Home News Lulus Terbaik, Namun Tetap Rendah Hati

Lulus Terbaik, Namun Tetap Rendah Hati

by sonny sonny

PARADISO.CO.ID I DENPASAR – Siang itu cuaca terlihat mendung menggantung dilangit Denpasar. Jam kerja di Gedung Pengadilan Negeri Denpasar sudah hampir usai. Tapi Rotua Roosa Mathilda Tampubolon, sang Ketua Panitera di Pengadilan Negeri Denpasar kelihatan masih sangat sibuk melayani tanda tangan berkas-berkas yang masuk di ruang kerjanya. Sebuah ruangan yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran 6 x 4 m², terletak di lantai dasar tepatnya dibelakang ruang sidang Candra di Pengadilan Negeri Denpasar beralamat di Jalan P.B. Sudirman No.1 Denpasar.

Di pojok kiri ruangan itu terletak sebuah meja kerja yang tampak penuh dengan tumpukan berkas perkara, juga bermacam-macam dokumen penting lainnya. Sementara, tepatnya sebelah kanan meja kerjanya kelihatan banyaknya tumpukan berkas-berkas dan dokumen yang berada dalam lemari.

Sambil berkejaran dengan waktu tidak sedikitpun berkas-berkas yang harus ditanda tangani. Terlihat keluar masuk pegawai Pengadilan yang membawa berkas masuk dalam ruangan sang Panitera Ketua.

Selesai menanda tangani banyak berkas-berkas Rotua Roosa Mathilda Tampubolon yang biasa disapa dengan Mathilda berpindah tempat duduk dari meja kerjanya menuju kursi yang biasa digunakan untuk melayani para tamunya.

Sejenak, sambil menghela nafas beberapa detik, perempuan berdarah Batak itu menjelaskan tentang sepak terjang karir dan pendidikannya. Baru-baru ini, Mathilda baru saja lulus terbaik dengan predikat Sangat Memuaskan saat ikut Fit and Proper Test Panitera untuk Kelas 1 A Khusus Tahun 2020 yang dilaksanakan oleh Badan Peradilan Umum Mahkamah Agung.

Walaupun banyak prestasi yang sudah diraihnya dalam karir dan pendidikannya, sosok perempuan rendah hati ini menceritakan bagaimana kisah perjalanan hidupnya ketika tinggal di Jakarta.

Sontak, dia mencerikan betapa sulinya hidup waktu itu, demi mempertahankan hidup ditengah keterbatasan finasial dia harus irit, setiap malam hanya bisa makan semangkok kacang hijau, sementara pagi hari hanya makan nasi uduk seharga 2 ribu rupiah. Namun demikian, tak terputus putusnya ucapan syukur yang keluar dari muluthya. “Saya sangat menyadari bahwa hanya karna sebuah anugerah Tuhan segala usaha saya dibuatnya berhasil,”ucapnya dengan penuh kerendahan hati.

Sehubungan dengan itu, dia juga menceritakan sebuah hal yang tidak pernah dibayangkannya ketika menjadi Panitera Pengganti, karena sebelumnya Mathilda bekerja di Lembaga Pemasyarakatan Wanita di Tanggerang dan pindah ke Kanwil Kehakiman Propinsi Bali tahun 1994. Pada tahun 2000 Pengadilan Negeri Denpasar mengirim surat ke Kanwil Kehakiman Propinsi Bali karena sat itu kekurangan pegawai.

Dari beberapa pegawai yang dipindahakan ke Pengadilan Negeri Denpasar terdapat nama Rotua Roosa Mathilda Tampubolon. Pada tahun 2001 dengan adanya kasus bom Bali, dia diusulkan jadi Panitera Pengganti karena saat itu juga sangat dibutuhkan pegawai yang bisa mengoperasikan laptop. Nah, Karena dia bisa mengoperasikan laptop sejak itulah Mathilda bekerja sebagai seorang Panitera Pengganti di Pengadilan Negeri Denpasar hingga saat ini, walaupun sempat pindah ke Pengadilan Negeri Tabanan dan Singaraja.

Sebelumnya Rotua Roosa Mathilda Tampubolon telah memyelesaikan jenjang pendidikan S1 di Fakultas Hukum Universitas Mahendradata Tahun 1999, sedangkan Magister Hukum diraihnya pada Tahun 2010 di Universitas yang sama.***

Penulis – Bene I Editor – Sonny

 

 

 

You may also like

Leave a Comment