Terdakwa Linda Fitria Paruntu Menulis Surat Kepada Pangdam IX Udayana

PARADISO.CO.ID I DENPASAR – Terdakwa Linda Fitria Paruntu menulis surat kepada Panglima Komando Daerah Militer IX Udayana, karena merasa takut dan terintimidasi saat melihat beberapa anggota TNI hadir memakai seragam loreng di ruang sidang Pengadilan Negeri Denpasar.

Linda Fitria Paruntu menjadi terdakwa, karena unggahannya di media sosial yang menyebutkan “mana orang kaya monyet sama orang kaya beneran”.

Karena itulah, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menjerat terdakwa Linda Fitria Paruntu dengan Undang-Undang nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Menariknya, pada sidang yang beragendakan menghadirkan saksi, yang mana korban sendiri sebagai saksi korban yang memberikan kesaksiannya, namun kemudian oleh hakim I Wayan Sukrada berhasil menyarankan untuk saling memaafkan antara kedua belah pihak, dan akhirnya kedua pihak bersedia memaafkan dan saling bersalaman pada sidang yang digelar (27/7/2020)

Namun, disisi lain, suasana sidang pada saat itu sempat membuat terdakwa Linda Fitria Paruntu merasa terintimidasi secara fisik dan psikis, karena pihak korban saat itu membawa beberapa anggota TNI berseragam (loreng) berada dalam ruangan sidang.

Karena merasa ketakutan itulah terdakwa mengirim surat kepada Panglima Komando Daerah Militer IX Udayana.

Dalam surat Linda Fitria Paruntu pada paragraf pertama menyebutkan ,”Melalui surat ini saya menyampaikan pengaduan dan sekaligus permohonan perlindungan hukum kehadapan Bapak Panglima Komando Daerah Militer (KODAM) IX Udayana atas peristiwa pada hari Selasa, tanggal 28 Juli 2020, Pukul ± 10.30 Wita-± 11.30 Wita, bertempat di Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri Denpasar,”sebut Linda isi surat tersebut.

Dalam suratnya kepada Panglima Komando Daerah Militer IX Udayana, Linda Fitria Paruntu menyebutkan beberapa poin yang menjelaskan mengenai kronologis kejadian ketika itu.

“Bahwa Saya sebagai Warga Negara Indonesia yang memiliki hak dan kedudukan hukum yang sama dengan Warga Negara Indonesia lainnya di depan hukum merasa terintimidasi/tertekan/terancam baik secara fisik dan pskhis di ruang publik tempat mencari keadilan atas kehadiran sejumlah orang yang berseragam dinas militer lapangan/berseragam hijau loreng dan beberapa yang berpakain non dinas,”menurut isi surat tersebut 

Sedangkan dalam isi surat pada poin ketiga menyebutkan, “Bahwa kehadiran sejumlah orang yang berseragam dinas militer lapangan/berseragam hijau loreng dan beberapa yang berpakain non dinas turut menyertai/mengawal saksi Korban SIMONE CHRISTINE POLHUTRI untuk memberikan keterangan sebagai saksi di depan persidangan,”tulis Linda dalam suratnya.

Sementara dalam surat yang dibuat terdakwa Linda Fitria Paruntu pada poin keempat menjelaskan, “Bahwa setahu saya, Sdri. SIMONE CHRISTINE POLHUTRI adalah sebagai  warga sipil dan tidak berkapasitas sebagai pihak/pejabat pada instansi militer, sehingga dengan  kedatangannya yang disertai dengan sejumlah orang yang berseragam dinas militer lapangan/berseragam hijau loreng dan beberapa yang berpakain non dinas dari sejak kedatangannya hingga turut berada di dalam ruang sidang selama proses sidang berlangsung membuat Saya merasa terteror,”jelas Linda dalam isi suratnya.

Sebelum mengakhiri surat tersebut pada poin kelima Linda Fitria Paruntu memohon dalam suratnya, “Bahwa untuk itu Saya memohon perhatian dan konfirmasi kepada Bapak Panglima Komando Daerah Militer IX Udayana, apakah ada aturan hukum /sanksi hukumnya bagi aparat militer yang pada saat jam dinasnya justru melaksanakan tugas mendampingi orang/warga sipil yang sedang berurusan masalah pribadi di Pengadilan,”tulis Linda kepada Pangdam IX Udayana.***

Penulis – Bene I Editor – Sonny

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *