase.Teknik persentase digunakan menganalisa data jumlah guru dalam pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring dengan rumus :

HASIL PENELITIAN

1.       Profil Sekolah

Berdasar dokumen Buku Profil UPTD SPF SDI Gorang, bahwa UPTD SPF SDI Gorang tercatat dengan akreditasi B dengan menggunakan Kurikulum 2013. Pada tahun Pelajaran 2021/2022 UPTD SPF SDI Gorang memiliki jumlah rombongan belajar 6 kelas, dengan jumlah siswa dengan jumlah total 129 yang terdiri dari 92 laki-laki dan 37 perempuan. Dalam pelaksanaan pembelajaran UPTD SPF SDI Gorang beranggotakan guru berjumlah 9 orang dan 1 tenaga kependidikan.

2.      Penelitian Siklus I

a. Perencanaan Tindakan

    1. Menyusun instrumen pembinaan melalui supervisi Kepala
    2. Menyusun Instrumen
    3. Pertemuan dengan 9 guru di UPTD SPF SDI Gorang .
    4. Peneliti membuat format/instrument pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring dan rekapitulasi hasil penilaian.
    5. Menentukan jadwal pertemuan
    6. Melaksanakan supervisi           akademik         dalam   pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring pada siklus pertama.
    7. Menyiapkan Instrumen         observasi          kemampuan     guru pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring bersama dengan Pengawas.

b. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan siklus I dilaksanakan pada tanggal 03 – 12 September 2021. Pada tahap ini peneliti melaksanakan penelitian sesuai dengan perencanaan yang telah direncanakan peneliti. Peneliti memberikan jadwal pembinaan kepada guru-guru di sekolah. Setelah semua guru sepakat dengan jadwal, maka peneliti melakukan penelitian dengan memberikan pembinaan. Guru melaksanakan simulasi pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring, sedangkan peneliti sebagai Kepala Sekolah menginterpretasikan dan mengevaluasi. Dalam hal ini tindakan dilakukan oleh peneliti dengan mengikuti guru sehingga peneliti perlu memberikan pengarahan dan pemodelan pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring agar tindakan benar- benar tepat dan sesuai dengan rencana.

Baca Juga:   Kemendikbud Apresiasi Dukungan Kampus Kepada Mahasiswa Selama Lakukan Pembelajaran dari Rumah

c. Observasi

Berdasarkan hasil observasi terhadap 9 orang guru memiliki nilai rata-rata keseluruhan mencapai 78,44 dengan persentase keseluruhan 62,50%. Dilihat secara keseluruhan untuk katagori baik ada 6 orang guru atau 66,67%, sedangkan untuk kategori cukup ada 3 orang guru atau 33, 33%. Untuk siklus pertama belum ada guru yang masuk kategori baik sekali.

d. Refleksi

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, nilai rata-rata guru masih berada pada katagori baik dan cukup dan memiliki persentasi keseluruhan sebesar 66,67% belum sesuai dengan indikator kompetensi guru dalam pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring yaitu sebesar keseluruhan ≥ 85%. Sehingga perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya yaitu siklus II.

3.      Penelitian Siklus II

a. Perencanaan Tindakan

Perencanaan siklus II sama dengan perencanaan yang terdapat pada siklus I. Perencanaan yang disiapkan peneliti menyusun strategi pembinaan melalui supervisi kepala sekolah dalam pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring.

b. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan siklus II dilaksanakan pada tanggal 14-26 September 2021. Peneliti melakukan refleksi terhadap perolehan hasil observasi Kepala Sekolah, observasi guru dan nilai yang diperoleh dari hasil kerja individual untuk dicarikan solusi terkait dengan pelaksanaan tindakan pada siklus II. Selanjutnya peneliti menjelaskan secara rinci materi pembuatan perangkat pembelajaran daring dikaitkan dengan prolehan hasil pada siklus I. Pada tahap ini peneliti kemabali melaksanankan penelitian sesuai dengan rencana. Peneliti menyepakati jadwal penembinaan dengan guru-guru dan membagikan jadwal. Kemudian pada waktu yang telah ditentukan, peneliti melakukan pembinaan guru melaksanakan simulasi pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring, sedangkan peneliti sebagai Kepala Sekolah menginterpretasikan dan mengevaluasi. Dalam hal ini tindakan dilakukan oleh peneliti dengan mengikuti guru  sehingga  peneliti  perlu  memberikan  pengarahan  dan  pemodelan pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring agar tindakan benar- benar tepat dan sesuai dengan rencana.

c. Observasi

Pada tahap observasi peneliti melakukan pengamatan dari 8 orang guru diketahui nilai rata-rata para guru telah mengalami peningkatan secara keseluruhan dengan rata-rata 87,11 dan mengalami peningkatan sebesar 8,67. Persentase kompetensi guru dalam pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring juga mengalami peningkatan jika dibandingkan pada siklus I, dengan persentase 88,89% dan mengalami peningkatan sebesar 22,22%. Jumlah guru-guru yang berada pada katagori baik sekali ada 3 orang guru atau 33,33%. Guru yang pada katagori baik adalah 5 orang guru atau 55,56%. Sedangkan untuk kategori cukup ada 1 orang guru atau 11, 11%. Bila diperhatikan persentase peningkatan dengan nilai rata-rata siklus I, mengalami peningkatan yang signifikan.

d. Refleksi

Hasil observasi yang telah dilakukan pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan baik dari nilai rata-rata maupun persentase guru dalam melaksanakan pembelajaran di UPTD SPF SDI Gorang hasilnya sangat baik. Hal itu tampak pada pertemuan pertama dari 9 orang guru yang ada pada saat penelitian ini dilakukan nilai rata-rata guru adalah 8,67 dan total peningkatan persentase adalah 22,22% hal ini menunjukan usaha perbaikan yang dilakukan peneliti pada siklus II membawa perubahan. Jika dilihat dari 9 jumlah guru yang sudah tuntas dalam arti mampu membuat kelengkapan perangkat pembelajaran daring secara benar sebenyak 8 orang guru atau 88,89%. Sedangkan yang belum tuntas sebanyak 1 orang guru atau 11,11%. Dengan demikian pada siklus II pertemuan kedua ini dianggap telah selesai.

KESIMPULAN

  1. Ada peningkatan kemampuan guru dalam pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring. Hasil pembinaan pra tindakan tentang kemampuan guru dalam pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring didapatkan data bahwa para guru masih kesulitan dalam membuat kelengkapan perangkat pembelajaran daring karena selama ini pembelajaran masih membutuhkan ruang kelas sebagai tempat tatap muka, pelaksanaan pembelajaran dimasa pandemi mengharuskan guru menggunakan aplikasi agar bisa di gunakan siswa secara daring, sedangkan guru dalam menggunakan aplikasi daring juga masih belajar dan jaringan internet yang lemah menjadikan salah satu kendala pengimplementasian pelaksanaan pembelajaran dimasa pandemi.
  2. Melalui supervisi Kepala Sekolah di UPTD SPF SDI Gorang tahun pelajaran 2021/2022 kemampuan guru dalam membuat kelengkapan perangkat pembelajaran daring mengalami peningkatan secara signifikan. Jika pada siklus I total nilai rata-rata keseluruhan hanya kompetensi guru meningkat dari siklus I yaitu persentase ketuntasan 66,67% dan 88,89% pada siklus II guru secara umum dikatakan tuntas dengan total nilai peningkatan rata-rata guru adalah adalah 8,67 dan total peningkatan persentase adalah 22,22% hal ini menunjukan usaha perbaikan yang dilakukan peneliti pada siklus II membawa perubahan. Supervisi akademik efektif digunakan untuk meningkat kompetensi guru di UPTD SPF SDI Gorang dalam pembuatan perangkat pembelajaran daring.
  3. Aktivitas guru menunjukan bahwa kegiatan pembinaan melalui supervisi akademik bermanfaat dan dapat membantu guru di UPTD SPF SDI Gorang meningkatkan kompetensi pedogogiknya.

SARAN

a.      Kepala Sekolah diharapkan lebih intensif mengadakan pembinaan terhadap guru-guru lain baik yang menyangkut dengan persiapan dan pelaksanaan dalam pembuatan perangkat pembelajaran daring pembelajaran dengan baik, sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga menghasilkan pendidikan yang bermutu.

b.     Supervisi akademik merupakan kegiatan yang sangat potensial untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru, karena supervisi akademik mengkaji, menilai, memperbaiki, meningkatkan, dan mengembangkan mutu kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru melalui pendekatan bimbingan dan konsultasi dalam nuansa dialog profesional, sehingga bagi kepala sekolah lainnya sangatlah baik jika supervisi ini diterapkan disekolah masing-masing terutama dalam upaya meningkatkan kompetensi guru dalam pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring.

c. Dalam pembuatan perangkat pembelajaran daring para guru hendaknya bersungguh sungguh karena pembuatan kelengkapan perangkat pembelajaran daring sangatlah penting dan sangalah berpengaruh untuk peningkatan kualitas pembelajaran. ***

Berita Terkait