Korban Berharap Jaksa Menuntut Terdakwa Linda Fitria Paruntu Sesuai Jeratan Hukum Yang Berlaku

PARADISO.CO.ID I DENPASAR – Menariknya persidangan terdakwa Linda Fitria Paruntu, karena dipicu dengan sebuah postingan yang diunggah di media sosial (medsos) yang bertuliskan kalimat “Mana orang kaya monyet sama mana orang kaya beneran,” dan akhirnya terdakwa dijerat dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Karena hal itulah, korban Simone Christine Polhutri berharap pada agenda sidang tuntutan jaksa yang rencanannya digelar tanggal 22 September 2020, agar jaksa menuntut terdakwa dengan seadil-adilnya, dan setimpal dengan perbuatannya.

“Jadi sesuai dengan perbuatan, dan hukum yang berlaku, dan saya percaya baik jaksa maupun majelis hakim akan memberikan keadilan itu,”tegas Simone

Jaksa Penuntut Umum (JPU) menjerat terdakwa dengan Pasal 27 ayat (3) Jo Pasal 45 ayat (3) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dalam dakwaan pertama. Serta, Pasal 310 ayat (1) dan ayat (2) KUHP pada dakwaan kedua, serta Pasal 311 ayat (1) KUHP

Masalah ini menjadi menarik bahkan sentris, atau menjadi pusat perhatian setiap kali sidang berlangsung di Pengadilan Negeri Denpasar. Mau tidak mau, suka tidak suka setiap persidangan terdakwa Linda Fitria Paruntu harus duduk dikursi pesakitan.

Awalnya, persoalan ini dipicu oleh sebuah postingan di medsos dengan kalimat “Mana orang kaya monyet sama mana orang kaya beneran” yang di-posting terdakwa Linda Fitria Paruntu.

Walaupun sudah merasa dihina dengan sebuah postingan di medsos tersebut. Namun korban Simone Christine Polhutri tetap berjiwa besar untuk memaafkan terdakwa.

Sifat rendah hati dan berjiwa besar tersebut ditunjukkan korban saat agenda sidang menghadirkan saksi ahli bahasa pada persidangan sebelumnya. Yang mana, korban sempat berdiri di depan ruang sidang, atas perintah majelis hakim I Wayan Sukradana, dan memaafkan apa yang telah dilakukan terdakwa.

Tetapi kata maaf tersebut bukan berarti harus menghentikan proses persidangan yang nanti akan digelar dengan agenda tuntutan jaksa pada tanggal 22 September 2020.

Kepada wartawan paradiso.co.id korban Simone Christine Polhutri menjelaskan, pada prinsipnya sebagai manusia saya memaafkan, tetapi tidak untuk perbuatan yang telah dilakukan terdakwa, karena sebagai orang yang sudah dewasa dia sudah mengetahui konsekuensi dari segala perbuatannya. Dan tidak bisa hanya dengan alasan tertentu sehingga terdakwa yang secara sengaja memposting penghinaan tersebut harus bebas dari jeratan hukum yang didakwakan kepadanya oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Sebagai manusia saya memaafkan tapi untuk memberi pelajaran harus ada efek jera, karena itu harus berhati-hati bermain medsos,” tegas Simone.

Ditambahkan pula, bahwa kalau hanya memberikan maaf itu bukan hal yang sulit, tetapi jejak digital yang sudah terekam oleh setiap orang yang membaca, atas postingan penghinaan tersebut tidak bisa dihilangkan dengan kata maaf,”tambah Simone.***

Penulis – Bene I Editor – Sonny 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *