Home Kasus EAPM Tetap Bersikeras Tolak Sebagai Pelaku Paedofil

EAPM Tetap Bersikeras Tolak Sebagai Pelaku Paedofil

by Igo Kleden

DENPASAR|PAARDISO.CO.ID – Terdakwa Emannuel Alain Pascal Maillet (EAPM) yang diduga melakukan praktek paedofil  dan dituntut jaksa 12 tahun penjara dan denda sebesar 100 juta subsider 3 bulan kurungan tetap bersikeras menolak bahwa dirinya adalah seorang paedofil dan pelaku paedofilia.

Melalui kuasa hukumnya, Pande Putu Maya Arsanti, SH terdakwa yang kini mendekam di LP Kerobokan menegaskan bahwa dirinya bukanlah pelaku pedofil seperti yang yang dituduhkan jaksa maupun orangtua korban kepada dirinya.

Dalam pledoi yang akan disampaikannya dihadapan  majelis hakim pada sidang Selasa (6/3), Maya menegaskan akan membuktikan bahwa kliennya bukanlah seorang pedofil seperti yang dituduhkan.

Maya juga  meragukan kliennya melakukan tindak pidana tersebut. Apalagi menurutnya, kliennya memiliki masalah Erectile Dysfunction atau impoten selama lima tahun belakangan ini. Maya juga mengakui dia punya bukti percakapan.

“Saya punya bukti percakapan tanggal 26 sampai 29 (September 2020). Antara klien saya dengan ibu korban. Baik-baik saja. Akhirnya tanggal 29 itu klien saya dimintai paspornya,” ungkapnya.

Setelah itu pada 5 Oktober 2020 kliennya ditahan oleh Polda Bali atas tuduhan kasus pencabulan yang dilakukannya.

Maya melanjutkan selama hidup di empat negara, kliennya tidak pernah tersangkut kasus serupa. Ia menyebutkan pebisnis furniture itu malah dikatakan oleh androlog memiliki masalah Erectile Dysfunction atau impoten selama lima tahun belakangan ini.

“Klien saya itu impoten. Karena stress dalam hal jual beli furniture. Karena stress ini kemudian mulailah dia mengonsumsi obat-obatan penenang, di mana efeknya membuat seseorang itu impoten,” jelas Maya.

Baca Juga:   Teddy : Kasus Direktur PT IHSC Sudah SP3 di Polda Bali

Dikatakannya, kliennya sudah diperiksa kejiwaannya oleh dokter ahli jiwa dan hasil yang keluar menunjukkan bahwa kliennya bukan paedofil. Kliennya disebut sedang dalam kondisi depresi berat dan mengonsumsi obat penenang.

“Kami sudah menghadirkan saksi-saksi dokter,” tegasnya.

Seperti diketahui EAPM diduga melakukan pencabulan di Bali terhadap seorang anak laki-laki berinisila WIL (12).

Dalam tuntutannya, Kepala Seksi Penerangan Kejaksaan Tinggi Bali, A Luga Harlianto, menyampaikan bahwa terdakwa terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Pasal 82 ayat (1) juncto Pasal 76 E Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan kedua atas Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Beberapa barang bukti dalam perkara ini di antaranya helm, baju pelampung, buku komik, papan surfing, beberapa pakaian, celana boxer dan rekaman Closed Circuit Television (CCTV).

“Hal memberatkan tidak mengakui perbuatannya dan bertele-tele. Kemudian korban merupakan berusia anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan, justru terdakwa memanfaatkan kedekatan dengan keluarga korban untuk mendekati korban. Hal meringankan belum pernah dihukum,” jelasnya.

Kasus ini bermula pada 26 September 2020 lalu yaitu enam hari setelah terdakwa tiba di Bali. EAPM diajak oleh ibu korban ke Wake Park di Jalan Pelabuhan Benoa, Kecamatan Denpasar Selatan.

Di lokasi tersebut EAPM jatuh sehingga punggungnya terluka, begitu juga dengan korban WIL. Keduanya kemudian menuju ruang ganti yang berpintu cowboy. Terdakwa membasuh lukanya dan didekati korban. Korban lalu menanyakan kondisi terdakwa. Saat itulah ayah korban sedang lewat dan melihat keduanya sebelum akhirnya meninggalkan keduanya.

Baca Juga:   Terdakwa Linda Fitria Paruntu Menulis Surat Kepada Pangdam IX Udayana

Menyikapi persoalan ini, Ahli Hukum Pidana, Dewi Bunga, menyampaikan bahwa paedofil adalah kejahatan dengan kecenderungan melakukan hubungan seksual atau ketertarikan seksual terhadap anak yang biasanya adalah anak-anak di bawah umur. Anak ini pada dasarnya adalah kelompok rentan yang harus dilindungi.

“Kita harus menjaga psikis anak. Karena anak ini adalah korban. Pelakunya siapa, ya itu yang kita cari kan. Apakah benar pelakunya terdakwa atau orang lain kan seperti itu,” jelasnya.***

Editor – Igo Kleden

Berita Terkait

Leave a Comment