Webinar ‘Cek Ombak Bali dan Cimaja’ Promosikan Wisata Selancar Indonesia

Jakarta (Paradiso) – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf/Baparekraf RI) menggelar acara webinar berjudul ‘Surfing Talks: Cek Ombak Bali dan Cimaja’ melalui aplikasi Zoom dan siaran langsung Youtube pada Minggu (8/11/2020).

Acara ini digelar untuk menghimpun informasi tentang kondisi wisata selancar terkini dari pelaku usaha dan komunitas-komunitas terkait, serta untuk mempromosikan berbagai destinasi surfing Indonesia, di antaranya Bali dan Cimaja.

Bali merupakan destinasi selancar yang sudah sangat populer di kalangan peselancar domestik dan mancanegara. Sedangkan Cimaja adalah destinasi selancar di kawasan Sukabumi, Jawa Barat, yang telah mencetak atlet surfing berprestasi di tingkat internasional.

Webinar ini dibuka oleh Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan Kemenparekraf RI Rizki Handayani. Dalam sambutannya ia mengajak masyarakat Indonesia untuk mencoba kegiatan surfing dan berkunjung ke destinasi-destinasi selancar Indonesia yang kaya akan keindahan alam.

“Ke depannya kegiatan ini saya harapkan bisa menggandeng dan memberi kesempatan kepada masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak muda, untuk masuk ke dalam dunia selancar ombak agar bisa lebih mencintai tanah air kita, Indonesia,” jelas Rizki, Minggu (8/11/2020).

Webinar ‘Surfing Talks: Cek Ombak Bali dan Cimaja’ menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan penggiat wisata selancar, yaitu Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PB PSOI) Arya Sena Subyakto, Sekretaris Jenderal PB PSOI Tipi Jabrik, atlet selancar profesional Dede Suryana, pengelola homestay Cimaja Square Al Fathir Muchtar, pengelola usaha papan selancar Elevation Surfboard Syauqi Amrulloh, dan kreator konten Wet Traveler Gemala Hanafiah sebagai moderator.

Keunggulan Destinasi Selancar Indonesia

Indonesia memang memiliki banyak destinasi selancar yang keindahannya bisa dibanggakan di skala global. Hal ini dinyatakan Dede Suryana, atlet selancar profesional asal Cimaja, Jawa Barat, yang telah memenangkan sejumlah kompetisi surfing internasional dan sudah pernah berselancar di berbagai belahan dunia.

“Di luar negeri itu ombak tidak selalu bagus seperti di Indonesia. Misalkan di Prancis, ombaknya hanya bagus selama bulan Oktober sampai Februari, setelah itu tidak ada ombak. Tapi di Indonesia, ombak itu banyak banget, sepanjang tahun ombaknya ada, tinggal pilih mau ke mana,” jelas Dede, Minggu (8/11/2020).

“Misalnya kondisi ombak di Cimaja, itu bisa untuk surfer pemula, advance, dan profesional. Ombaknya konsisten sepanjang tahun, dan lokasinya dekat dengan Jakarta dan Bandung. Banyak ekspatriat dari Jakarta yang liburan weekend ke sini,” lanjutnya.

Keunggulan destinasi selancar Indonesia di skala dunia juga diakui oleh Al Fathir Muchtar, pengelola homestay Cimaja Square yang sudah pernah berselancar ke berbagai negara.

“Setelah mencoba surfing di luar negeri, dengan kondisi airnya yang sangat dingin, hiunya yang besar-besar, favorit saya pribadi adalah ombak-ombak di Indonesia. Kondisi alam seperti Indonesia ini menjadi favorit surfer seluruh dunia,” ujar Fathir, Minggu (8/11/2020).

“Destinasi selancar Indonesia yang sudah saya kunjungi selain Bali dan Cimaja, yaitu Sumatera, Lombok, dan Sumbawa Barat. Ombaknya sangat bagus, dan banyak varian ombak yang bisa dipilih untuk bermacam level, itu adanya cuma di Indonesia,” lanjutnya.

Potensi Pasar Wisata Selancar

Berbagai destinasi selancar Indonesia perlu dikembangkan dengan serius agar bisa menarik potensi pasar surfer mancanegara. Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PB PSOI) Tipi Jabrik Noventin.

“Surfing sebagai sebuah olahraga ini selalu berkembang. Jumlah peserta kompetisi surfing terus bertambah 40 persen setiap tahun. Tidak ada olahraga rekreasi lain yang bertambah secepat ini. Jadi, di dunia ini ada sekitar 366 juta orang yang interested dengan olahraga surfing,” jelas Tipi, Minggu (8/11/2020).

“Tahun 2019 saja wisatawan yang datang ke destinasi surfing Krui, Lampung, ada 41.000 orang. Jadi bisa dibayangkan bahwa potensi surfing itu aktual mendongrak kedatangan jumlah wisatawan mancanegara. Dari Sabang sampai Merauke kita punya semua potensi destinasi selancar untuk meraih porsi dari kunjungan wisatawan mancanegara,” lanjutnya.

Karakteristik pasar wisata selancar dijelaskan lebih lanjut oleh Ketua Umum PB PSOI Arya Sena Subyakto. Menurutnya, surfer mancanegara siap membayar mahal untuk berselancar ke Indonesia meskipun pandemi COVID-19 masih berlangsung.

“Surfer itu cenderung senang ke tempat selancar yang tidak terlalu ramai. Karena itu, di masa pandemi COVID-19 ini justru banyak surfer profesional top dunia yang datang ke Indonesia menggunakan visa bisnis, kalau nggak ke Bali, ke Mentawai, terutama peselancar dari Amerika,” jelas Arya.

Berselancar dengan Protokol Kesehatan

Di masa pandemi COVID-19 wisata selancar dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan. Hal ini diungkapkan Sekretaris Jenderal PSOI Tipi Jabrik.

“Wisatawan surfing ini saya lihat mereka tetap memberikan respect khusus kepada protokol kesehatan yang berlaku di daerah, seperti tidak berkerumun, pergi ke pantai pakai masker, jadi surfer ini sudah cukup aware,” jelas Tipi, Minggu (8/11/2020).

PB PSOI juga sudah membuat panduan pencegahan COVID-19 dalam aktivitas wisata selancar.

“Sebenarnya panduan PSOI ini kita ambil dari panduan surfing di negara lain seperti Australia dan Eropa, jadi mereka sudah sangat aware bahwa surfing itu aman-aman saja kalau dilakukan sesuai panduan. Nanti dari Kemenparekraf akan membuat protokol kesehatan legalnya. Tapi, kalau untuk panduan saja, panduan PSOI ini bisa dipakai,” jelas Tipi.

Acara webinar ‘Surfing Talks: Cek Ombak Bali dan Cimaja diikuti oleh sekitar 130 peserta dari kalangan wisatawan umum, perwakilan pengurus PSOI daerah, dan komunitas selancar dari berbagai wilayah Indonesia. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *